Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Selasa, 24 November 2020  - 1 User Online  




Brothers FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Rekoleksi Panggilan dan Tes masuk Bruder FIC


24.05.2012 20:18:11 3928x dibaca
BUNDA MARIA SEBAGAI PENGANTARA
Oleh Petrus Anjar FIC

Setiap bulan Mei gereja mengajak kita untuk memberi perhatian kepada Bunda Maria. Dipilih bulan Mei karena dilatarbelakangi musim di Eropa. Mei adalah musim semi, musim bunga dan kehidupan baru. Selama musim dingin, tanaman seakan mati, tertutup salju dan tanpa daun. Pada bulan Mei, pohon-pohon mulai bersemi menjanjikan panenan yang baik. Kita melihat realitas yang kontras, musim dingin simbol kematian dan musim semi sebagai simbol kehidupan baru dan harapan.

Keindahan dan kesuburan bulan Mei dalam tradisi Gereja dikaitkan dengan bulan Maria. Setiap kali umat berjiarah, umat menghaturkan bunga-bunga di depan patung Maria lambang keindahan doa yang kita sampaikan kepada Bapa lewat perantaraan Bunda Maria. Bunda Maria ciptaan Allah yang melaluinya Allah membawa keselamatan dan kehidupan baru di dunia ini. Bunda Maria merupakan ”bunga terindah dan tercantik dari segala bunga” yang membawa pengharapan bagi umat manusia, sebagaimana musim semi yang selalu dinantikan oleh umat manusia.

Terdapat analogi antara bunga dan Maria yang terbuka untuk dimensi Kristologi. Bunga yang mekar, selain indah dipandang juga diharapkan menghasilkan buah pada akhirnya. Dalam diri Bunda Maria, keindahan sesungguhnya terletak dalam relasi kita dengan Allah karena Bunda Maria membawa kita pada Yesus, seperti tiap kali kita berdoa Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Fokus utama dan perhatian pertama devosi dan doa-doa kita lewat pengantaraan Bunda Maria adalah Yesus, bukan pada Maria – per Mariam ad Iesum.

Kepengantaraan Bunda Maria
Dalam menyampaikan doa kepada Allah Bapa, kerap kita menyampaikan doa-doa tersebut lewat perantaraan Bunda Maria. Bukankah hal ini berlawanan dengan keyakinan iman kita bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara pada Allah Bapa? Dalam hal ini para bapa konsili Vatikan II menjelaskan bahwa ”Pengantaraan kita hanya satu, menurut sabda Rasul: ”Sebab Allah itu esa, dan esa pula Pengantara Allah dan manusia, yakni menusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1 Tim 2: 5 – 6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan obyektif, melainkan dari kebaikan ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya” ( Konstitusi Dogmatis tentang Gereja artikel 60). Menanggapi dokumen tersebut di atas, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa, ”Dalam Marialah kita mempunyai perantara khusus dan luar biasa, berdasarkan ”penuh rahmat”nya, yang dinyatakan dalam kesediaan sempurna ”hamba Tuhan”. Sebagai tanggapan atas kesediaan batin Bunda-Nya, Yesus Kristus menyiapkannya menjadi ”ibu dalam tata rahmat” bagi semua bangsa. Hal ini dinyatakan, paling tidak secara tidak langsung, oleh kutipan tertentu para Sinoptik (bdk. Luk 11: 28; 8: 20 – 21; Mrk. 3: 32 – 35; Mat. 12: 47 – 50) dan lebih lagi Injil Yohanes (bdk. 2: 1 – 12; 19: 25 – 27) ( Redemptoris Mater artikel 49).

Seperti kita ketahui bersama, setelah kebangkitan dan kenaikan ke Sorga, Bunda Maria bersama para rasul memasuki kembali Ruang Perjamuan Malam Terakhir untuk menantikan Pentekosta. ”Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kis 1: 14). Dalam peristiwa tersebut Bunda Maria sebagai hamba Tuhan yang merasa seperti para murid yang lain, ditinggalkan oleh Putranya sebagai ibu di tengah Gereja yang baru tumbuh. Dengan itu mulailah terjalin ikatan khusus antara Bunda Maria dengan Gereja. Bunda Maria menterjemahkan dengan sikap dan perbuatan, kata-kata Yesus kepada Yohanes sebagai wakil orang-orang yang dicintai Yesus, ”Inilah ibumu”. Gereja perdana merupakan buah Salib dan Kebangkitan Yesus, Putranya. Bunda Maria yang sejak awal telah memberikan diri seluruh hidupnya kepada karya Yesus, maka ketika dia ditinggalkan oleh Yesus dengan wafat dan kenaikan-Nya ke sorga, Bunda Maria mencurahkan kepada Gereja sebagai ibu. ”Setelah kepergian Putranya, keibuan Maria tetap tinggal dalam Gereja sebagai pengantara: menjadi penengah bagi semua anaknya, Bunda membantu dalam karya penyelamatan Sang Putra, Penebus dunia”. (Redemptoris Mater artikel 40). Lebih lanjut Konsili Vatikan II menjelaskan mengenai kepengantaraan Bunda Maria dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja artikel 62 yang antara lain disebutkan sebagai berikut: ”Sesudah diangkat ke surga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselataman itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus menerus memperoleh bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Putranya, yang masih dalam pejiarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam Gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Pengantara. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara”.

