Senin, 06 Pebruari 2012  - 6 User Online  




Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC


27.04.2007 21:29:34 3957x dibaca
APAKAH SEKOLAH (KITA) MASIH MENJADI TEMPAT YANG BAIK UNTUK MENDIDIK GENERASI MUDA?
Oleh Agustinus

Tulisan ini bukan tulisan ilmiah yang mau menyampaikan data-data akurat tentang kecurangan-kecurangan Ujian Nasional. Tulisan ini hanya mau menyampaikan sebuah bentuk kegelisahan tentang salah satu fungsi sekolah dalam mempersiapkan generasi muda yang baik dan bertanggung jawab. Tulisan ini bebas untuk dikritik dan ditanggapi.

Kegelisahan saya mucul begitu besar dan kuat terhadap pertanyaan ini ketika selama pelaksanaan Ujian Nasional 2006-2007 baik ditingkat SMA/SMK dan SMP/Mts tanggal 17 – 19 April 2007 dan tanggal 24-26 April 2007. Berita-berita di surat kabar local dan nasional menyajikan berbagai bentuk kecurangan mulai dari pencurian soal oleh kepala sekolah, mencontek pekerjaan teman, pembocoran melalui pesan singkat (SMS), pembocoran jawaban ujian oleh oknum staff sekolah, kesepakatan kepala sekolah untuk memperlonggar pengawasan agar siswa leluasa bekerja sama dengan teman lain, pemberhentian seorang guru yang menolak perintah kepala sekolah untuk menjadi tim sukses UN di sekolahnya, pengawas yang membiarkan anak-anak mencontek sesuka hati. Melihat fakta-fakta ini semua, apakah sekolah masih menjadi tempat yang baik untuk mendidik? Sebuah pertanyaan yang layak untuk selalu direnungkan.

Sekolah masih dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat untuk membentuk diri generasi muda – anak-anak. Orang tua mengirim anak-anak ke sekolah yang dipilihnya dengan harapan besar anak-anak dapat berkembang baik segi pengetahuan kognitif dan segi integritas kepribadiannya. Orang tua berharap bahwa anak-anak diajari untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya secara baik bersama-sama dengan rekan-rekan yang lain. Selain itu mereka juga berharap agar anak-anak ini dilatih untuk bekerja keras, menghargai orang lain, bertindak jujur dan bertanggung jawab sehingga mereka akan siap mandiri dan menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab. Demikian besar harapan masyarakat akan peran dan fungsi sekolah sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan generasi muda tumpuan harapan mereka.

Saya merasa harapan ini begitu berat dan hampir tidak mungkin dilaksanakan oleh sekolah sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan masyarakat. Tugas ini semakin berat ketika system yang sedang berlaku dan mempengaruhi kinerja sekolah menghambat terlaksananya peran dan tugas tersebut. Fenomena kecurangan selama Ujian Nasional telah memberikan gambaran bahwa sekolah-sekolah cenderung melegalkan cara-cara yang tidak fair untuk mencapai tujuan. Sekolah tidak lagi mengajarkan bagaimana secara sportif mengahadapi tantangan dalam hidup seperti Ujian Nasional. Sekolah menjadikan cara-cara instant untuk mencapai sukses dengan mengabaikan rasa keadilan, kerja keras dari para siswa yang sungguh ingin berkembang menjadi pribadi yang dewasa. Pribadi-pribadi yang mestinya menjadi contoh bagaimana menghadapi persoalan-persoalan hidup ini dengan gagah berani, jujur, kerja keras tidak mampu memberikan contoh yang diharapkan. Sebaliknya dari merekalah muncul suatu cara kerja yang tidak fair dan melegalkan berbagai macam cara demi sebuah kelulusan Ujian Nasional. Lulus Ujian Nasional adalah dambaan setiap siswa dan guru namun demikian kelulusan Ujian Nasional dengan melukai maksud dan tujuan pendidikan dan perkembangan siswa merupakan kebohongan besar. Pada saatnya para siswa ini akan bertindak dengan model dan cara yang sama ketika harus menghadapi persoalan hidupnya di masyarakat. Mereka akan merekam pengalaman ini dan akan menggunakannya ketika harus berperan dalam masyarakat.

Oleh karena itu tidak usah heran kalau kemauan untuk membasmi Korupsi hanya menjadi macan di atas kertas karena kita sudah berhadapan dengan pola dan cara hidup serta budaya yang memang tercipta untuk melanggengkan kebiasaan buruk tersebut.

Tulisan ini bernada pesimistis, namun bukan maksud saya untuk menjadi pesimis. Tetapi saya mengajak pembacara untuk menyadari hal ini dan jika masih mungkin mencari alternatif bagaimana kita sebagai pendidik atau guru dapat menyiapkan anak-anak yang diserahkan kepada kita masing-masing, terlebih anak-anak kita sendiri dalam keluarga.




