14.07.2007 21:10:38 1034x dibaca
BERTINDAK BUKAN BERKATA-KATA SAJA
Oleh Agustinus
Melihat kehidupan sehari-hari
Kejadian-kejadian setiap hari memberikan inspirasi kepada kita bagaimana sebaiknya kita menjalani hidup ini. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan sumber kebijaksanaan yang kalau bisa dipahami dengan baik akan membuat kehidupan yang kita bangun setiap hari semakin bermutu. Dalam tulisan ini saya akan sharing dengan para pembaca apa yang saya lihat, dengar, rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kejadian-kejadian seperti perkelahian antara kelompok masyarakat, mendiskreditkan golongan atau kelompok lain demi mencapai tujuan kelompoknya sendiri, menganggap kelompok sendiri lebih baik dan menganggap kelompok lain harus dihancurkan, persaingan antar kelompok masyarakat dengan cara-cara yang tidak fair merupakan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan adanya ketimpangan dalam kehidupan ini. Ketimpangan tersebut terdapat pada kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu yang baik dan bagaimana seseorang menjalani pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki pengetahuan yang baik tentang bagaimana hidup bersama orang lain tetapi tidak bisa mengahayatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Injil Lukas 10:25-37 mengajak kita merenungkan hal-hal berikut dalam mengikuti Yesus. Pokok-pokok renungan tersebut adalah keselarasan antara pengetahuan dan tindakan, primordialisme vs cinta universal.
Tahu dan bertindaklah
Dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hari Yesus memberikan pelajaran kepada kita bahwa pengetahuan yang baik belumlah cukup. Pengetahuan harus menuntun orang untuk melakukan tindakan yang baik pula. Yesus sangat paham dengan orang Yahudi yang dengan tekun mempelajari Alkitab dan hokum taurat. Mereka memiliki pemahaman yang sangat baik tentang bagaimana mencintai sesame. Ketika orang Yahudi bertanya kepada Yesus, “Apa yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dia lalu bertanya mengenai pengetahuan yang mereka peroleh lewat hukum taurat. Dengan sangat fasih orang Yahudi itu menjawabnya. Yesus membenarkannya.
Pertanyaan aneh dari orang Yahudi diluncurkan kepada Yesus,” Siapakah sesamaku manusia?” Sebuah pertanyaan yang terlihat sangat bodoh. Namun demikin Yesus membimbing orang ini untuk lebih mengerti dan membuka dirinya. Yesus menggunakan perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati, yang dalam tradisi kehidupan Yahudi orang Samaria adalah menjadi musuh. Yesus mempergunakan hubungan ini untuk mengajar orang Yahudi.
Yesus membimbing orang Yahudi untuk sampai pada kesadaran bahwa mencintai sesame harus disertai tindakan konkret. Pertanyaan Yesus, “ Menurut pendapatmu, siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesame manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? “Orang yang telah menunjukkan belaskasihan kepadanya” kata orang Yahudi itu.” “Pergilah dan perbuatlah demikian!, kata Yesus. Yesus mendorong kita semua untuk bertindak bukan hanya memiliki pemahaman baik dan pandai berkata-kata. Mencitai Tuhan dan sesama membutuhkan tindakan konkret.
Mencintai secara universal
Hubungan orang Yahudi dan orang Samaria digunakan oleh Yesus untuk menyampaikan pesan bahwa mencintai Allah dan sesama dengan segenap hati merupakan cinta yang universal melampaui batas-batas kelompok. Kita diajak untuk keluar dari sikap primordialisme. Sebuah sikap yang hanya menganggap yang dimiliki yang paling baik, yang diluar dirinya tidak baik dan kalau perlu dihilangkan. Kejadian-kejadian disekitar kita memberikan tantangan untuk sungguh-sungguh memperhatikan hal ini. Bagaimana kah kita dapat mencintai sesama tanpa harus melihat perbedaan-perbedaan suku, agama, ras, status social. Inilah pesan Injil pada hari ini semoga dapat menolong kita untuk semakin mencintai Tuhan dan sesama.
KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :