Sekitar tahun 1800 kota Maastricht di Belanda dihiasi kemiskinan dan kemelaratan akibat revolusi Industri. Anak dan kaum muda hidup terlantar. Orangtua mereka bekerja di pabrik sepanjang hari. Akibatnya keselamatan jiwa mereka terancam.
Realitas itu mengoyak nurani Imam diosesan muda dari Maastricht. Namanya Rutten. Pada mulanya ia sendiri mendampingi kaum muda yang malang itu di serambi gereja St. Servanstius. Karyanya berkembang luarbiasa. Akhirnya ia memutuskan membentuk kelompok religius pria yang tidak ditahbiskan (Bruder) agar dapat semakin baik melayani kaum muda Maastricht yang malang itu.
Tanggal 21 November 1840 Rutten memberkati rumah yang dijadikan tempat tinggal calon religiusnya. Tanggal itu selanjutnya ditetapkan sebagai hari lahir Kongregasi Para Bruder FIC. Maka tahun ini FIC genap berusia 170 tahun.
Bernardus Hoecken yang waktu itu masih calon ditunjuk sebagai pemimpin. Bernardus yang hanya lulusan Sekolah Dasar harus mengurus Kongregasi dalam kemiskinan, mulai dari membangun rumah, mengurus pendampingan anak, hingga mendampingi sesama calon Bruder yang lain. Bernardus mengucapkan kaul pertamanya pada 2 Februari 1842. Sebuah awal yang amat tidak ideal. Selanjutnya Pastor Rutten dan Br. Bernardus ditetapkan sebagai pendiri Kongregasi para Bruder FIC. Spiritualitas Bruder FIC mengalir dari pergulatan Rutten dan Br. Bernardus. Dua tokoh ini konsisten memperjuangkan nasib kaum muda yang malang. Mereka memperjuangkan keselamatan jiwa-jiwa kaum muda akibat kompleksitas kemiskinan. Dalam perjuangan menyelamatkan jiwa-jiwa itulah kedua tokoh ini berusaha memuliakan Allah. Spiritualitas semacam itulah yang hingga hari ini terus digulati para Bruder FIC.
Dalam kerinduan memuliakan Allah dengan upaya menyelamatkan jiwa-jiwa, para Bruder pertama-tama memberi pelayanan pendampingan iman. Namun ilmu-ilmu profanpun akhirnya diberikan sebaik mungkin. Para Bruder dipersiapkan agar terampil mendampingi kaum muda dengan aneka cara. Tak heran kalau akhirnya Bruder FIC dikenal dengan karya pendidikannya yang berkualitas. Akhirnya FIC dikenal sebagai Bruder guru dari Maastricht. Pendampingan kaum muda demi keselamatan jiwa-jiwa mereka menjadi perhatian utamanya. Kaum muda yang lemah, miskin, dan terlantar terus diperjuangkan nasibnya.
FIC di Indonesia
Kehadiran FIC di Indonesiapun dalam komitmen mendampingi kaum muda yang posisi sosialnya rawan. Lima Bruder diutus ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada tanggal 20 Agustus 1920. Kelima Bruder itu tiba di Tanjug Periuk pada tanggal 19 September 1920. Mereka dijemput Pastor van Lith yang juga memperjuangkan martabat dan hak hidup anak-anak pribumi. Esok harinya mereka sampai di Jogyakarta dengan kereta. Jadi pada tahun ini FIC genap 90 tahun hadir di Indonesia.
Karya Bruder FIC di Indonesia dimulai di Yogyakarta. Para Bruder mengurus sekolah HIS berbahasa Belanda yang hanya menerima anak-anak pribumi. Itulah bentuk konsitensi komitmen memperjuangkan pemberdayaan kaum muda, khususnya yang rawan posisi sosialnya. Penggunaan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dimaksudkan agar pada saatnya orang pribumi bisa lebih berperan menentukan nasibnya sendiri. Maklum waktu itu dinamika hidup masih didominasi penguasa Belanda.
Karya-karya para Bruder FIC
Karya para Bruder FIC kini menyebar di Muntilan, Surakarta, Ambarawa, Semarang, Boro, Klaten, Wedi, Salatiga, Jakarta, Sedayu, Giriwoyo, Pemalang, Kalimantan Barat (Ketapang, Tumbang Titi, Tanjung), Sumatera (Sukaraja, Belitang), Sorong, dan tahun ini menjajagi peluang berkarya di Timor Leste.
Pendidikan adalah karya terbesar Bruder FIC di Indonesia. Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Pangudi Luhur adalah tempat kerasulannya. Bentuk pendampingan kaum muda lain dengan retret (khususnya di Rumah Khalwat Syalom – Bandungan Ambarawa), penyaluran tenaga kerja, penyelenggaraan Asrama dan Panti Asuhan.
Di Rumah Khalwat Roncalli Salatiga, Bruder FIC menyelenggarakan program pendampingan bagi Biarawan-Biarawati. Di sini banyak religius menyegarkan hidup panggilannya dengan mengikuti aneka kursus atau retret. Sementara itu, karya tenun Boro terus berjuang memberdayakan masyarakat desa.
Tantangan di jaman ini
Kongregasi FIC adalah Kongregasi Kepausan. Pusatnya di Maastricht. Lebih dari 30 tahun tak ada calon Bruder dari Belanda. Para Bruder di Belanda semakin berkurang.
“Sekarang FIC Indonesia menjadi tumpuan hidup Kongregasi. FIC di Ghana, Malawi, juga Chile masih harus berjuang dengan hidupnya. Bagaimanapun FIC Indonesia harus siap membawa estafet pengelolaan Kongregasi FIC,” tutur Br. Anton Karyadi, Provinsial FIC Indonesia.
“Di Indonesia sendiri beberapa tahun ini pemuda yang berminat bergabung dengan FIC semakin sedikit. Tantangan kian berat ketika problem hidup religius semakin kompleks. Dalam pendanaan hidup dan karya, para Bruder dituntut mandiri. Pengelolaan karyapun harus semakin profesional, dan berkualitas. Ini tantangan yang menggairahkan,” tegas Br. Anton.
Br. Anton menambahkan, “Dalam segala keterbatasan dan tantangan, bagaimanapun juga para Bruder harus tetap memperjuangkan keselamatan jiwa-jiwa kaum muda dengan aneka karya pendampingan. Lebih-lebih bagi mereka yang rawan karena posisi sosialnya.”
“Karenanya para calon mulai masa Postulat (1 tahun di Muntilan), Novisiat kanonik (1 tahun di Muntilan) dan lanjutan (1 tahun di Surakarta) harus sadar dengan konsekuensi dan tuntutan menjadi Bruder FIC. Sebagai Bruder muda (maksimal 9 tahun) dan setelah kaul kekalpun mereka harus terus mengolah dan memberdayakan diri. Tujuannya agar semakin mampu memuliakan Allah dengan terus memperjuangkan keselamatan jiwa-jiwa,” tegas Br. Anton.
“FIC Indonesia ada di saat dan tempat yang tepat. Kemerosotan kualitas hidup dan moral adalah undangan bagi para Bruder untuk memuliakan Allah dengan mengupayakan keselamatan jiwa-jiwa kaum muda Indonesia. Tidakkah ini medan perwujudan spiritualitas FIC di zaman ini? Apa bedanya dengan realitas yang dihadapi para pendiri di awal berdirinya Kongregasi ini?” tandas Br. Anton.