08.04.2008 11:14:16 2648x dibaca
KETIKA DEHUMANISASI PENDIDIKAN MENJADI KENDALA Oleh Paulus Mujiran Dehumanisasi merupakan satu masalah mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan saat ini tidak lagi menghormati dan menghargai martabat manusia dan segala hak asasinya. Akibatnya, melalui proses pendidikan peserta didik tidak tumbuh dalam kemanusiaan sebagai subyek. Mereka justru menjadi korban dalam sebuah sistem yang memaksa mereka mengikuti aturan dalam sistem itu. Tak aneh ketika buahnya adalah kekerasan dalam pendidikan yang kian merebak. Peserta didik lebih mendengarkan nasihat televisi, film kartun ketimbang nasihat para gurunya. Bunuh diri, kekerasan guru dan peserta didik, antar peserta didik menjadi ulasan media yang terus-menerus terjadi. Bahkan yang teraktual, di Salatiga Jawa Tengah siswa kelas IV SD membunuh temannya dalam perkelahian (Sinar Harapan, 19/2). Karya-karya spektakuler seperti menjadi juara berbagai ajang perlombaan internasional bukan milik semua peserta didik. Ada semacam kasta dalam pendidikan yang secara berjenjang membagi peserta didik dalam beragam strata. Hampir tidak mungkin dalam sistem pendidikan nasional belakalangan ini, sekolah miskin dengan peserta didik dari kalangan menengah ke bawah mampu mengakses perkembangan modernisasi dan globalisasi. Potret yang paling telanjang para guru tengah mengalami belenggu kemiskinan, finansial, intelektual, emosional, kultural dan spiritual (Anita Lie, 2008). Akibatnya, semakin menjadi kebiasaan guru yang bekerja sampingan sehingga tugas utamanya sebagai pendidik terlupakan, jarang membaca dan belajar, karena terbebani urusan administrasi, cenderung berlaku kasar dan mengumpat, dan pada akhirnya kehilangan identitas dan integritas. Gejala dehumanisasi ini berawal dari ketakutan yang tercipta dari sistem pendidikan nasional Indonesia. Guru sudah terposisikan sebagai peragkat dan sistem yang tidak cukup memberikan penghargaan bagi upaya pembaruan, namun justru sangat menghargai tindakan pengukuhan aturan dan sistem. Cermin yang menonjol adalah guru sebagai inovator dan pelopor perubahan di sekolah lebih suka dengan hal-hal yang bersifat seremonial dan rutin ketimbang mengadakan perubahan yang sifatnya mendasar. Profesi guru merupakan panggilan. Betapapun berat pergumulan untuk memperjuangkan tingkat kesejahteraan, yang membedakan guru sejati dari yang tidak adalah bagaimana mereka masing-masing memaknai profesi keguruannya. Yang satu menjalaninya sebagai panggilan hidup, yang lainnya mencari nafkah. Namun penting dicatat, begitu besarnya tanggung jawab sosial guru sebagai pendidik, mereka tidak bisa ditempatkan sebagai tukang. (Paulus Mujiran, pendidik, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang). 6 KOMENTAR
09.04.2008 02:23:17
Saya suka membaca tulisan-tulisan Anda. Memang saat ini pendidikan menghadapi masalah yang serius. Yayasan-yayasan besar sibuk dengan dana operasional sehingga tidak sempat memikirkan pengembangan dan pembentukan peserta didik. Bagaimanapun juga ancaman pendidikan katolik sangat serius di masa depan, terlebih dengan adanya BOS dan kebijakan sekolah gratis akan mengancam kelangsungan pendidikan katolik yang pada masa lalu cukup berjaya membentuk manusia. Tulisan Anda amat inspiratif untuk memancing ide bagi para pembaca. Meski bukan lagi menjadi bagian dari FIC namun semangat dan kejuagan juga keberpihakan dengan mereka yang lemah tidak lagi diragukan. Proficiat SUROSO 14.04.2008 03:37:30
Menjadi bahaya besar jika mendidik manusia hanya berdasarkan opini. Banyak orang pandai beropini tetapi tidak mempunyai hati apalagi komitmen untuk melaksanakan panggilan mulia itu. Banyak orang menuntuk untuk terciptanya sebuah perubahan, tetapi lupa unjuk kerja untuk berkontribusi secara nyata. Semoga tulisan saudara justru bisa menjadi cermin yang terang untuk melihat muka. Syalom. SANTOSO 14.04.2008 21:36:08
Mendidik bukan sekedar teori atau ngomong ngalor-ngidul. Butuh hati dan ketotalan. Bagaimanakah praktek hidup penulis sendiri sebagai pendidik? Anggota NATO dah banyak lho! ANTON 15.04.2008 11:46:41
bicara masalah pndidikan serasa tidak ada habisnya dan kalau kita sekadar bicara tentu pendidikan kita tidak bisa maju.kita berharap para pengambil kebijakan berpikir serius dalam memutuskan kebijakan sehingga berpihak pada peserta didik disamping para penyelenggara dan penggelola pendidikan bekerja keras demi prestasi dan masa depan peserta didik. tri TRI http://www.konco.org 19.04.2008 02:55:10
saya heran dengan orang yang masih berpikiran picik. betatapun kecil perannya mereka yang membangun wacana dalam pendidikan tidak kalah kecil andilnya dalam membentuk wacana publik. apalagi ketika pendidikan telah bergerak menjadi politik belakangan ini, membangun wacana sangatlah penting. menjadi guru hanya berkutat di kelas tanpa peduli dengan perubahan dalam konteks global pasti akan ketinggalan jaman. semoga orang-orang yang berpikiran sempit tidak berada pada puncak pembuatan kebijakan pendidikan karena pasti tidak akan maju. menjadi guru masyarakat tidak kalah pentingnya dengan mereka yang berada di kelas menghadapi para siswa SUTIMIN |