Senin, 06 Pebruari 2012  - 6 User Online  




Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC


12.11.2008 17:21:05 784x dibaca
MENJADI ABDI NEGARA DI BUMI AFRIKA.
Oleh Br. Martinus Dariyo FIC

Setelah lima belas tahun mengajar di PGSD Katholik Montfort College, saya dipindahkan di PGSD Negeri Blantyre (Blantyre Teacher Training College, BTTC), dan mulai bekerja pada minggu pertama Januari 2007.Ini adalah perguruan tinggi yang cukup luas , terdiri dari 16 kelas dengan penghuni 837 siswa-siswi berasrama. Saya mengajar Expressive Arts di semua kelas. Ada empat tutor mengajar Expressive Arts. Satu diantaranya adalah seorang volunteer asal Jepang. Sejak tahun 2006, Malawi mengikuti kurikulum baru, yakni O.B.E. (Outcome Based Education). Gagasan OBE sangat mirip dengan KTSP di Indonesia.


Ketika saya mengajar di Montfort College, saya tidak menerima gaji. Montfort adalah institusi Katolik bersubsidi, mendapat bantuan dari pemerintah. Dalam memorandum of understanding, ditegaskan bhw tenaga pengajar dari luar negeri (expatriate/missionaries) mendapat tunjangan hidup yang bisa dibayar dari uang bantuan pemerintah.Karena bantuan itu tidak mencukupi, dlm kenyataan saya tidak mendapat tunjangan. Sepengetahuan saya para missionaris asal Belanda yg bekerja bertahun-tahun di Montfort tidak pernah mendapatkan tunjangan. Jalan pintas ditempuh. Bantuan tahunan dari kongregasi FIC dipotong untuk membayar tunjangan missionaris. Problem solved!!!


Karena sekarang saya mengajar di institusi negeri, saya perlu mendapat gaji penuh. Saya mengirim surat kepada pemerintah dan dua bulan kemudian saya masuk dalam daftar penggajian. Ijasah dan masa kerja 15 tahun di Montfort diperhitungkan. Maka saya digaji sebagai pegawai senior.Sebagai pegawai pemerintah, saya harus mengikuti tata tertib peraturan pemerintah. Waktu di Montfort saya bertugas menyusul jadwal pelajaran. Karenanya saya bisa mengatur jam-jam saya sesuai dengan keinginan saya. Sekarang, saya harus ikut jadwal yg ditentukan oleh panitia. Saya harus mengajar pada hari Jumat sore, jam terakhir yakni 15.00-16.00. Ini adalah jam yang selalu dihindari oleh para pengajar.


Dari 35 tenaga pengajar, ada tiga orang (termasuk saya) yang mendapat jatah terbanyak yakni 16 jam pelajaran seminggu. Satu jam pelajaran berlangsung selama 60 menit. Hari kerja: Senin sampai Jumat.
Selama hari kerja tak seorangpun diperbolehkan meninggalkan kampus tanpa ijin. Jadi saya harus berada dikampus dari jam 7.30 sampai jam 16.00 setiap hari. Saat makan siang, cukup menyantap “sandwhich” dan teh yang saya siapkan di kantor guru. Setiap pengajar mempunyai kantor. Sesudah makan siang sampai jam 14.00 adalah saat istirahat siang. Saat ini digunakan untuk melayani para siswa-siswi khusunya mereka yang mendapat tugas “praktek mengajar”Hari Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk kegiatan “bina iman” bagi para siswa-siswi Katholik.


Tahun ajaran 2008-2009, dimulai hari Senin 10 November 2008. Saat ini Blantyre TTC menampung 913 siswa-siswi, semua berasrama dan gratis. Tahun ajaran yang lalu, jumlah siswa/siswi: 857. Mereka yang Katholik berjumlah lebih dari 250. Saya menawarkan diri untuk mendampingi mereka, mengadakan pertemuan rutin “bina iman”. Dibandingkan dengan mayoritas yang beragama Kristen Protestan dari beberapa sekte, pemahaman agama Katholik umumnya sangat rendah. Saat bina iman adalah saat untuk “menelusuri nilai-nilai kehidupan” berdasarkan ajaran Gereja dan Alkitab. Saat ini kita mempunyai “Catechism of the Catholic Church” yang sangat bagus, up to date, sesuai dengan tuntutan hidup jaman modern.Buku tersebut saya gunakan sebagai bahan utama dlm bina iman.


Di Indonesia saya sudah pensiun dari Yadapen sejak Maret 2007 dengan masa kerja 30 tahun sebelas bulan. Status saya adalah guru Yayasan Pangudi Luhur diperbantukan di kongregasi FIC. Di Africa saya justru sedang memasuki lahan baru di PGSD Negeri. Menurut sistem OBE, para guru ditantang untuk selalu memperbaharui diri, mengikuti tantangan jaman. Seorang guru senior mengundurkan diri sebelum pensiun. Dia berkata bahwa dia tidak bisa memahami sistim pendidikan baru. Betul. Cara mengajar yag lama seperti menerangkan, menulis dipapan tulis, murid mendengarkan dan mencatat serta menjawab pertanyaan, dsb biasanya dirasakan sebagai “hal yang membosankan” bagi kaum muda. Salah satu cara untuk mengukur keberhasilan adalah menciptakan proses belajar-mengajar dimana si “pelajar” merasa “senang belajar” . Disini salah satu tugas guru adalah sebagai “motivator”, atau penggerak.




KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 4 ms