|
08.09.2008 02:27:25 4266x dibaca
KENANGAN INDAH SEBAGAI GURU Oleh Br. Frans Sugi FIC Pada waktu saya masih di kelas IV SR (Sekolah Rakyat), saya sungguh kagum melihat mereka yang sudah dewasa dan belajar di sekolah menengah, baik yang di sekolah menengah umum maupun secara khusus mereka yang belajar di sekolah kejuruan, terutama lagi mereka yang belajar di SGA. SGA ini kemudian menjadi SPG. Kakak sepupu saya sebagai salah satu siswa SGA Pangudi Luhur (Kidul Loji) Yogyakarta. Senang sekali rasanya hati pada waktu melihat mereka ubyang-ubyung belajar bersama di sore atau malam hari, bersepeda bersama ke tempat belajar. Bersama dengan teman-temannya dari desa-desa sekitar mereka mengayuh sepeda setiap pagi menuju kota Gudeg untuk belajar dan sore hari tiba kembali di desa. Mereka itu ‘nglajo’ (pergi pulang dalam sehari). Di dalam kegiatan di wilayah/kring, mereka itu terlibat sebagai ‘katekis,’ meskipun belum bersertifikat sebagai Guru Agama. Dalam hati saya yang paling dalam ada kerinduan untuk juga mau menjadi seperti mereka. Tambahan lagi pada waktu itu sebagai siswa SGA mendapat Ikatan Dinas (ID), maksudnya mereka setiap bulan mendapatkan uang dari Pemerintah untuk kebutuhan mereka sebagai pelajar. Masih berstatus sebagai pelajar, tetapi sudah mendapatkan uang! Tentu saja setelah lulus SPG, mereka yang mendapatkan Ikatan Dinas akan ditempatkan oleh Pemerintah di mana pun tenaganya dibutuhkan. Ini pula sebagai daya dorong plus bagi saya semakin mantap bercita-cita untuk menjadi guru SD!
Pesemaian Benih
Setamat SMP Santo Yusup Klepu pada tahun 1968, saya dengan gembira hati dan antusias mendaftarkan diri ke SPG Pangudi Luhur. Pada waktu itu ada 2 (dua) SPG Pangudi Luhur di wilayah Yogyakarta, yaitu SPG Pangudi Luhur Sedayu dan SPG Pangudi Luhur “Kidul Loji” Yogyakarta. Sebagai antisipasi, seandainya saya tidak diterima di SPG Pangudi Luhur Kidul Loji, maka saya juga mendaftarkan diri ke SPG Pangudi Luhur Sedayu. Pada waktu pengumuman penerimaan siswa baru, di kedua sekolah tersebut saya diterima! Tentu saja saya memilih SPG Pangudi Luhur Kidul Loji. Tempatnya di kota, sedangkan Sedayu itu desa kecil yang tidak jauh dari desaku. Ingin ganti suasana. Sungguh berbunga-bunga hatiku penuh dengan kegembiraan. Betapa tidak? Saya yang sudah lama sekali mengharapkan untuk dapat disebut sebagai ‘warga Kidul Loji’ bisa kesampaian!
Ada pengalaman yang luar biasa pada waktu pertama kali masuk di lingkungan sekolah Kompleks Kidul Loji tersebut. Suasana yang rindang dengan pohon-pohon di depan ruang-ruang belajar. Gedung berlantai dua dengan pilar-pilar penyangga yang kokoh yang didirikan tahun 1922, terasa sebagai gedung yang antik. Lantai bawah untuk ruang-ruang belajar SD Latihan, sedangkan 6 ruang kelas atas untuk ruang belajar siswa-siswa SPG. Ada sebuah aula kuno sangat sederhana, namun tetap menampakkan kekhasannya, di mana siswa SPG dapat bermain dan berolah raga. Ada lagi sebuah ruangan yang luas tempat para siswa berlatih menulis halus dan menggambar. Ruang ini sangat berguna, karena sebagai calon guru SD harus dapat menulis dengan rapi serta dapat menggambar. Sebagai siswa SPG, calon guru harus dapat menguasai semua bidang studi yang ada di dalam kurikulum, guru yang serba bisa! Ruang guru yang sempit terletak di sudut kiri bawah gedung, bersebelahan dengan kelas-kelas belajar anak-anak SD Pangudi Luhur. Ruang Kepala Sekolah nylempit sekali, karena sungguh ada di sudut dari ruang guru. Bila siswa harus bertemu dengan Kepala Sekolah, haruslah lewat ruang guru tersebut. Benar-benar sangat sederhana!!