Bunda Maria Ibu Kaum Hidup Bakti
Panggilan hidup sebagai Bruder atau calon Bruder, khususnya Bruder FIC yang meneruskan semangat Mgr. Rutten dan Br. Bernardus Hoecken, peletak dasar kongregasi, merupakan rahmat yang diterima dari Allah. Bunda Maria adalah ibu kaum beriman, terlebih ibu kaum hidup bakti sebagaimana dijelaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Vita Consecrata artikel 28 yang antara lain disebutkan sebagai berikut, “Pada Santa Perawan Maria para anggota hidup bakti menemukan Ibu yang sangat istimewa. Memang, keibuan baru yang dianugerahkan kepada Maria di gunung Kalvari merupakan kurnia bagi semua orang Kristiani, tetapi masih mempunyai nilai yang lebih khas lagi bagi mereka yang menguduskan hidup mereka seutuhnya kepada Kristus. “Lihatlah Ibumu” (Yoh 19: 27): kata-kaya Yesus kepada murid “yang dikasihi-Nya (Yoh 19: 26) mempunyai relevansi khas bagi hidup bakti. Para anggotanya, seperti Yohanes, dipanggil untuk menampung Santa Perawan Maria dalam rumah mereka (bdk. Yoh 19: 27), sambil mengasihinya dan meneladannya secara radikal seperti layak bagi panggilan mereka, dan sebagai imbalan mengalami cintakasih keibuannya yang khas. Santa Perawan berbagi dengan mereka cintakasih yang memungkinkan mereka mempersembahkan hidup mereka tiap hari bagi Kristus, dan bekerjasama dengan-Nya dalam penyelamatan dunia. Oleh karena itu hubungan sebagai putra-putri dengan Maria merupakan jalan raya menuju kesetiaan panggilan, dan bantuan paling efektif untuk terus maju meniti panggilan itu dan menghayatinya sepenuhnya”. Senada dengan Vita Consecrata, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa, ”Dalam hidupnya Santa Perawan menjadi teladan cinta kasih keibuan, yang juga harus menjiwai siapa saja yang tergabung dalam misi kerasulan Gereja demi kelahiran baru sesama mereka” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja artikel 65).

Sebagai putra-putra Maria, konstitusi FIC mengingatkan bahwa, “Hidup kita sebagai Bruder berada di bawah perlindungan istimewa Bunda Maria. Hal ini hendaknya diwujudkan dalam doa dan refleksi kita. Hari-hari pestanya, terutama pesta sebagai yang Terkandung Tak bernoda hendaknya dirayakan secara mesra oleh persekutuan kita. Kita memandang dan merenungkan kehidupannya, serta memohon pertolongannya di dalam doa-doa pribadi maupun doa bersama. Disamping doa-doa yang lain, doa rosario itu sangat bernilai. Ada banyak cara untuk mengungkapkan ikatan kita dengan Maria. Namun, ciri khas kongregasi kita yaitu kita masing-masing memberi tempat yang utama kepada Bunda Tuhan dalam hidup kita” (Konstitusi FIC artikel 75). Pararel dengan hal tersebut, Vita Consecrata artikel 95 mengingatkan kita bahwa, “kepada semua anggota hidup bakti, untuk menurut tradisi-tradisi mereka sendiri setiap hari membarui persatuan rohani mereka dengan Santa Perawan Maria, dengan bersama dia menghayati misteri-misteri Putranya, khususnya dengan berdoa rosario”. Bagian terakhir ini kita bisa baca juga dalam Kompendium ikhtisar Katekismus Gereja Katolik no 198.

