Oleh Br. Selastinus Hermianto
Setiap kali mengantar anak asrama untuk berobat ke Balai pengobatan saya sering ngobrol dengan dokternya. Bahan obrolan berasal dari yang sederhana sampai komplek, dan dari segi manusiawi sampai Ilahi, misalnya menyangkut panggilan hidup. " Der, Romo itu kayak selebritis ya, " kata dokter itu dalam suatu perbincangan. Maksud dokter?' tanya saya. Lihat saja, seluruh umat kenal , banyak dicari orang dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Sedangkan bruder tidak banyak dikenal orang. Apa bruder tidak ingin jadi Romo? lanjutnya. " Tidak", saya tidak ingin menjadi seorang Romo,' jawab saya tegas. itulah salah satu petikan perbincangan kami. Dokter berani menanyakan itu karena sudah mengenal saya.
Pengalaman ini tidak lagi sebagai wacana bagi saya. Saya telah mengalami sendiri secara langsung menghadapi orang yang menanyakan tentang pilihan hidup saya sebagai bruder. Menurut saya, seolah olah setiap bentuk panggilan entah menjadi Romo, bruder, suster adalah kedudukan dan prestise, padahal suster, bruder, romo serta berkeluarga adalah panggilan hidup, atau cara hidup. Kita semua menyadari bahwa setiap pilihan pasti memiliki kebaikan/keuntungan dan resiko/tantangan. Tantangan yang sama jika dihadapkan pada beberapa orang pasti ditanggapi berbeda, ada yang mengatakan itu tidak berarti lagi, bagi yang lain mungkin juga bahwa itu adalah sesuatu yang berat.
Kebanggaan merupakan suatu nilai yang turut berperan dan menentukan umur serta kualitas panggilan. Kita semua sudah mengerti bahwa bangga terhadap kemampuan diri akan mendorong kesetiaan untuk menekuni dan mengembangkan kemampuan itu. Bangga terhadap panggilan/pilihan kadang terasa pasang surut jika hal tersebut tidak didasari pembiasan diri yang akhirnya akan menuju pada milik pribadi/ diri. Bangga terhadap pilihan dan menekuninya tentu tidak mudah. Menumbuhkan rasa bangga pada panggilan perlu waktu dan proses, terlebih bangga terhadap suatu pekerjaan, sesama saudara/sahabat dalam komunitas dan aturan komunitas. Oleh karena itu kita perlu membangun suatu komunikasi.
Komunikasi dan penerimaan yang baik akan menumbuhkan rasa aman dalam komunitas. Komunikasi hati akan menyentuh hal-hal mendasar dalam pribadi seserang yang tidak jarang menumbuhkan sikap saling percaya. Jika sikap ini terbangun, hidup bersama akan tampak membahagiakan karena ada bentuk dukungan dari sesama. dari sinilah kita akan memiliki rasa bangga atas pilihan kita karena memang ada yang patut kita banggakan . Kita bangga pada saudara kita yang mendukung kita. Kita bangga pada komunitas kita yang indah dan sejuk, kita bangga pada pilihan kita karena masih boleh dipercaya untuk bertekun dan setia sampai saat ini.