Kekagumanku sebagai seorang anak dari desa yang baru pertama kali itu masuk kota Yogyakarta, belum berhenti di situ. Hal ini memuncak ketika saya bertemu dengan seorang Bruder Belanda, postur tubuh tinggi besar dan berjubah. Ternyata bruder itu Kepala SPG. Beliau khas dengan pipa Londo-nya yang selalu mengepul di mulut, yang akhirnya saya tahu namanya Br. Rudolfus Rademakers. Saya waktu datang pertama kali untuk mendaftarkan diri di Kidul Loji masih bercelana pendek warna hijau. Saya rasanya imut-imut banget, manakala saya melihat beliau mesti menengadah. “Orang kok segitu besarnya,” pikirku.
Waktu pun berjalan dan akhirnya saya naik ke kelas dua. Di kelas II (dua) ada kewajiban untuk berpraktik mengajar di SD-SD Latihan, baik di lingkungan Pangudi Luhur sendiri maupun di lingkungan Susteran Marsudirini. Wah, lagi-lagi perasaan aneh muncul ketika diberi ucapan ‘Selamat Pagi Pak Guru,’ oleh anak-anak SD Latihan. Di kring atau wilayah stasi tempat saya tinggal, apa yang dulu saya impikan terwujudlah. Saya diminta menjadi guru agama pocokan. Umat di kring sudah mempercayai bahwa aku dapat mengajar agama. Kesempatan tidak saya sia-siakan. Modal pengetahuan agama yang saya terima di sekolah (buku pegangan ‘Yesus Almasih’), saya gunakan untuk mengajar umat di lingkungan desaku! Ibaratnya saya ‘kulakan’ pagi hari di Kidul Loji dan malam Minggu saya menjualnya lagi di kring tempat saya tinggal.
Waktu praktik mengajar di SD Latihan, ada pengalaman unik, yaitu sewaktu saya mendapatkan tugas di SD Pangudi Luhur Latihan kelas I. Mata pelajaran waktu itu Membaca Lancar. Saya benar-benar kewalahan dan tidak dapat menguasai kelas, anak-anak yang masih imut-imut itu ramai, mereka saling berbicara. Saya minta mereka tenang, suaraku tidak didengarkan. Saya pukul-pukul meja dengan penggaris agar anak-anak memperhatikan pelajaran, juga tidak ada pengaruhnya. Guru kelas I waktu itu, Br. Yohanes Wiryasumarta (Dwijawiyata - spesialis penulis buku-buku TK/SD terbitan Kanisius) menunggu di belakang. Rupanya beliau membiarkan saya bagaimana berusaha mengatasi persoalan di kelas. Jalan buntu!! Akhirnya Bruder tersebut maju ke depan kelas. Beliau diam saja, tidak ada sepatah kata pun terucap dari mulutnya, ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada. Semua anak serentak menirukan gurunya melipat kedua tangannya di atas meja, mereka ‘cep klakep’ (diam seribu bahasa)! Pada akhir pelajaran, beliau berkata kepada para guru praktikan,”Bila anak-anak ramai, jangan sekali-kali guru berteriak-teriak. Berilah contoh dengan sikap yang dikehendaki guru!”
Aku malu besar...!!!!
Pengalaman Unik
Pada waktu saya masih di Novisiat Lanjutan (tahun II tahun1974), saya ditugasi mengajar di SD Pangudi Luhur Xaverius kelas I di Semarang. Tahun tersebut merupakan tahun pertama saya mengajar sebagai guru kelas. Jadi saya belum mempunyai bekal pengalaman apa pun, kecuali sepenggal pengalaman menjadi guru praktik pada waktu saya masih siswa SPG Kidul Loji. Maka pesan Br. Yohanes Wiryasumarta bahwa ‘tidak perlu berteriak-teriak untuk menenangkan murid-murid kecil’ saya pegang kuat-kuat. Bila anak-anak berisik, ramai, saling berbicara sendiri; saya diam dan tanganku saya lipat di depan, mereka mengikutinya! “Luar biasaaaaaaaa pikirku!!” gumamku dalam hati.
Saya menjadi guru kelas I hanya satu tahun. Ada pengalaman menarik juga, meskipun hanya dalam waktu satu tahun. Pernah di tengah tahun ajaran ada anak baru masuk. Ia anak seorang pejabat bank pemerintah. Ia anak sulung dan baru satu-satunya anak. Pada umumnya anak-anak kelas I sudah mengalami masa TK (Taman Kanak-kanak), dan pelajaran membaca sudah tidak begitu kesulitan. Anak baru ini masuk langsung dari keluarga dan belum pernah di TK. Saya bertanya kepada ibunya,”Apakah anak Ibu belum pernah di TK?” Jawaban yang sungguh tidak saya duga muncul dari sang Ibu. “Ki Hajar Dewantara saja tidak pernah di TK!” katanya dengan nada sungguh ketus dan kecewa mendengar pertanyaan saya. Tidak lama di kelas tersebut, anak itu dicabut oleh orang tuanya dipindahkan ke sekolah lain!