14 KOMENTAR
29.04.2007 11:28:08
Kegelisahan yang sama juga saya hadapi berkaitan dengan realita tersebut. Permasalahannya adalah bahwa praktisi pendidikan seperti guru, kepala sekolah dan staf pendidikan yang lain hanyalah menjadi alat dari \\\'pemerintah\\\' dan bagian dari skenario mereka. Maka, para praktisi itu tidak punya kewenangan atau kuasa apa-apa untuk melawannya, karena sudah tersistematisasi. Banyak solusi yang dapat dipikirkan, namun efeknya akan tetap sama, bahwa praktisi tetaplah praktisi yang berjuang untuk hidup dan terus menjadi alat pemerintah. Menurut saya, ada satu solusi yang mungkin bisa mengatasi yatiu jadikan Ujian Nasional sebagai pemetaan saja dan bukan sebagai penentu kelulusan, toh lulus UN tidak menjamin bahwa tujuan untuk \\\'long-term learning\\\' terwujud. Justru kemungkinan besar siswa belajar selama bertahun-tahun hanya supaya lulus UN. Betapa tragisnya!
PAULUS YANU ARMANTO FIC  
30.04.2007 14:16:31
Saya sependapat dengan pendapat anda. Masalahnya apakah sekolah termasuk bruder dan pangudiluhur masih berani kritis menyikapi masalah ini. Ada situasi seperti ini tapi para bruder yang katanya adalah pendidik banyak diam dan tidak berani berbicara atau memberi tanggapan. Dalam hemat saya menjadi pendidik yang baik tidak sekedar jadi guru di depan kelas namun juga berani bersikap. Mengapa para bruder cenderung membisu menghadapi situasi seperti ini. Dibutuhkan orang-orang lain yang berani bersuara lantang terhadap ketidakbenaran dan ketidakadilan semacam ini.
MARIA_EKSANTI  
10.05.2007 16:22:08
Kecurangan dalam UAN buat saya adalah suatu hal yang cukup mengejutkan. Secara pribadi, meskipun 2 tahun belakangan ini, saya mendapat sampur untuk mengajar kelas XII yang notabene itu berarti menyiapkan mereka untuk lulus dari UAN, tanggung jawab itu tidak terlalu membebani. Di satu sisi, saya punya siswa-siswa yang secara intelektual memang cukup beruntung. Di sisi lain, saya juga cukup beruntung dengan semua fasilitas belajar yang disediakan oleh sekolah guna menunjang sukses dalam UAN. Namun, saya juga sadar bahwa tak semua guru seberuntung saya, memiliki hampir semua hal yang menyenangkan untuk menjadi guru. Tidak ada yang salah dengan UAN sebenarnya. Yang salah dalam hal ini adalah bagaimana para praktisi pendidikan menyikapi UAN. Adalah layak jika suatu proses pendidikan dinilai dan diuji. Berarti masalah utamanya ada pada sikap para praktisi pendidikan. Sudahkah mereka sadar bahwa suatu proses pendidikan selayaknya mendapatkan pengujian agar terjaga kualitasnya?

Jika sudah tiba pada sikap, itu semua kembali pada diri para praktisi pendidikan itu sendiri. Jika mereka semua sadar bahwa UAN adalah suatu alat untuk kontrol kualitas, saya kira tidak ada yang perlu ditakuti setiap kali UAN dilaksanakan. Jika hasilnya buruk, itu berarti ada yang salah dalam proses belajar/pendidikan itu. Nah, itu berarti ada yang harus dibenahi. Jangan sekali lagi UAN dilihat sebagai beban. Memang tak mudah mengubah persepsi yang salah terhadap suatu kenyataan yang ada. Namun persis itu yang perlu kita lakukan. Ini memang tak mudah namun harus dicoba. Jangan pernah takut untuk dievaluasi karena evaluasi itu akan memberikan feedback untuk perbaikan di masa depan. Saya sungguh percaya itu. Saya kira masih banyak guru dan kepala sekolah yang tidak alergi terhadap suatu evaluasi. Dan semoga semua praktisi pendidikan di Yayasan Pangudi Luhur tidak ada satupun yang alergi dengan evaluasi.

