Senin, 06 Pebruari 2012  - 8 User Online  




Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC


30.07.2007 11:10:45 1285x dibaca
BANGGA PADA PILIHAN
Oleh Br. Selastinus Hermianto

Setiap kali mengantar anak asrama untuk berobat ke Balai pengobatan saya sering ngobrol dengan dokternya. Bahan obrolan berasal dari yang sederhana sampai komplek, dan dari segi manusiawi sampai Ilahi, misalnya menyangkut panggilan hidup. " Der,  Romo itu kayak selebritis ya, " kata dokter itu dalam suatu perbincangan. Maksud dokter?' tanya saya. Lihat saja, seluruh umat  kenal , banyak dicari orang dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Sedangkan bruder tidak banyak dikenal orang. Apa bruder tidak ingin jadi Romo? lanjutnya. " Tidak", saya tidak ingin menjadi seorang Romo,' jawab saya tegas. itulah salah satu petikan perbincangan kami. Dokter berani menanyakan itu karena sudah mengenal saya.

      Pengalaman ini tidak lagi sebagai wacana bagi saya. Saya telah mengalami sendiri secara langsung menghadapi orang yang menanyakan tentang pilihan hidup saya sebagai bruder. Menurut saya, seolah olah  setiap bentuk panggilan  entah menjadi Romo, bruder, suster adalah kedudukan dan prestise, padahal suster, bruder, romo serta berkeluarga adalah panggilan hidup, atau cara hidup. Kita semua menyadari bahwa setiap pilihan  pasti memiliki kebaikan/keuntungan dan resiko/tantangan.  Tantangan yang sama jika dihadapkan  pada beberapa orang pasti ditanggapi  berbeda, ada yang mengatakan itu tidak berarti lagi, bagi yang lain mungkin juga bahwa itu adalah sesuatu yang berat.

Kebanggaan merupakan suatu nilai  yang turut berperan  dan menentukan umur serta kualitas panggilan. Kita semua sudah mengerti bahwa  bangga terhadap kemampuan diri  akan mendorong kesetiaan  untuk menekuni dan mengembangkan kemampuan itu. Bangga terhadap panggilan/pilihan  kadang terasa pasang surut  jika hal tersebut tidak didasari  pembiasan diri yang akhirnya akan menuju pada milik pribadi/ diri. Bangga terhadap pilihan  dan menekuninya tentu tidak mudah. Menumbuhkan rasa bangga pada panggilan  perlu waktu dan proses, terlebih bangga terhadap suatu pekerjaan, sesama saudara/sahabat dalam komunitas dan aturan komunitas.  Oleh karena itu kita perlu membangun suatu komunikasi.

Komunikasi dan penerimaan yang baik  akan menumbuhkan rasa aman dalam komunitas. Komunikasi hati akan menyentuh  hal-hal mendasar  dalam pribadi seserang yang  tidak jarang  menumbuhkan sikap saling percaya. Jika sikap ini terbangun, hidup bersama akan tampak membahagiakan karena ada bentuk dukungan dari sesama. dari sinilah  kita akan memiliki rasa bangga  atas pilihan kita karena memang  ada yang patut kita banggakan . Kita bangga pada saudara kita yang mendukung kita. Kita bangga pada komunitas kita yang indah dan sejuk, kita bangga pada pilihan kita karena masih boleh dipercaya untuk bertekun dan setia  sampai saat ini.





6 KOMENTAR
03.08.2007 23:36:57
Ya, hidup adl pilihan dan pilihan adl resiko. Bukankah karya Bro beda dgn Pastur. Saya setuju, cara dan pilihan hidup org adl masing2.Banyak seklai pilihan dlm hidup ini. Yang pasti pilihan itu dpt di jalankan dgn baik, penuh tgjwb dan dapat membahagiakan.bukan bgtu Bro?
EMANUEL DANIA/IWAN-SOLO  
05.08.2007 08:29:19
Bangga pada panggilan tidaklah cukup hanya sekedar bangga, bruder! Tetapi juga perlu dilandasi oleh tekad yang kuat dalam menjalani panggilan yang telah dipilih . Kebulatan tekad dan kesetiaan menjadi pondasi kuat serta kompas untuk dapat sampai pada tujuan. Berani mengapresiasikan diri di tengah masyarakat tanpa memperhatikan momok merupakan bukti eksistensi seorang bruder, disinilah letak bangga diri menjadi seorang bruder.
Salam hangat dari saudaramu
Robert, Yogya.

ROBERT  
11.08.2007 09:58:16
sebagai mahasiswi saya kurang setuju dengan pandangan demikian. masing-masing orang mempunyai jalan yang berbeda-beda. namun janganlah putus ada meski tidak dikenal atau bahkan dianggap kelas dua. masalahnya kelas dua lantas dihubungkan dengan kemampuan akademik, jenjang intelektual. waktu FIC mempunyai bruder doktor pertama kali seorang pastur SJ berseloroh, S-3 diperoleh dari mana. lantas ketika tahu dari sebuah negara berkembang pastur tersebut dengan nada mencibir mengatakan kalau begitu yang doktornya FIC belum sekelas doktornya SJ. Nah lho jika demikian memang masih banyak orang memandang bruder kelas dua. namun saya mau juga berinteraksi dengan bruder karena saat ini tengah mempertimbangkan masuk biarawati meski sudah ada pacar.
MARIA SINTA OKTAVIANI  
13.08.2007 02:23:01
Tanggapan saya kalau memang tidak mantap menjadi bruder mengapa tidak keluar saja. Banyak bruder tidak menikmati panggilan sebagai bruder dan membanding-bandingkan dengan bentuk hidup lain seperti Bapak atau Pastur. Jelas tidak bisa begitu. Jika memang tidak mantap sebagai bruder lebih baik keluar dan memilih hidup yang tepat. Tidak bisa mendua hati mendapat fasilitas kebiaraan dari biara seperti keuangan, pekerjaan dan kendaraan tetapi juga mempunyai sahabat-sahabat khusus yang menjurus kepada pacaran atau teman dekat. Hal semacam ini tidak sehat karena seorang bruder tidak boleh memperoleh kehangatan dari luar Tuhan Yesus dan sesama sebiara. Jika sudah ada pikiran mendua hati lebih baik ambil sikap yang tegas. Seorang yang mendua hati tidak cocok tinggal dan makan di biara.
BR. PARJAN  
23.08.2007 21:45:06
Yah....begitulah! Pro dan kontra selalu ada! Tapi, kalau menjadi bruder juga tak dapat menjadikan diri berdedikasi, tetap saja akan dipandang rendah! Dedikasi itu terlebih keunggulan dalam hal membangun hidup rohani dan panggilan. Jika komitmen itu tak dibangun, alamat mampus! Sudah dipandang kelas dua, eh...dari pihak bruder sendiri tak mau membangun diri. So? Capek deh.....
IRAZ  
29.01.2008 01:45:31
br. Selas, aku pernah baca artikel anda dalam komunikasi dan aku tau ini hanya berupa refleksi anda dan bukan karena anda merasa terganggu. harapanku, renungkan lagi bahwa menjadi bruder adalah pilihan Allah yang dipersiapkanNya sejak kita dilahirkan
MARKUS YONO  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 3 ms