Pernah juga ada seorang anak yang duduknya paling sudut di belakang. Suatu pagi ia memandang saya di depan kelas. Pandangannya serius, hampir tak berkedip. Lama-kelamaan saya perhatikan juga si anak. Tampaknya ia menanggung beban berat sekali! Ia saya dekati dan ternyata (maaf) celananya sudah basah dan berbau kotoran ‘brengg!’. Ia sudah ‘ngobrok’ (buang air besar) di celananya. Wahhh... .! Saya minta tolong guru putri yang mengajar di kelas sebelah kelasku untuk membantu ‘memberesi’ anak ini.
Mengajar sebagai guru kelas I SD hanya setengah hari, pukul 09.30 pelajaran sudah usai. Kepala Sekolah menambahi tugas jam pelajaran di kelas IV, yaitu pelajaran Menggambar, Olah Raga dan Menyanyi. Beban berat bagi saya, karena ketiganya pelajaran-pelajaran yang saya tidak menguasainya. Demi kesetiaan kepada Kepala Sekolah (saya masih sungguh belia sebagai guru!) saya jalani juga, sejauh saya mampu. Pelajaran Olah Raga hampir selalu kasti atau senam. Menggambar hampir selalu ‘Menggambar Bebas’artinya anak-anak saya biarkan di luar ruangan belajar untuk menggambar apa pun yang mereka suka, saya tinggal memberikan nilai ‘murah.’ Contoh-contoh gambar saya di papan tulis, hampir tidak pernah ada, lha saya sendiri tidak punya bakat menggambar. Pengalaman menarik juga dengan pelajaran Menyanyi. Tahun 1970-an lagu ‘Mutiara yang Hilang’ begitu populer. Anak-anak saya ajak menyanyi lagu itu beberapa kali. Guru Wali kelas IV menegur saya,”Der, lagu itu kurang cocok untuk anak-anak kelas IV. Itu lagunya orang-orang muda yang rindu kekasih!” Tersipu-sipu malu saya mendapat teguran Ibu Guru wali kelas, namun saya berterima kasih kepada beliau ini. Jika saya tidak ditegur oleh beliau, tentu saja saya tidak tahu bahwa lagu tersebut lagunya orang-orang dewasa.
Saya pernah studi Bahasa Indonesia di IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta. Di sinilah saya menimba ilmu yang selanjutnya sebagai modal untuk menjadi guru di tingkat SLTP/SLTA sampai akhir tahun 1994, sebelum saya mendapatkan tugas di luar dunia pendidikan. Sewaktu bertugas sebagai guru dan bapak asrama di SPG van Lith Muntilan saya sungguh merasa bangga. Saya senang dengan suasana hidup berasrama yang hampir semua siswa-siswanya berasal dari pelosok banyak desa di berbagai daerah di Indonesia. Semua siswa wajib berasrama, sedangkan siswinya diharapkan mencari tempat tumpangan tinggal sendiri-sendiri. Hidup di asrama benar-benar dapat membuat mereka merasa sebagai satu keluarga besar. Suasana akrab, persaudaraan, kekerabatan sungguh-sungguh mereka hidupi. Hal ini juga didukung oleh kekompakan dan kesatuan staf pendidik. Penggemblengan sebagai rasul-rasul awam sungguh diusahakan bersama. Pengembangan budaya Jawa masih sungguh dihidupi. Hal ini misalnya ada ekstra kerawitan (bermain gamelan). Waktu itu ada seorang siswa yang berbakat menjadi dalang wayang kulit. Suatu pesta perpisahan dengan kelas III, ia diberikan kesempatan untuk tampil pentas semalam suntuk di depan guru-guru, teman-teman dan orang tua. Kesempatan lain pada suatu malam ia mendapat undangan di suatu desa sekitar Sendang Sono untuk tampil pentas dalam acara sunatan. Karena salah satu hobiku juga menonton wayang kulit, semalam suntuk pentas siswa ini pun saya tunggui.
