Temu kenal Bruder Muda dan para Calon diadakan di Postulat - Muntilan pada hari Sabtu-Minggu tanggal 25 s.d. 26 Oktober 2008. Hadir dalam pertemuan ini, kecuali para bruder muda dan para frater postulan, novis kanonik, dan novis lanjutan, juga beberapa anggota Dewan Provinsi, para pendamping bruder muda dan pendamping calon. Semua berjumlah 50 orang.
Dalam rangka saling berkenalan, pada hari pertama para bruder muda dan para frater diajak untuk sharing dalam kelompok. Sharing tentang pengalaman sehari-hari dalam menghidupi doanya. Dengan dibagi dalam beberapa kelompok campuran, suasana terasa akrab dalam persaudaraan. Keakraban ini juga makin nyata dalam acara perkenalan yang diungkapkan dalam atraksi malam keakraban.
Dalam pertemuan ini para bruder muda dan frater diajak untuk lebih memahami tentang peran dan fungsi doa dalam hidup panggilan. Disadari bahwa doa berpengaruh dalam proses panggilan hidup sebagai bruder maupun sebagai calon bruder. Maka pada hari Minggu sebagai agenda utamanya mendalami hidup doa. Dihadirkan Br. Michael Sidharta Susila sebagai nara sumber. Br. Sidharta menyampaikan sharing dan mengupas tentang pengaruh hidup doa dalam menjalani panggilan sebagai seorang Bruder FIC. Beberapa hal pokok yang disampaikan oleh Br. Sidharta, antara lain perkembangan dan cara berdoa, alasan mengapa harus berdoa serta membangun pembiasaan untuk berdoa. Doa merupakan bagian dalam panggilan hidup dan menjadi sarana untuk menciptakan ruang pribadi, memberdayakan diri. Dengan pemanfaatan teks Kitab Suci, bacaan rohani dll, doa menjadi suatu jalan untuk mencapai kualitas hidup.
Di penghujung pertemuan ditutup dengan peneguhan dari Bruder Provinsial serta Perayaan Ekaristi bersama yang dipersembahkan oleh Rm. Agustinus Setyodarmono SJ, dari Seminari Menengah Mertoyodan, Magelang. Dalam peneguhannya Br. Provinsial menekankan pentingnya untuk setia dalam doa. Kesetiaan ini antara lain diungkapkan dalam kesetiaan hadir pada acara doa komunitas. Juga setia melakukan doa pribadi setiap hari pada saat yang telah ditentukannya sendiri. Sementara itu dalam homilinya Romo Nano menekankan agar kita selalu ingat akan sejarah dan mensyukurinya sebagai karya Allah serta senantiasa sadar akan peziarahan hidup kita.
.jpg)