Kehadiran dan penghormatan kepada Bunda Maria mendapat banyak cara pada masa kini seperti juga sudah berlangsung dalam tradisi Gereja selama berabad-abad. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa, ”Jangkauan karyanya luas: melalui iman dan kesalehan masing-masing umat beriman; melalui tradisi keluarga Kristiani atau ”gereja-gereja lokal”, malalui paroki dan jemaah-jemaah misioner, melalui lembaga religius dan keuskupan; melalui gemerlap dan daya tarik tempat-tempat suci di mana bukan hanya individu dan perkumpulan, malahan seluruh benua, berusaha bertemu Bunda Tuhan, satu-satunya yang terberkati karena percaya, adalah yang pertama di antara umat beriman dan karena itu menjadi Bunda Emmanuel. Inilah kabar dari tanah Palestina, tanah air rohani semua umat kristiani karena tanah itu adalah tanah air Penyelamat dunia dan Ibunda-Nya. Inilah kabar gembira dan banyak gereja di Roma dan seluruh dunia yang telah bangun dalam perjalanan berabad-abad karena iman kristiani. Inilah kabar gembira dari pusat penghormatan seperti Guadalupe, Lourdes, Fatima dan lain-lain tempat di berbagai daerah (entah Kerep Ambarawa, Ratu Kenyo Giriwoyo, Sendang Sono, dll, kita bisa mengisinya sesuai tempat jiarah yang membantu kita berdoa lewat perantaraan Bunda Maria). Mungkin orang akan menamakannya suatu iman khusus dan devosi kepada Maria yang bersifat kedaerahan, yaitu yang mencakup semua tempat-tempat khusus jiarah tersebut: di situ Umat Allah ingin bertemu dengan Bunda Allah guna menemukan, dalam kaitan kehadiran Ibu yang ”percaya”, kekuatan iman mereka sendiri. Karena dalam iman Maria, pertama-tama ketika Pewartaan malaikat dan kemudian pada kaki Salib, terbukalah kubah rohani di dalam umat manusia yang dapat dipenuhi oleh Bapa kekal ”dengan tiap berkat rohani”. Inilah ruang ”Perjanjian baru dan kekal”, yang berlanjut adanya dalam Gereja, yang dalam Kristus merupakan suatu jenis sakramen atau tanda persatuan erat dengan Allah, dan persatuan dengan umat manusia seluruhnya”. (Redemptoris Mater artikel 28).

kita berharap melalui kepengantaraan Bunda Maria, kita semakin dimampukan menjadi pribadi yang semakin beriman seperti yang diteladankan olehnya. Sejak mendapat Kabar Gembira sampai menemani Yesus dalam jalan salib dan wafat-Nya di kayu salib, dapat kita telusuri jalan iman Bunda Maria kepada kehendak Allah. Dengan iman kita menyampaikan doa-doa kita dalam pengantaraan Bunda Maria. Semoga kita semakin dimampukan untuk bertekun dan setia dalam meneladan hidup Bunda Maria dalam memberikan diri kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus di dunia ini.






2 KOMENTAR
02.10.2012 19:19:39
Artikel yang sangat bagus. Memberi pengetahuan dan pencerahan tentang Maria sebagai perantara doa-doa kita. Pertanyaan sering muncul dalam renungan doa Rosario. Mengapa berdoa lewat Bunda Maria? Artikel ini sangat membantu untuk menjawabnya. Trima kasih Bruder. Menulislah terus....! Mengapa bulan Oktober disebut juga bulan Rosario? Ditunggu artikelnya........Tuhan memberkati.
MARIA IMMACULATA  
05.08.2017 18:46:54
Shalom. Mari kita sebut nama Maria dengan nama Ibraninya yaitu Miryam. Miryam adalah seorang perempuan muda Yahudi yang sederhana yang terpilih secara khusus dihadapan Adonai ( Tuhan ) untuk menjadi ibu titipan AnakNya, Yeshua haMashiach atau yang oleh sebagian besar umat Kristen biasa sapa sebagai Yesus Kristus. Beliau hanyalah manusia biasa, yang karena kasih karunia Adonailah yang menjadikannya ibu bagi Mesias yang lama dinantikan oleh bangsa Israel. Bersama sama dengan Yosef/Yusuf suaminya, beliau membesarkan dan mendidik Yeshua dalam iman kepada Adonai dan kepatuhan terhadap Torah yang disampaikan melalui Moshe. Dalam Yudaisme tidak dikenal adanya pengantaraan doa melalui manusia. Doa hanya boleh dipanjatkan hanya kepada Adonai atau bagi para pengikut Yeshua, doa dipanjatkan dalam namaNya.
DENIS  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 1 ms