Dalam Kongregasi FIC, nama Maria tidak hanya hadir sebagai bentuk penghormatan devosional, tetapi merupakan identitas spiritual yang menjiwai hidup, pelayanan, dan kesetiaan para Bruder dalam mengikuti Kristus. Sejak awal berdirinya, inspirasi Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda telah menjadi sumber kekuatan rohani yang membentuk corak khas spiritualitas Kongregasi. Inspirasi ini tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan terus mengalir hingga kini, mengikat para Bruder dalam satu semangat kesetiaan kepada Allah.
Perumusan makna Maria dalam Konstitusi pasca Konsili Vatikan II menegaskan identitas ini. Artikel 12 dan 75 menjadi pijakan teologis dan spiritual, menyatakan bahwa “Santa Perawan Maria adalah pelindung Kongregasi kita. Kita berbahagia menempatkan hidup kita di bawah perlindungannya yang istimewa. Kita menyebut diri kita ‘Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda…’” (Konstitusi, 12). Rumusan ini bukan sekadar pernyataan normatif, melainkan cerminan dari pengalaman iman yang sejak lama dihayati para pendiri, terutama Mgr. L.H. Rutten dan Br. Bernardus Hoecken.
Konstitusi pembaruan tahun 1967, lahir dari Kapitel Umum Khusus, merupakan buah pembaruan rohani yang intens, sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II. Berbeda dari Konstitusi sebelum Konsili Vatikan II (1936) yang lebih legalistik, Konstitusi ini menampilkan pemahaman hidup bakti yang kontekstual, evangelis, dan terbuka pada Roh. Proses penyusunannya melibatkan discernment, studi, konsultasi dengan para ahli serta melibatkan seluruh Bruder. Hasilnya adalah Konstitusi Uji Coba yang kemudian disempurnakan menjadi Konstitusi definitif—sebuah pedoman hidup yang tetap kontekstual namun berakar pada tradisi iman yang dalam. Dalam konteks ini, penempatan Maria sebagai pelindung bukan sekadar devosi tambahan, tetapi dasar spiritualitas yang menyatukan Kongregasi.
Ecce Mater Tua: Maria dalam Hidup Para Pendiri
Kedekatan para pendiri dengan Maria Tak Bernoda tampak jelas dalam kesaksian hidup mereka. Pada kartu obituari Mgr. Rutten tahun 1891, bagian depan tergambar Maria berdiri di kaki salib bersama murid yang dikasihi (Yoh 19:25–27), dan bagian belakang dengan riwayat hidup singkat diertai doa indah: “Perawan Tak Bernoda, aku telah mempersembahkan diriku kepada-Mu sejak kecil… Engkau adalah pelabuhan di mana aku menemukan perlindungan.” Di pojok bawah tercantum gambar Maria Tak Bernoda dengan doa sederhana: “Maria zonder vlek Onvangen, Bid Voor Ons” (Maria yang Dikandung Tanpa Noda, doakanlah kami).
Demikian pula kartu obituari Br. Bernardus tahun 1880 memuat doa pribadi: “Aku menaruh kepercayaanku pada Maria, dan pada-Nya kutumpukan harapanku. Wahai Maria, sungguh berbahagia mereka yang melayani Engkau… Hati Manis Maria Dikandung Tanpa Noda, jadilah perlindunganku.” Doa-doa ini mencerminkan bukan hanya iman pribadi, tetapi iman komunitas yang tumbuh dari devosi yang hidup.
Pengalaman iman Rutten dan Bernardus menemukan makna mendalam dalam sabda Yesus di kayu salib: “Ecce Mater Tua… Ecce Filius Tuus” (Yoh 19:25–27). Mereka menerima Maria sebagai ibu, dan dengan itu mewariskan kepada Kongregasi semangat devosi yang radikal. Bagi mereka, Maria bukan sekadar teladan, melainkan pelindung yang nyata dalam perjalanan penuh tantangan. Br. Bernardus bahkan menulis dalam analen: “…tanpa perlindungan khusus Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda itu, kongregasi kita sudah mati pada saat kelahirannya.”
Semangat ini ditegaskan kembali dalam surat pastoralnya pada pesta 25 tahun Kongregasi: “Menurut pandangan manusia, masa depan sangat gelap dan hampir tak ada harapan… Tetapi, para bruder yang tercinta, apa yang merupakan pertolongan dan kekuatan dalam segala kesukaran itu? Doa sederhana dari anak-anak miskin dan kepercayaan sebagai anak akan perlindungan Bunda Perawan kita yang Tak Bernoda.” Devosi kepada Maria menjadi roh yang menghidupi Kongregasi dalam perjalanan penuh kesulitan dan kerentanan.