Pelajaran Apresiasi
Ketika saya belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Dharma, mata kuliah Apresiasi Sastra yang paling saya senangi. Rasanya rugi dan ada sesuatu yang hilang manakala saya tidak mengikuti kuliah Apresiasi Sastra. Saya benar-benar kagum dengan cara Chr. Bakdi Sumanto, guru Apresiasi Sastra, memberikan kuliah tersebut. Beliau menukik jauh kepada hakikat sastra: untuk menikmati dan bukan untuk sekadar dihafal. Mata kuliah yang ‘basah’ karena menyentuh hati dan perasaan saya. Karya-karya sastra prosa maupun puisi dengan berbagai bentuknya (novel, cerita pendek, drama dan sebagainya) dikunyah-kunyah sampai lumat dan akhirnya sungguh dapat menikmati dan memahami makna apresiasi. Buku-buku seperti Belenggu karya Armijn Pane, Siklus karya Mohamad Diponegoro, drama Tuan Amin karya Amal Hamzah dibaca dan dikupas tuntas dalam jam-jam kuliah, sehingga para mahasiswa sungguh dapat menikmatinya. Tema, plot, amanat, penokohan, setting dsb.hal-hal yang berkaitan dengan dunia fiksi sungguh kami pahami secara real, bukan sekadar teori.
Pengalaman langsung menikmati karya-karya sastra itulah yang juga sungguh mempengaruhi saya dalam mencoba membantu siswa-siswa di kelas ikut mencicipi nikmatnya karya sastra. Misalnya, dalam jam-jam pelajaran, cerita pendek Robohnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis; Ave Maria karya Idrus saya bacakan tuntas bagi para siswa. Tokoh spektakuler dan antik Haji Saleh dan Ajo Sidi di dalam Robohnya Surau Kami dikenal oleh siswa secara langsung. Haji Saleh digambarkan sebagai seorang yang sangat tekun beribadah sesuai dengan keyakinannya, ia yakin bahwa akan masuk ke dalam surga abadi sesudah meninggal, namun kenyataannya masuk neraka. Demo berarak-arak dari penghuni neraka sambil meneriakkan yel-yel dari penghuni neraka meminta agar keputusan Tuhan ditinjau kembali. Bagaimana para demonstran berteriak-teriak untuk meyakinkan Tuhan, bahwa dalam membuat keputusan Tuhan kilaf. Bahkan ada ancaman dari para demonstran yang mengintimidasi Tuhan dengan mengatakan ‘agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!’ Sebaliknya siswa-siswa juga mengenal secara langsung tokoh Ajo Sidi yang terkenal sebagai si tukang bual!
Novel remaja Dari Jendela SMP karya Mira W yang populer di tahun 80-an, saya bacakan di kelas 2 SMP tempat saya mengajar. Setiap ada pelajaran bahasa Indonesia saya bacakan sebagian dari novel tersebut, sampai pada akhirnya tamat. Mereka mendengar secara langsung lewat telinga mereka sendiri bagaimana Joko dan Wulan (tokoh-tokoh ini kebetulan masih duduk di kelas 2 SMP), tokoh utama novel tersebut, berpacaran di bawah rerimbunan pohon-pohon singkong di sebuah ladang! Kadang sewaktu mereka mendengar kata-kata lembut dan bisik-bisik dua tokoh tersebut, mereka tersenyum-sipu dan kadang gerrrrrrrr..., karena senang merasakan kelucuan dan keluguan kedua tokoh tersebut!
Beberapa puisi ‘mbeling’ di samping puisi-puisi ‘serius’ memberikan wacana lain bahwa ada juga puisi-puisi aneh yang lucu, seolah-olah tanpa makna, namun memberikan hiburan tersendiri. Dalam menghadapi dan mengapresiasi puisi-pusi seperti Diponegoro, Isa, Aku karya monumental Chairil Anwar mereka akan serius dan mungkin sambil mengernyitkan dahi. Mereka akan tertawa terkekeh dan wajah sumringah nakal manakala mendengar atau membaca misalnya karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, Remy Silado, Rendra maupun Darmanto Jt yang dengan kelihaian dan kepiawaiannya bermain-main dengan kata dan mengubah-ubah susunan kata-katanya.