EKA OKTAVIANTI  
14.05.2007 15:25:27
Kecurangan-kecurangan yang timbul dalam pelaksanaan Ujian, tentunya banyak sebabnya. Salah satunya yang dapat saya sampaikan adalah kurangnya pengharggan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi, dihayati dan diajarkan. Kecurangan dapat terjadi antara lain karena orang menganggap kejujuran tidak penting, yang mereka pandang penting adalah nilai ujian yang memenuhi standar minimal. Maka karena itu yang menjadi tujuan, segala cara dilakukan.
Saya rasa, saat ini perlu digiatkan dan diperhatikan lagi mengenai nilai-nilai kehidupan yang mendasari kehidupan ini. Nilai kejujuran, kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, perjuangan, tanggung jawab, dan masih banyak yang lain, yang sebenarnya sangat penting namun diabaikan.
Dan kiranya benar apa yang disampaikan Miss Eka, tentang alergi evaluasi. Dengan tidak mau dievaluasi, seseorang menunjukkan bahwa dirinya enggan untuk bekembang. Evaluasia yang bertujuan baik akan melihat nyata, bagaimana sesungguhnya. Ketika orang belum bisa menggambar, mestinya dikatakan belum bisa menggambar. Maka perlu latihan sendiri agar bisa dengan kemampuannya sendiri. Tetapi sekarang lain, orang belum bisa menggambar, bisa orang tersebut bisa menyuruh orang lain untuk menggambarkan, dan nanti tinggal menerima hasilnya yang bukan hasil kerjanya sendiri. Dengan hanya melihat hasil orang lain bisa juga guru, percaya bahwa itu hasil karyanya, maka bisa dinilai baik. Walaupun kenyataanyan itu buatan orang lain. Maka memang perlu selain dilihat hasilnya juga dilihat prosesnya.
Orang tidak mau dievaluasi, seumpama orang sakit, tidak mau diperiksa dokter atau tidak mau di chek kesehatannya. Maka kalau ingin sehat tetap bersedia dievaluasi, dan yang penting bersedia membarui diri ke arah yang benar.

GALIH  
22.05.2007 07:53:18
Saya tidak sependapat dengan pendapat saudara. Jadi mohon maaf. Menurut saya sekolah "di Indonesia" masih menjadi tempat yang terbaik untuk belajar, apapun bentuknya, hal ini jika dibandingkan dengan mereka yang tidak berkesempatan untuk sekolah "sekolah di jalanan". Adapun kecurangan yang terjadi adalah wujud adanya ketidakadilan, tidak meratanya pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan iman. Sebab apapun bentuk dari ujian akhir, kecurangan pasti tetap ada, hanya bagaimana sikap kita:
1. Apakah kita akan selalu membicarakan "mengadakan seminar, sarasehan dll" untuk mengurangi kecurangan itu, atau mencoba mengurangi dari diri kita.
2. Apakah kita akan menolak format yang sudah ada dengan tidak mengikuti Ujian Nasional dan "berdemo" tetapi ketika kita diminta memberikan bentuk lain yang bebas dari kecurangan "tidak bisa"

Jadi menurut saya sekolah masih menjadi tempat yang terbaik untuk pendidikan anak saya. Terima kasih.

TOTOK  
08.07.2007 07:07:13
Dalam dunia yang semakin sarat dengan persaingan, sangatlah baik menurut saya tetap ada semacam "berkaca" pada diri sendiri. Hal yang bagus ini nampak melalui forum ini. Sebagai orang yang sama sekali buta dengan keberadaan sekolah PL, saya hanya bisa memberi komentar. Sejauh ini sekolah sekolah FIC dikenal BAIK. Namun seperti kita ketahui bahwasanya para bruder FIC adalah insan-insan yang memang memberi tampat istimewa dalam dunia pendidikan sudah sewajarnya untuk meningkatkan mutu sekolah. Kaitannya dengan kelayakan, pasti akan ditemui banyak kendala selain semakin menjamurnya sekolah sekolah borjuis, serta makin tergusurnya nilai moral saya masih menganggap layak bahwa sekolah -sekolah PL masih merupakan tempat yang LAYAK, untuk pendidikan. Karena selain pendidikan formal, sekolah PL tetap memberikan nilai religius dan sekaligus Promosi tarekat FIC seperti di St.Yosep Solo. Menurut saya untuk semakin baiknya mutu mengingat sekolah PL adalah sekolah Katolik, maka tak perlu takut-takut untuk menonjolkan nilai-nilai kekatolikannya. DEUS GRATIAS DAT
GUIDO SHYANTICA  
16.07.2007 00:31:11
Sekarang saatnya mengawali tahun ajaran baru. Nah agar supaya semua dapat berhasil dengan baik, paling tidak anak kita sendiri kita persiapkan untuk mengikuti segala bentuk evaluasi tahap akhir, terlebih unuk anak2 kita yang berada pada kelas 9 atau 12. Selain kita persiapkan mereka dengan berbagai cara, akan lebih baik jika orang tua ikut menemani/membantu mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian secara langsung. InsyaAllah semua dapat kita jalankan dengan sebaik-baiknya...dan kita tidak khawatir lagi dengan pendidikan di Indonesia. Yang paling penting adalah tindakan nyata.Selamat berjuang....
IRA  
01.12.2007 16:11:20
Sdr. Agustinus, saya sangat ter-'enyuh'. Ternyata cukup ada orang yang fair melihat fakta itu. Motivasi tulisan Sdr untuk kebaikan di masa mendatang dalam tulisan diatas adalah sentral maksud tulisan itu.