Relasi mendalam ini juga tampak ketika Br. Bernardus menulis Petunjuk-Petunjuk untuk Para Pemimpin—yang ia awali dengan doa yang isinya antara lain bahwa petunjuk-petunjuk itu disusun untuk menghormati Maria. Menurutnya, pemimpin adalah figur penting yang harus meneladani keutamaan Maria dalam membimbing para bruder. Rutten pun sejak awal menegaskan hal yang sama: “saat Bernardus mengikrarkan profesi pertama tahun 1842, ia menerima kartu kenangan dengan tulisan: “Wees o Maria, Uwe Congregatie Indachtig” (Ya Maria, ingatlah Kongregasimu). Tulisan itu menghiasi gambar simbol Maria “M besar” yang diapiti bunga lili dan mawar. Identitas Kongregasi sebagai Bruder Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda bukan sekadar nama, melainkan buah iman yang dalam.
Setelah pulang dari Roma pada 1848 (mendapatkan pengesahan sementara Konstitusi), Rutten menulis surat kepada Mgr. Swijzen dengan penuh syukur: “Para bruder kini dapat menggunakan nama Bruder dari Maria yang Dikandung Tanpa Noda.” Kemudian, pada tahun 1849, Rutten merenovasi pastoran di paroki asalnya St Mathijs menjadi rumah bagi perempuan miskin, dengan tulisan di fasad: “Sub Auspiciis Immaculatae Virgini Surrexi” (Aku bangkit di bawah naungan Perawan Maria yang Tak Bernoda). Selanjutnya, pada tahun 1852, untuk mengamankan properti sebagai aset permanen Kongregasi, pimpinan kongregasi memutuskan untuk mendirikan entitas hukum, karena pengakuan hukum sipil belum memungkinkan. Dewan Umum secara resmi mendaftarkan kongregasi sebagai lembaga hukum (Zedelijk Lichaam) pada 23 Oktober 1852 berdasarkan akta notaris M.H. Haenen di Maastricht, dengan semboyan: “Sub praesidio Beatae Mariae Virginis, sine macula conceptae” (Di bawah perlindungan Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda). Dewan pengurus terdiri dari sepuluh Bruder senior (Bestuur). Bruder Bernardus ditunjuk sebagai pemimpin (Bestuurder) dan sembilan anggota lainnya adalah anggota (Leden). Sejak saat itu, semboyan “Sub Praesedio Beata maria Virginis, Sine Macula Conceptae, juga ditulis dengan ukuran besar di depan altar Kapel Biara Induk pertama. Peristiwa penting berikutnya adalah pada tahun 1861, Mgr L.H Rutten menyumbangkan jendela kaca patri bergambar Maria Tak Bernoda ke Gereja St. Mathijs dalam rangka mengenang 20 tahun ayahnya meninggal. Tentu masih banyak peristiwa-peristiwa penting lain termasuk perayaan-perayaan liturgis yang sangat kaya. Semua ini menegaskan bahwa sejak awal, Kongregasi dipersembahkan kepada perlindungan Bunda Maria yang Dikandung Tanpa Noda.
Komunitas juga menghidupi apa yang sudah dihayati Mgr Rutten dan Br. Bernardus. Pada peringatan 50 tahun Kongregasi berdiri, sebuah buku diterbitkan dengan judul "De Congregatie der Broeders van De Onbevlekte Onvangenis, Gevestigd te Maastricht, gedurende de eerste halve eeuw van haar Bestaan, 1840 - 21 November-1890". Pada halaman awal buku disajikan satu halaman doa kepada Maria Dikandung Tanpa Noda (Ave Maria Immaculata). Doa Ave Maria Immaculata adalah ungkapan syukur dan permohonan kepada Bunda Maria yang Dikandung Tak Bernoda sebagai pelindung Kongregasi. Di dalamnya tersirat harapan agar Maria melindungi dan mendoakan karya serta menjaga para anggota dari kelemahan dan dosa. Doa ini juga memohon agar rahmat yang dicurahkan melalui Maria terus berlimpah bagi jiwa-jiwa yang setia melayani Allah.