Simak saja misalnya penggalan sajak Simpatiku untuk Lik Parto Total karya Darmanto Jt di bawah ini :
O...Man, paman
Aduh lae
Anake simbok
Tholene bapak
Muliha ngger, Ngger
Nggolek srengenge kok adoh-adoh
Direwangi adol kebo, adol gudel
Neng desamu srengenge sumunar
tanpa busana salju beku
yang keras lagi menggigilkan
O. Lik Parto. Lik Parto ... . (1978)
Lagi misalnya dua Puisi Mbeling dari Majalah Aktuil tahun 1972 dan 1973 berikut:
Indonesia I
Dari Solo Balapan
kereta berangkat
lokomotip berbunyi:
Peeeee
Bus bus bus
orang Jawa
makan tempe
gembus
Perempuan
habis manis
sepahnya dibuang
habis nangis
maunya disayang
Demikian pula dalam hal penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Siswa dikenalkan juga dengan bentuk-bentuk ungkapan dari berbagai karya sastra dari berbagai periode. Dengan menyimak dan mengalami sendiri, siswa-siswa langsung mengerti bahwa bahasa Indonesia mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sebagai contoh para siswa diberikan kutipan beberapa kalimat yang ditemukan dalam Hikayat Si Miskin (asli), kutipan dari roman Siti Nurbaya (Marah Rusli), novel Layar Terkembang (St. Takdir Alisjahbana), Karmila (Marga T) dan sebagainya. Contoh-contoh nyata demikian dapat membuka cakrawala siswa terhadap pemahaman perkembangan bahasa Indonesia dari waktu ke waktu. Hal-hal demikian akan lebih bermakna dan mudah dipahami oleh para siswa, daripada segala teori perkembangan bahasa dari masa ke masa.
Hobi Membuat Clipping
Pada tengah tahun pertama (1975) saya belajar di IKIP Sanata Dharma (kini Universitas Sanata Dharma), ada mata kuliah ‘unik’ yaitu ‘clipping.’ Dalam hal ini para mahasiswa diajari cara membuat clipping. Dosen, Drs. Narantaka, menerangkan satu atau dua kali bagaimana membuat clipping, dan akhirnya para mahasiswa disuruh membuatnya. Begitu teliti dan telatennya beliau memberikan contoh bagaimana harus mengguntingnya dengan rapi, bagaimana menempelkannya di kertas HVS, bagaimana memberi garis tepi di bagian kanan-kiri, bagian atas-bawah. Clipping sebagai sumber informasi harus sahih, tidak boleh lupa sumber ambilan dan tanggal kapan artikel atau berita itu diterbitkan, bahkan dari halaman berapa sebuah artikel atau berita dimuat dalam sebuah surat kabar atau majalah. Apabila sudah diberi setumpuk koran (KOMPAS), mahasiswa sudah asyik bekerja dan sekaligus berekreasi sambil cerita ke sana ke mari dengan sesama teman. Suatu kegiatan yang sungguh mengasyikkan. Seumur-umur saya baru waktu itulah saya tahu bahwa ada kegiatan meng-clipping. Maklumlah, saya berasal dari sekolah desa yang hampir tidak pernah melihat koran!
Kegiatan membuat clipping akhirnya menjadi hobi bagi saya. Di bruderan bersama-sama dengan bruder-bruder lain yang mempunyai hobi yang sama, kami membagi rubrik-rubrik tertentu sesuai dengan minat kami masing-masing. Saya memfokuskan diri pada rubrik Sastra-Budaya-Bahasa. Setiap kali ada artikel tentang Sastra-Budaya-Bahasa, bruderku sekomunitas terus memberikannya kepada saya. Demikian pula bila saya menemukan artikel tentang Pendidikan atau Agama, saya memberikannya kepada sesama bruderku. Dari hari ke hari akhirnya sungguh banyak artikel yang terkumpul. Apabila pas ada sisa uang saku, saya mencari dan membeli SINAR HARAPAN (kini Suara Pembaruan) edisi hari Sabtu (hampir selalu ada rubrik Sastra-Budaya-Bahasa), kemudian saya gunting dan saya clippingkan. Sampai sekarang masih saya simpan sekian jilid guntingan-guntingan tersebut.
Orang pernah bertanya kepada saya untuk apa guntingan-guntingan koran itu kamu kumpulkan dan kamu simpan. Di sinilah saya dapat memanfaatkannya sebagai bahan tambahan pelajaran kepada para siswa, sebagai bumbu pelajaran. Pelajaran tidak hanya bersumber kepada satu atau dua buku teks tersaji saja, melainkan juga dari berbagai sumber yang dapat memperkaya khasanah pengetahuan siswa-siswa. Misalnya pada waktu sampai pada topik Sejarah Bahasa Indonesia, selalu akan sampai kepada pokok bahasan Kongres Bahasa dan seterusnya yang berkaitan dengan kegiatan Bulan Bahasa.
Misalnya harian KOMPAS, 13 Oktober s.d. 5 November 1982 memuat ratusan kosa kata baru dan kata-kata asing yang kiranya perlu diketahui oleh masyarakat. Kosa kata tersebut dimulai dari simposium : pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat [prasaran] para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu s.d. work specification : perincian kerja).