Bagi saya ada sebuah paradigma yang perlu dikoreksi dalam mengawali perbaikan. Paradigma masyarakat yang perlu berubah. Tempat sekolah formal bukan tempat pendidikan segalanya. Pendidikan sejatinya berada dalam hidup keseharian masyarakat. Sekolahan adalah bagian takterpisahkan dari masyarakat. Sekarang ini, daya darong masyarakat mampu membobol dinding sekolah. Makanya sampai kapanpun jika hal ini yang terjadi maka sekolah sesuai penelaian Sdr akan tetap terjadi.

Paradigma masyarakat "sekolah adalah segalanya" memberi arti sejuta harapan dapat dipetik dari proses sekolahan. Bila paradigmanya dibalik, maka masyarakat akan terintegrasi dalam proses pendidikan.

Mengapa demikian?. Saya pikir akan panjang jawabannya. Saya pikir Sdr juga sudah paham itu.

Integritas masyarakat dalam proses pendidikan adalah mutlak.

Kita perbaiki dari mana?. Menurut saya, mari mulai dari individu-individu memberikan contoh dalam segala ruang dan waktu.

SURAHMAN  
26.02.2008 20:00:57
UAN? apa yang mau diukur? hanya membikin resah sekolah yang bermutu baik. Dari mulai penggandaan soal sampai pendistribusian sudah riskan untuk gak bener, aplagi kunci jawaban kok bisa beredar begitu, sudah gak usah ada UAN saja.Dengan ujian yang diselenggarakan sendiri oleh sekolah lebih aman. Pemerintah kalau masih menginginkan ada UN, cari cara dan lakukan langkah pengamanan yang sungguh-sungguh supaya tidak terkesab hanya sebagai proyek yang sarat dengan permaslahan uang.Thanks-----Anton
ANTON S SUDARSONO  
26.04.2009 03:06:14
uan bukan tolak ukur keberhasilan pendidikan!!!sekolah gak untuk cari nilai angka pren, tapi yang kita cari itu ilmu!!

jadi untuk bapak dan ibu guru jangan menuntut anak untuk mendapatkan nilai yang bagus, tapi tuntutlah mereka untuk paham dengan penyampaian anda!!

buat para murid. janganlah mendambaka-dambakan nilai!!

NISRINA  
25.06.2009 20:25:54
sependapat dengan saudara...

uan, jika kita melihat dari segi positif, tentulah dapat membuat anak2 paham akan pelajarannya...

masalahnya adalah apakah pelajaran yang diajarkan di sekolah menjadi suatu keharusan, suatu hal yang mutlak untuk meraih sebuah penghargaan di masyarakat? tentunya tidak

masyarakat tidak membutuuhkan nilai uan, masyarakat tidak membutuhkan teori-teori yang diajarkan di sekolah. yang masyarakat butuhkan adlaha aplikasi dari apa yang m,ereka dapat di sekolah.

jika kita hanya diajarkan berteori tanpa dapat mengaplikasikan hal2 yang kita pelajari di sekolah, untuk apa sekolah?

ARDI  
25.11.2009 08:41:46
UAN tidak dapat menguntungkan kita, karena beberapa alasan :
1. hanya untuk beberapa mata pelajaran, sehingga mata pelajaran lain dianggap remeh siswa
2. menekan mental siswa yang kurang ahli dalam bidang tersebut
3. terjadi bocoran kunci jawaban oleh oknum-oknum tertentu
4. menimbulkan rasa tidak percaya diri siswa yang tidak lulus UN untuk masa depannya
5. mempersulit siswa-siswa dari daerah terpencil

jadi, meskipun UN untuk mengukur pengetahuan siswa, tetapi hanya cocok untuk siswa-siswa yang berasal dari sekolah yang layak atau bagus saja.

SUARA SISWA  
13.02.2010 05:14:01
uan adalah kebijakan pemerintah kita yang mengatakan wajib sekolah 9 tahun tetapi tidak memperhatikan kualitas guru. ini berdampak pada sekolah itu sendiri. tentu sebuah sekolah ingin menjaga gengsi masing-masing sehingga tahun depan lebih banyak menerima jumlah murid.

IUB  
15.08.2010 22:04:35
Beginilah pendidikan di Indonesia...meskipun sistem dan aturan selalu diperbaiki, nampaknya akan berujung pada hasil yang sama.Logika dasarnya, dalam sebuah pertandingan sepak bola, secanggih apapun taktik dan strategi, yang menentukan adalah pemain itu sendiri. Indonesia akan selalu seperti ini jika belum ada perubahan tiga generasi...
FALIDAN AHMAD  http://www.falidanahamd.blogspot.com

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 4 ms