Dalam rangka 50 tahun meninggalnya Br. Bernardus (1830), sebuah buku diterbitkan dengan judul "In Dankbare Herinnering" (dalam Kenangan Penuh Syukur). Di cover luar bergambar seorang Bruder yang merangkul seorang murid, dengan tangan kanannya menunjuk kepada gambar Maria Dikandung Tanpa Noda. Pada halaman awal buku itu juga disajikan doa kepada Maria Dikandung Tanpa Noda dalam bentuk puisi (Aan d'Onbevlekte), yang merupakan ungkapan pujian dan doa kepada Bunda Maria yang Dikandung Tak Bernoda. Isinya memuliakan Maria atas kesucian dan keutamaan yang dianugerahkan Allah kepadanya, serta mengakui kelemahan manusia yang hanya mampu mempersembahkan hati yang sederhana. Di akhir doa, memohon agar Maria berdoa bagi umat agar suatu hari mereka dapat memandangnya dengan hati yang bersih dari dosa dan turut memuliakannya dalam pujian abadi. Setelah doa tersebut, ditempatkan sebuah lukisan Maria Tak Bernoda dengan bunga lili yang dilukis oleh seorang Bruder, dengan tulisan: Maria, Onbevlekte Onvangenis, Patroness der Congregatie.
Untuk mengenang Rutten dengan semangat hidup rohaninya, di depan kapel rumah induk pertama, salah satu fasad dipersembahkan untuk Rutten dan satu lainnya untuk donatur Ny. Vessen. Untuk Rutten ditulis: "Deum Unice Quaesivit, Immaculatam Semper Coluit, Pueris Instruendis Vixit" (“Ia hanya mencari Allah, selalu menghormati Maria yang Tak Bernoda, dan mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak.”).
Mengapa Maria yang Dikandung Tanpa Noda?
Dogma Maria di dalam Gereja bukanlah previlese pribadi Maria semata, tetapi juga previlese atau anugerah Allah untuk Gereja. Maka hindari pemahaman yang menempatkan Maria terpisah dari kemanusiaannya yaitu menempatkan Maria pada dimensi yang lain. Namun “dogma” itu sendiri adalah “aksi” Allah melalui Maria. Maria adalah manusia biasa yang dipilih Allah. Ia menjadi ikon rahmat, manusia yang sepenuhnya terbuka pada Allah. “Checharitomene”, yang penuh rahmat, adalah identitas Maria yang sejak semula dilindungi Allah demi rencana penebusan.
Rutten memilih Maria Tak Bernoda bukan sekadar karena devosi pribadi, tetapi karena situasi zaman yang mengundang Gereja (pendiri) untuk terlibat mewartakan keselamatan. Ia lahir pada era Revolusi Prancis, ketika liberalisme dan sekularisme menyingkirkan agama dari ruang publik. Indifferentisme—sikap acuh tak acuh terhadap iman—menjadi ancaman besar. Rutten melihat perlunya pendidikan iman untuk anak-anak miskin agar tidak terjerumus dalam kebingungan moral. Ia menulis dalam proyek awalnya, tujuan Kongregasi adalah “mendidik dan mengajar kaum muda dalam ilmu pengetahuan kristiani dan duniawi menurut ajaran agama suci kita, agar mereka terbebaskan dari bahaya indifferentisme”.
Dalam konteks itu, Maria Tak Bernoda menjadi simbol perlawanan rohani. Jika sekularisme menolak rahmat, maka Maria justru menjadi ikon manusia yang sepenuhnya hidup dalam rahmat. Rutten yakin bahwa hanya rahmat Allah yang mampu mengatasi kekosongan spiritual zaman modern. Karena itu, ia menempatkan Kongregasi di bawah perlindungan Maria Tak Bernoda, sebagai tanda iman bahwa Allah setia menyertai karya kecil mereka.
Keyakinan ini juga terungkap dalam surat terakhir Rutten kepada para bruder pada 31 Desember 1886: “Semoga Allah yang baik, melalui doa perantaraan Santa Maria yang Dikandung Tanpa Noda, terus mencurahkan berkat-Nya yang berlimpah, baik berupa kesejahteraan jasmani maupun rohani… Untuk hal ini saya berdoa setiap hari, baik dalam Misa Kudus maupun doa-doa lainnya.” Sementara Br. Bernardus, sebelum wafat pada tahun 1880, menutup laporannya dengan ajakan untuk tetap menaati Konstitusi dan selalu memohon perlindungan Tuhan. Kesetiaan kepada Maria adalah kesetiaan kepada karya rahmat Allah sendiri.
Bunda Maria dalam Komunitas Sehati–Sejiwa
Warisan iman yang ditanamkan para pendiri Kongregasi FIC berakar pada devosi mendalam kepada Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Dalam Maria, mereka menemukan teladan keterbukaan total pada rahmat Allah, kesetiaan dalam penderitaan, dan semangat hidup bersama yang dilandasi kasih dan pelayanan. Para pendiri mewariskan semangat untuk mengalahkan diri sendiri dan bekerja sama dengan penyelenggaraan ilahi demi penyucian diri dan kesatuan komunitas. Warisan ini menemukan puncaknya dalam cara komunitas FIC menghayati hidup bersama.