Daftar kosa kata ini saya minta kepada siswa untuk meng-clipping-nya dan dijadikan sebagai bahan ulangan. Siswa harus membaca dan menghafalkannya. Dengan demikian kosa kata atau perbendaharaan kata para siswa bertambah. Terlebih pelajaran menjadi lebih hidup dan memperluas wawasan mereka. Di sini para siswa dilatih membuat clipping dengan segala tuntutan ketelitian serta kerapian. Para siswa mulai berkenalan dan menyadari bahwa belajar tidak hanya dari buku teks atau buku-buku pelajaran saja.
Sekarang dengan internet sebagai salah satu alat komunikasi yang serba canggih, orang dapat mengakses berita dari mana pun dan kapan pun secara sangat mudah. Peminat tinggal saja mencari artikel yang dikehendakinya, click - copy - paste ... dan artikel termaksud sudah ada di dalam hard disk komputer kita. Tinggallah mengedit, mengumpulkan dan jadilah bentuk buku dengan berbagai format sesuai dengan selera, misalnya ukuran A4, A5, ukuran saku dan sebagainya.
Pernah saya mengikuti lomba membuat clipping yang diselenggarakan oleh Kelompok Penulis Semarang (Mas Bambang Sadono SY - Ketua) pada tahun 1982 dan mendapatkan piagam penghargaan sebagai juara II. Lumayan sebagai tambahan pengalaman!
Belajar dari Anak
Sewaktu saya menjadi guru di SMP PL Domenico Savio, Semarang saya mengajak anak-anak untuk belajar mengulas buku, atau dengan kata lain membuat tinjauan buku yang berupa karya sastra roman atau novel. Berbagai bentuk contoh tinjauan karya sastra saya sajikan kepada para siswa, sehingga mereka membaca dan memahami secara langsung dan menikmatinya ‘apa yang dimaksud dengan tinjauan buku.’ Semua contoh saya ambilkan dari guntingan clipping surat kabar. Misalnya tinjauan ‘Keberangkatan karya NH Dini’ oleh Bambang Hidayat (Kompas, 2 April 1977); ‘Hati Nurani Manusia karya Idrus’ oleh Korrie Layun Rampan (Kedaulatan Rakyat, 3 Maret 1977). Sungguh di luar dugaan! Meskipun masih anak-anak umur SMP, ternyata ada di antara mereka yang mampu melihat tokoh sentral dengan tajam dari roman serius seperti Romo Rahadi dan Roro Mendut karya (alm) Romo Y.B. Mangunwijaya. Dari sini saya sebagai guru benar-benar belajar banyak. Saya tidak mengira bahwa siswa SMP sudah mampu mengulas dan memberikan pendapatnya (baca: apresiasinya) tentang tokoh dalam karya-karya sastra serius. Persoalannya ialah bagaimana kita yang bertugas mendampingi perkembangan para siswa bersedia dan terbuka memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bereksplorasi diri.
Perhatikan kutipan ungkapan siswa SMP kelas III terhadap roman Roro Mendut sebagai berikut:
“Dalam roman ini Romo Mangun menyelipkan tembang-tembang maupun syair-syair, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa lebih dalam maknanya, jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Ada beberapa kata dalam bahasa Jawa yang tidak dapat diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia. Dalam roman ini disisipkan pula lelucon-lelucon segar, sebagai selingan. Memang kita akui kelihaian Romo Mangun dalam meramu bahasa, sehingga mampu merangsang kita untuk tertawa.
Roman Roro Mendut ini memuat banyak sekali filsafat, terutama bagi kaum wanita. Dalam roman ini diterangkan tentang filsafat keperawanan, keibuan, jodoh dan emansipasi wanita. Semua itu diramu oleh Romo Mangun dengan cukup baik menjadi suatu percakapan antara individu-individu pelaku dalam cerita itu.”
Di samping saya belajar sesuatu yang membanggakan dan atau membahagiakan dari siswa, saya sempat belajar juga sesuatu yang pahit atau bisa dikatakan memalukan. Waktu itu (baca: pada waktu masih muda belia sebagai guru) saya beridealisme bahwa pelajaran sayalah yang paling penting, paling tinggi nilainya. Maka seolah-olah siswa tidak mempunyai tanggung jawab lain kecuali bidang studi yang saya ampu. Semua pekerjaan rumah atau tugas-tugas lainnya dari pelajaranku harus selesai dengan baik. Bila ada siswa yang tidak menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumahnya pastilah saya beri hadiah (baca : hukuman), entah apa pun wujudnya.
Siswa-siswa berisik atau ribut kena batunya, saya marah dengan berbagai macam kata-kata yang kadang kala kasar, bahkan (maaf) saya kelewat batas dengan kemarahanku, saya tampar!
