Senin, 06 Pebruari 2012  - 7 User Online  




Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC


25.03.2008 19:06:26 960x dibaca
SURAT BUAT SIMBOK DI DESA
Oleh Justinus Juadi

Setelah simbok mengantar Milah ke Metropolitan, semuanya terasa asing. Setiap malam yang kupikirkan hanyalah simbok, bapak dan dek Joyo. Milah mulai menempati kontrakan mungil. Tempat untuk melepas lelah dan mengadu nasib setiap harinya. Kontrakan yang kutempati cukup sederhana. Soalnya kalo mencari yang agak longgar biayanya juga mahal.
Milah sering teringat kebiasaan simbok dan bapak di desa. Setiap terang bulan tiba duduk-duduk di emperan rumah. Menikmati jagung bakar dan ubi rebus. Terkadang lek Yem dan tetangga kanan kiri juga ada di situ, membawa kacang godog yang akan dimakan bersama. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada ujung dan pangkalnya. Pepatah jawa “mangan ora mangan kumpul” itu tidak lepas dengan kehidupan desa. Hidup di desa sarat dengan rukun dan guyub.
Kamar mungil itu Milah tempati berdua dengan Anas. Maksud Milah agar biaya kontrakan bisa ditanggung berdua, kan lebih mengirit. Bisa mengumpulkan gaji sedikit demi sedikit setiap bulannya. Milah pun berusaha untuk hidup madya, menyesuaikan antara pengeluaran dan pendapatan perbulan. Paling banter Milah setiap pagi sarapan sama nasi telur dan oseng-oseng sawi. Bagi Milah itu sudah cukup, toh nanti masih mendapat snack dan makan siang di sekolah. Simbok… Milah hanya bisa menambatkan “matur suwung mareng Gusti”. Milah sudah mendapat pekerjaan di ibu kota. Siapa tahu nanti milah diangkat menjadi pegawai tetap yayasan. Untuk menjadi pegawai tetap, Milah harus sabar, melewati masa orintasi, dan masa capeg.

Milah hidup seperti padi gogo yang tidak banyak membuthkan air untuk tumbuh. Bila disiangi dan dipupuk sang pemilik tanaman tumbuh lebat pertanda akan ada hasil yang dipenen. Milah juga berharap seperti itu, Berkembang sebagai guru. Mempunyai pemimpin yang baik, bijaksana, patner guru yang dapat diajak kerja sama. Milah paling tidak kerasan bila menjumpai rekan kerja saling “jotakkan”, ngerasani, penjilat, dan mau menangnya sendiri.
Pengalaman Milah meninggalkan kontrak kerja perusahaan karena terjadi persaingan yang tidak sehat. Kecemburuan sosial yang begitu hebat. Bila atasan berbaik hati terhadap Milah, teman perusahaan curiga.
Simbok…yang paling kunanti adalah masa depan yang pasti. Alih-alih Milah bisa melanjutkan program pasca sarjana. Kita harus percaya pada penyelenggaraan Ilahi mbok! Sebab bagi Tuhan tiada yang mustahil. Buktinya sekarang Milah menjadi guru luar biasa di Jakarta.
Simbok tahu khan siapa sebenarnya Milah itu. Anak desa yang menempuh S1 Ekonomi Akuntasi di Universitas Negeri Islam. Dulu ketika Milah diterima di Universitas ini bapak dan simbok mboten setuju. Dengan alasan takut kalau iman Milah luntur dan murtad. Mendapat jodoh tidak seiman. Simbok… pada saat ujian pendadaran Milah stress. Karena Milah harus mengikuti ujian praktek sholat. Kalau menolak berarti Milah gugur dan harus mengulang lagi. Milah menghadap rektor untuk meminta rekomendasi khusus agar tidak mengikuti ujian praktek sholat tetepi tidak berhasil. “Semua mahasiswa yang kuliah di sini harus mengikuti ujian praktek” itulah jawaban yang diberikan rektor Universitas. Milah sempat konsultasi dengan romo Justin tentang hal itu tetapi jawaban yang diberikan tidak memecahkan masalah. Akhirnya Milah menghadap wakil rektor dan mendapat jawaban yang menyenangkan. Milah boleh tidak mengikuti ujian praktek sholat.