Pada tahun 1960, jendela kaca patri baru dipasang di Gereja St. Mathijs untuk menggantikan yang rusak, termasuk sumbangan Rutten. Para Bruder memilih mendonasikan jendela bergambar Maria bersama para rasul pada Pentakosta, dengan tulisan “In Piam Memoriam Mgr. L.H. Rutten” dan kutipan Kisah Para Rasul 2:4: “Maka penuhlah mereka semua dengan Roh Kudus.” Simbol ini merupakan iman komunitas yang selalu menyadari Bunda Maria yang senantiasa hadir di tengah komunitas, membuka jalan bagi turunnya Roh Kudus. Konstitusi pun menegaskan: “Hari-hari pestanya, terutama pesta Maria yang Terkandung Tak Bernoda, hendaknya dirayakan dengan penuh kehangatan oleh komunitas… Sebagai pribadi yang merasul, kita ingin mendapatkan inspirasi dari Maria dalam pelayanan kasih terhadap sesama, kepekaan terhadap kebutuhan manusia, serta keterlibatan dalam bidang keadilan dan kebenaran.” (Konstitusi, 75). Dengan demikian, devosi kepada Maria tidak berhenti dalam doa pribadi, tetapi menjadi inspirasi nyata dalam pelayanan komunitas.
Pesan Br. Bernardus sebulan sebelum ia meninggal bahwa kita akan selalu menghadapi tantangan dan hambatan bahkan mungkin berat. Sebab dalam diri kita ada concupiscence, kecenderungan berbuat dosa (hawa nafsu) yang disebabkan dosa asal. Namun rahmat selalu disediakan oleh Allah dan Allah membutuhkan keaktifan dari kita, kerja sama untuk membuka diri (berjuang dan bekerja keras). Bernardus mengatakan: selama kita selalu mengandalkan Tuhan dengan pertolongan Bunda Maria, serta setia pada tugas dan tanggung jawab kita, rahmat akan berlimpah, Tuhan selalu menolong. Dengan demikian, kita juga menyadari bahwa komunitas kita bukanlah kumpulan pribadi yang sempurna, tetapi merupakan “ruang rahmat”. Di sana rahmat memampukan masing-masing anggota komunitas belajar untuk mengampuni, berdialog jujur, dan tetap berjalan bersama meski secara manusiawi rapuh. Bunda Maria Tak Bernoda menjadi teladan: ia hadir bersama para murid di ruang atas (Kis 1:14), menanti turunnya Roh Kudus, menjadi saksi kesatuan yang lahir dari doa dan pengharapan. Kehidupan komunitas pun dipanggil menjadi sehati-sejiwa—tempat di mana rahmat Allah bekerja melalui perbedaan, kelemahan, dan luka.
Seperti Maria yang terbuka pada kehendak Allah, komunitas dipanggil untuk terbuka pada karya Roh Kudus. Hidup bersama bukan sekadar berbagi rumah, melainkan berbagi rahmat: saling menerima, mendukung, dan menguatkan. Komunitas yang demikian menjadi tanda kehadiran Allah bagi dunia, cermin kasih Allah Tritunggal, sekaligus saksi Injil yang hidup.
Dalam semangat Maria Tak Bernoda, komunitas FIC terus diundang untuk menjadi ruang penyembuhan dan pertumbuhan iman. Rahmat yang sama yang menghidupi Mgr Rutten dan Br. Bernardus kini bekerja dalam setiap Bruder, agar mereka bersama-sama menjadi saksi kasih Allah. Bersama Maria, komunitas dibimbing untuk hidup sehati–sejiwa, setia pada doa, refleksi, dan pelayanan, hingga seluruh karya mereka memuliakan Allah yang telah memilih Maria sejak semula Tanpa Noda.
Pada akhirnya, devosi kepada Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda bukanlah sekadar tradisi yang diwariskan, melainkan sumber inspirasi yang terus hidup. Dalam dunia modern yang diwarnai sekularisasi, individualisme, dan ketidakpedulian terhadap iman, para Bruder FIC dipanggil untuk menimba semangat Maria: keterbukaan total pada rahmat Allah, kesetiaan dalam penderitaan, dan keberanian untuk membangun komunitas yang sehati–sejiwa. Dengan meneladan Maria, Kongregasi dipanggil untuk menjadi tanda kasih Allah yang menyembuhkan, mendidik, dan menghadirkan harapan, sehingga seluruh hidup dan karya benar-benar memuliakan Dia yang telah menjadikan Maria penuh rahmat sejak semula (Kekharitomene).
Oleh: Br. Wensislaus Parut, FIC
Penulis tinggal di komunitas Maastricht (Belanda)
(Artikel pernah dimuat di Majalah Komunikasi)