(Saya sungguh egoistis, dan hanya mau menangnya sendiri!)
Berkaitan dengan hal ini (memberikan hukuman fisik) saya belajar sangat indah pada waktu saya bertugas di SMA Pangudi Luhur Jakarta (siswanya laki-laki semua), yaitu antara tahun 1991 sampai 1993. Suatu hari saya mengajar bahasa Indonesia di kelas. Saya memberikan catatan di papan tulis. Suara berisik mulai saya dengar, dan makin lama semakin ribut. Kurang begitu jelas siapa yang berteriak keras, sehingga sungguh mengganggu keadaan kelas. Perkiraan saya Si A (ia biasa membuat gaduh di kelas) yang membuat gaduh. Saya tidak berpikir panjang, langsung Si A tersebut saya tampar! Di luar dugaanku, ia berani menjawab dan berani bersumpah bahwa ia tidak berisik atau membuat gaduh saat itu. Dari cara Si A bereaksi, kesanku ia sungguh tidak bersalah! Saya diselamatkan oleh bel tanda ganti pelajaran. Si A saya minta datang ke kantor untuk saya ajak bicara tentang keadaan sebenarnya. Waktu itu ia masih marah dengan muka merah padam. Kata-kata yang menunjukkan nada kecewa atau sangat marah dan benci kepadaku diucapkan di depan saya. Akhirnya setelah ia reda, saya katakan kepada Si A,”Sekarang kalau kamu akan membalas, silakan tampar saya! Saya akan menerima apa pun tamparanmu.” Ternyata Si A tidak berani menampar juga, hanya ia mengatakan bahwa lain kali ‘Bruder mesti berhati-hati, jangan asal main tampar saja.’ Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat-sangat berharga bagiku. Sejak itu saya tidak lagi memberikan hukuman fisik kepada siswa di sekolah.
5 KOMENTAR
04.10.2008 07:16:43Terima kasih Br. Frans. Artikel yang insfiratif yang bersumber dari pengalaman pribadi yang tak ternilai harganya. Pengalaman yang sederhana tapi sarat makna. Pengalaman masa lalu tetapi tetap menggema gaungnya dalam dunia pendidikan sekarang ini. Bravo. Salam Persaudaraan dalam FIC
BLASIUS FIC
13.06.2009 03:38:50Salam Kasih dalam Damai Kristus Bruder Frans,
Perjalanan panggilan yang panjang yang mengingatkan saya untuk tak lupa mengucapkan banyak terimakasih atas peran serta bruder dalam sejarah pembentukan kepribadian saya.
Pasti bruder tak menyangka si anak keluarga miskin ini bisa bertemu kembali dengan bruder di SMP Domsav yang "elit" dan berkomunitas dengan anak-anak orang berpengaruh di Semarang.
Dalam segala kekurangan kehidupan ekonomi keluarga, saya mencoba bertahan dan bersaing dengan mereka.
Walaupun mungkin prestasi saya di DOMSAV tidak membangGakan bagi bruder sebagai mantan guru saya di SD Xaverius kelas I, dgn noktah sejarah tidak termasuknya, saya dalam kelompok siswa yg boleh menembus ke jenjang pendidikan di Kolese Loyola.
Tapi sekarang kalau boleh saya cuma ingin memberi kabar 'justru' di SMA negeri 3 saya merasa rindu dengan nilai-nilai Pendidikan Katolik yang pernah boleh saya lalui.
Di tengah carut marut ketidaksiplinan sekolah antara lain saya teringat 'value terindah' yang pernah bruder dan guru-guru Katholik lainnya ajarkan.
Setiap kali jam pelajaran Bahasa Indonesia yang disajikan oleh guru bersangkutan dengan cara ala kadarnya , membuat saya dan beberapa teman eks Domsav saling menoleh kecut, karena kami merasa betulbagaimana 'indahnya'
masa SMP kami bersama bru-der. Namun kabar penting yang ingin saya sampaikan adalah dalam saat situasi kerinduan seperti itulah saya memutuskan menjadi katholik dan lewat gemblengan Bruder Wir yang ternyata pembimbing bruder juga.
Justru di SMA negeri ini saya bisa mengaktualisasikan nilai-nilai katolik yang bruder ajarkan dengan antara lain menghantarkan majalah sekolah SMA ini menjadi Majalah Sekolah tingkat SMA terfavorit di Indonesia versi majalah Gadis. Dan boleh percaya atau tidak, anak didik Bruder yang miskin ini adalah Pemimpin Redaksinya. Terlepas dari semua itu dalam lubuk hati ayng paling dalam saya tak akan pernah lupa, siapa gerangan yang menanamkan nilai-nilai bahasa dan sastra dalam jiwa si anak miskin ini, adalah Bruder Fran Sugi orangnya.