Simbok…Milah semakin percaya akan cinta dan kebaikan Tuhan Yesus. Ia memberikan jalan yang tepat mana kala Milah menghadapi permasalahan yang rumit.
Setiap hari Milah menghadapi anak-anak cacat. Susah diajak berkomunikasi. Setiap hari Milah seperti novena dengan mengucapkan kata-kata “ba…ba…ba…ba…, apakah ada suara”. Menjelang pukul sembilanhampir selalu ada anak yang ngebrok dan pipis di celana. Milah harus menceboki, dan mengganti pakaian. Iman Milah diuji. Iman kan tidak cukup hanya diungkapkan Mbok, iman mesti dijalani dan nampak dalam perbuatan sehari-hari. Yang sangat memprihatinkan anak-anak ini sering mendapt cap dari masyarakat, Anak debil, idiot mambu, bolot dan lain sebagainya.
Gelar sarjana yang Milah peroleh juga tidak segaris dengan ilmu untuk mendidik dan mengajar anak cacat. Tapi itu semua bukan menjadi penghalang untuk meniti karier dan profesi di Jakarta. Milah Sebagai guru harus melaksanakan imannya. Bukan orang yang berseru Tuhan! Tuhan! akan masuk kerajaan Surga, melainkan mereka yang melaksanakan Kehendak-Nya yang ada di surga. Milah rela mencebokki anak-anak karena itu sudah menjadi tanggung jawab Milah sebagai guru.
Simbok…Milah ingin mandiri. Mempersiapkan masa depan di Jakarta. Siapa tahu bisa berhasil dan mengangkat adik-adik, keponakan dan tetangga. Agar mereka tetap bisa terus melanjutkan sekolah.
Anak-anak cacat itu menyimpan mutiara yang indah. Milah banyak belajar dari mereka. Jika ada anak bertengkar dan saling menyakiti mereka mudah sekali untuk akrab. Biasanya Milah hanya mengatakan “ayo minta maaf,” eee…anak-anak itu lekas bersalaman.
Milah berharap anak-anak itu tumbuh dan berkembang menjadi insan berbudi luhur, dapat bersosialisai bersama masyarakat. Meneruskan perusahaan bapaknya.
Jika di desa tidak begitu banyak pekerjaan Milah berharap Simbok dapat tidur lagi di kontrakkan. Tapi jangan sampai jatuh lagi dari amben lagi ya…! Kedatangan simbok menguatkan jiwa dan raga Milah untuk setia mengabdi sebagai guru anak-anak cacat. Milah mendengar hampir selalu ada guru yang keluar dari sekolah ini. Tahun ajaran 2006/2007 ada dua belas guru yang keluar. Entah apa yang menyebabkan mereka masuk dan keluar begitu cepat Ya itulah kenyataannya mbok! Harus dihadapi dengan senang hati. Milah melihatnya dalam perspektif kekuasaan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki Milah pasti langgeng menepis masa depan di Jakarta. Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit, itu lho Mbok sabda Yesus yang sering kita dengar di Gereja.
Judgement (keputusan) itu yang terbaik dalam hidup Milah. Banyak orang mengira guru anak-anak cacat itu guru pengoh, tidak bergengsi. Itu anggapan yang keliru mbok. Milah dan teman-teman juga mempunyai dedikasi tinggi, tak beda jauh dengan sekolah umum. Milah terkagum ketika menjadi guru di sekolah ini. Anak tuli kok bisa omong. Milah mengajar selalu ditemani Sang Guru Sejati, Yesus Putra Daud. Dulu Yesus, membuat mukzijat orang buta dapat melihat, orang kusta menjadi tahir, orang lumpuh bisa berjalan, orang tuli bisa bicara. Nah disinilah keterlibatan Milah sebagai murid-Nya, mengajari anak tuli bisa bicara.
Orang-orang jadi heran pada Milah. Mau-maunya jadi guru anak-anak cacat. “Milah,…IPmu khan 3,9 kok nggak cari kerjaan di tempat lain saja?” Itu pertanyaaan teman-teman kampus mana kala Milah memutuskan untuk mengajar di SLB. Katanya ada orang yang tidak berani mengakui kalau mengajar di sekolah anak-anak cacat. Milah merasa keputusan menjadi guru anak cacat adalah profesi cuma-cuma dariTuhan. Dulu simbok sering berkata “ora apek nampek rezeki’ (tidak bagus menolak rezeki), apalagi pemberian langsung dari Tuhan. Milah mencintai anak-anak walaupun itu bukan dari darah dan daging simbok.
Milah jadi risi saat melihat gadis-gadis kota memakai baju setengah jadi. Transparan. Tidak semua badan tertutup. Di Gereja tempat Milah berdoa saja ada banyak cewek yang berani memakai baju trendy, dan rok mini, jadi kalau duduk “gleprottan”
Di dekat Milah mengajar banyak gedung-gedung pencakar langit, super market, dan Mall. Besok Milah mengajak simbok puter-puter kota. Tapi di Jakarta tidak ada becak, simbok senangnya naik becak to?.
Malam ini Milah mengalami kejadian aneh. Pukul 20.15 WIB Milah kejatuhan cicak. Gelas sudah menyentuh bibir dan teh hangat siap diminum tiba-tiba tumpah. Milah takut ada sesuatu di rumah yang tidak beres. Milah takut penyakit lama bapak kambuh kembali.
Milah hidup sebagai manusia kota. Selalu dekat dengan kecemerlangan dan germerlapnya dunia. Trend dan mode hidup yang glomaur. Tapi milah tidak mau larut dalam kehidupan seperti itu. Veronika Milah Dela Devi tatap menyadari sebagai anak desa. Simbok… doakan Milah agar lekas kerasan dan betah bekerja di Jakarta.
(dimaut di BIANGLALA)




2 KOMENTAR
10.06.2008 07:19:14
saat saya membacanya,saya begitu tersentuh.sudah lama saya juga ingin menjadi guru bagi saudara2 yg kurang mampu tapi karena belum selesai kuliah ya harus ditunda dulu.tapi saya salut tuk para guru di SLB karena saya sendiri merasa tidak sanggup klo harus mengajar saudara2 yg cacat.semangat terus saudara2ku!!
PRAMUDYA  
20.04.2010 21:42:39
Bersyukur tidak harus dengan "syukuran" dalam artian pesta apalagi pesta pora. Milah mensyukuri hidupnya dengan merawat anak-anak penyandang tuna. Kita terlalu sering melihat ke atas, sehingga merasa diri ada di bawah. Coba kita lihat Milah, yang mau melihat ke bawah. Terus terang, saya lelaki, tetapi menitikkan air mata ketika membawa tulisan ini. Milah adalah Tuhan yang hidup di mata para penderita cacat itu.
WIDIYARTONO R.  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 3 ms