Komunitas Bruderan FIC Sedayu berdiri pada tahun 1974. Sebuah rumah di desa, kurang lebih 10 km ke barat dari kota Yogyakarta. Melalui jalan ke Sentolo. Pedusunan Sedayu terletak kurang lebih 1 km dari jalan raya, utara rel kereta api. Daerah persawahan tanah orang Jawa dan Paroki Jawa tulen. Akibat perang, paroki yang dirintis oleh Pastor De Hoog SJ sejak tahun 1924 mengalami kemunduran. Paroki Sedayu tidak bergerak lagi pada banyak bidang, ada orang katolik yang kembali lagi ke agama kejawen.
Pada tahun 1950 Paroki Sedayu hidup kembali, organisasi-organisasi dibentuk dan beberapa sekolah didirikan atas usaha paroki. Pada tahun 1962 dibangun SMP, tahun 1967 dibangun SPG dan SMEA. Tahun 1968 dengan senang hati paroki menerima, ketika Yayasan Pangudi Luhur menyatakan sanggup untuk membantu sekolah-sekolah tersebut. dan pada tahun 1971 SD yang diurus Yayasan Kanisius diambil alih oleh Yayasan Pangudi Luhur.
Dewan Provinsi Indonesia tertarik untuk membuka komunitas di Sedayu. Sebuah desa ,perkembangan desa, rumah desa dan komunitas kecil.Pada waktu itu maksudnya tidak selalu jelas, dan tidak seratus persen jelas apa latar belakangnya dan bagaimanakah mewujudkannya..
Ketika Keuskupan Agung Semarang menetapkan Yogyakarta sebagai kota tertutup karena terlalu banyak ordo dan kongregasi mendirikan cabang di kota Yogyakarta. Oleh karena kebijaksanaan keuskupan maka beberapa kongregasi mendirikan cabang dekat Yogyakarta, sebab Yogya akan menarik panggilan bagi tarekat itu sendiri. Maka ada baiknya dibangun pintu keluar Yogyakarta. Disamping perhatian untuk perkembangan desa, Dewan Provinsi juga menyambut Sedayu sebagai pintu keluar dari Yogyakarta.
Dengan itu, permohonan Pastur Wiryadarmaja Pr seakan merupakan petunjuk jelas ke mana akan mencari. Pada tahun 1974, Br. Yustinus Purwana, Br. Yohanes Muryadi, Br. Aloysius Sutiarta berangkat ke Sedayu, bermukin di dalam ruangan pekerjaan tangan SPG.Br. Aloysius memperhatikan SMP, Br. Yohanes Muryadi SPG dan Br. Yustinus SD. Setelah beberapa tahun situasi telah berubah, Br. Hugo Darmoseputra datang untuk mengurus SPG sedangkan Br. Yohanes pindah ke SMP sambil studi.
Ternyata Sedayu memenuhi dua tujuan, pendidikan SD, SMP, SPG tetapi juga sebagai komunitas mahasiswa. Meskipun Itu bukan kebijakan yang ditujukan dengan sengaja, hanya terpaksa saja. Pada tahun 1977 komunitas Sedayu menerima satu mahasiswa lagi yaitu Br. Alfon Marzuki. Tahun 1978 susunan komunitas berubah lagi: Br. Yustinus Suryatno, dan Br. Nikolaus Prasaja, studi katekese semua perubahan mencerminkan problem yang menantang Dewan Provinsi. Apa yang belum mungkin pada waktu itu barang kali akan terwujud pada saat kemudian.
Sekolah-sekolah diterima dalam lingkungan Yayasan Pangudi Luhur, maka menerima bimbingan teratur. Kongregasi membangun SPG yang sekarang SMA PL Sedayu dan pengembangan selanjutnya membangun SMP di Kaliduren. Maka kedatangan FIC betapapun sedikit berarti bagi pendidikan dan pengajaran dan akan bagus untuk masa-masa mendatang.
Dalam perkembangannya SMA PL Sedayu mulai tahun ajaran baru 2008 membangun dua unit asrama putri yang bekerja sama dengan para suster HK, sehingga memudahkan bagi para siswa putri yang rumahnya jauh dari sekolahnya.
Beberapa Bruder yang saat ini memperkuat komunitas Sedayu antara lain Br. Yohanes Wariso, Br. Agus Mujiya, Br. Martinus Sariyo Giri dan Br. Valentinus Vembriyanto.