Sekali lagi terimaksih Der, buat semuanya.
Kini saya tinggal di BSD -Jakarta, dengan istri Gusti Ayu Indah Nurlina, orang Bali yang juga sudah menjadi Katholik. Maaf, saya selau mengikuti perjalanan bruder ada dimana, di masa Bruder menjabat di SMA PL pun saya selalu mengikuti beritanya, beberapa anak didik bruder kini juga ada yang menjadi anak buah saya di kantor, saya jadi arsitek Der berkat doa dan jasa Bruder.
Maturnuwun dan be succes Der.GBU, dalam kasih Kristus
Ir.Kristanto
KRISTANTO
13.06.2009 03:38:51Salam Kasih dalam Damai Kristus Bruder Frans,
Perjalanan panggilan yang panjang yang mengingatkan saya untuk tak lupa mengucapkan banyak terimakasih atas peran serta bruder dalam sejarah pembentukan kepribadian saya.
Pasti bruder tak menyangka si anak keluarga miskin ini bisa bertemu kembali dengan bruder di SMP Domsav yang "elit" dan berkomunitas dengan anak-anak orang berpengaruh di Semarang.
Dalam segala kekurangan kehidupan ekonomi keluarga, saya mencoba bertahan dan bersaing dengan mereka.
Walaupun mungkin prestasi saya di DOMSAV tidak membangGakan bagi bruder sebagai mantan guru saya di SD Xaverius kelas I, dgn noktah sejarah tidak termasuknya, saya dalam kelompok siswa yg boleh menembus ke jenjang pendidikan di Kolese Loyola.
Tapi sekarang kalau boleh saya cuma ingin memberi kabar 'justru' di SMA negeri 3 saya merasa rindu dengan nilai-nilai Pendidikan Katolik yang pernah boleh saya lalui.
Di tengah carut marut ketidaksiplinan sekolah antara lain saya teringat 'value terindah' yang pernah bruder dan guru-guru Katholik lainnya ajarkan.
Setiap kali jam pelajaran Bahasa Indonesia yang disajikan oleh guru bersangkutan dengan cara ala kadarnya , membuat saya dan beberapa teman eks Domsav saling menoleh kecut, karena kami merasa betulbagaimana 'indahnya'
masa SMP kami bersama bru-der. Namun kabar penting yang ingin saya sampaikan adalah dalam saat situasi kerinduan seperti itulah saya memutuskan menjadi katholik dan lewat gemblengan Bruder Wir yang ternyata pembimbing bruder juga.
Justru di SMA negeri ini saya bisa mengaktualisasikan nilai-nilai katolik yang bruder ajarkan dengan antara lain menghantarkan majalah sekolah SMA ini menjadi Majalah Sekolah tingkat SMA terfavorit di Indonesia versi majalah Gadis. Dan boleh percaya atau tidak, anak didik Bruder yang miskin ini adalah Pemimpin Redaksinya. Terlepas dari semua itu dalam lubuk hati ayng paling dalam saya tak akan pernah lupa, siapa gerangan yang menanamkan nilai-nilai bahasa dan sastra dalam jiwa si anak miskin ini, adalah Bruder Fran Sugi orangnya.
Sekali lagi terimaksih Der, buat semuanya.
Kini saya tinggal di BSD -Jakarta, dengan istri Gusti Ayu Indah Nurlina, orang Bali yang juga sudah menjadi Katholik. Maaf, saya selau mengikuti perjalanan bruder ada dimana, di masa Bruder menjabat di SMA PL pun saya selalu mengikuti beritanya, beberapa anak didik bruder kini juga ada yang menjadi anak buah saya di kantor, saya jadi arsitek Der berkat doa dan jasa Bruder.
Maturnuwun dan be succes Der.GBU, dalam kasih Kristus
Ir.Kristanto
KRISTANTO
12.09.2009 21:08:44Mas Kristanto,
Selamat jumpa.
Terima kasih atas perjumpaan kembali setelah sekian tahun kita tidak saling berkontak.
Saya senang banget masih ada sedikit kenangan dari perjumpaan-perjumpaan di Domenico Savio, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Salam saya untuk seluruh Keluarga. Apabila pulang ke Semarang, singgahlah di Bruderan FIC Randusari.
Salamku.
FRANS SUGI
18.08.2010 00:54:50terima kasih atas perjumpaan setelah sekian lama tidak bertemu.saya harap pertemuan ini dapat megnikat tali persaudaraan.
salam dari lela nur hidayah putri
LELA http://www.boys before flower.com
|