Oleh Br. Martinus Dariyo FIC
Pada saat menikmati harian pagi Salon .Com untuk kesekian kalinya saya meneteskan airmata di Afrika. Tetesan airmata pertama terjadi tahun 1987 ketika saya membaca buku tebal the Covenant karangan James Michener. Buku ini menceritakan liku-liku apartheid di Afrika Selatan. Setelah rampung saya melanjutkan dengan buku the Descarded People (orang-orang terbuang). Saya meneteskan air mata trenyuh atas perlakuan bangsa kulit putih terhadap penduduk asli Afrika. Tiga tahun kemudian, kekejaman tersebut akan di persembahkan dalam film “Sarafina”. Selain kekejaman, dimunculkan sebuah “harapan” atas kepemimpinan Mandela yang dipenjara, yang bakal membebaskan Afrika Selatan dari Apartheid.Tahun 1994, saya meneteskan airmata bahagia ketika presiden Mandela dilantik menjadi presiden Afrika Selatan.
Kali kali ini saya (menangis) bersama pasangan muda dari Chicago ini. Anne Lamot, wartawan surat kabar harian Salon. Com yang terkenal itu, membeberkan cerita berbobot yang begitu menyentuh hati. Kuamati gambarnya dengan cermat dan aku bertanya beberap kali, mengapa aku bisa menangis bersama mereka?. Yang jelas kami merasa sangat happy dengan kemenangan Obama, tetapi saat saya merasa bahwa maknanya lebih dari sebuah kemenangan, tetesan air mataku justru bertambah. Ingatanku masih segar pada buku “The farm of Falcuntrust” yang membeberkan sikap bangsa Amerika terhadap para budak negro di negara negara bagian Selatan Amerika Serikat seperti lousiana, Alabama, Missiippi dsb. Dari latar belakang tersebut kememnangan Obama sungguh merupakan mujizat. Sebenarnya kebahagiaan yang mengharukan muncul ketika dalam perjalanan pulang ke Afrika, saya menyaksikan pidato kemenangan Barack Obama di layar televisi di sebuah restoran di Bandara Oliver Tambo di Johanesburg, Afrika Selatan, Rabu pagi 5 November 2008 jam 07.00 waktu setempat.
Meskipun Obama cukup populer, selama kampanye saya tidak pernah merasa begitu yakin bahwa Obama bakal menang. Sikap dan pernyataan Mc Cain membuat hatiku gundah. Dia begitu tenang dan yakin bahwa dia akan menang. Joe Lieberman, senator Demokrat keturunan Yahudi membelot ke Republikan dan mendukung Mc Cain.
Sejauh ini, peran Yahudi dalam kancah politik di Amerika Serikat sangat dominan. Meskipun selama masa kampanya Barack Obama ke Israel dan diterima baik oleh bangsa Yahudi, saya tetap belum yakin bahwa Israel memberikawn doa restu pada Obama. Faktor lain yang membuat saya ragu adalah kenyataan bahwa Barack Obama berasal dari keluarga Muslim di Kenya. Desa orang tuanya berbatasan dengan Somalia dan karenanya, penduduk desa tersebut keturunan suku Somalia. Kemusliman Obama bisa dibaca dari nama lengkap “Barack Hussein Obama”. Untuk menghilangkan jejak kemusliman tersebut, kata “Hussein” tak pernah diucapkan.
Ketika Barack Obama di Jakarta, dia disekolahkan di Menteng oleh ayah tirinya, Oetoro. Dalam kampanye Obama pernah bilang bahwa ia akan duduk bersama presiden Iran. Dimata Republikan dan Yahudi, Iran adalah musuh mereka. Bersama Syria dan Korea Utara, Iran adalah negara Axis of Evil. Karena itu tidak mengherankan jika Republikan menghubungkan Barack Obama dengan “terrorist” dan hatiku kecut ketika mereka melecehkan nama Obama sebagai “Osama”.
Kemenangan Demokrat Obama membuat hidupku dan jutaan orang lain didunia, merasa lega dan ringan. Mengapa aku begitu terlibat jiwa raga dalam kancah politik Amerika Serikat? Sejak saya duduk di SMP Kanisius, (1964-1966) saya terbiasa membaca majalah mingguan bagus berjudul “Inilah Amerika”. Kakak saya yang bersekolah di SGA Pangudi Luhur Muntilan memanjakan saya dengan majalah tersebut. Dia memperolehnya dari USIS (United States Information Service) di Jalan Merdeka Selatan Jakarta.
Lantas pada saat saya mengikuti jejak kakak saya di Muntilan, (1967-1969) saya berhasil berlangganan majalah tersebut Disamping itu saya mendaftar sebagai penggemar siaran bahasa Indonesia dari radio Suara Amerika. Sebagai pelanggan saya mendapatkan begitu banyak photo-photo penyiar serta brosur-brosur tentang Amerika. Naskah serta gambar-gambar pendaratan Neil Amstrong di bulan dapat saya gunakan sebagai alat bantu pengajaran di SD Usaba Ketapang, Kalimantan Barat. Dari buku yang membeberkan nama-nama presiden Amerika Serikat serta riwayat hidup mereka, sedikit demi sedikit saya mulai tertarik oleh beberapa presiden dari partai Demokrat. Kekaguman saya pada Abraham Lincoln dari partai Republikan merupakan terkecualian. Di Afrika, kehausan untuk mengenal Amerika Serikat terpenuhi. Saya terbiasa membaca mingguan TIME dan Nesweek. Selain itu, di bruderan maupun disekolah banyak buku-buku bermutu mengenai Amerika. Sekarang dengan adanya internet, saya bisa dengan leluasa memenuhi keinginan saya. Untuk sementara saya mencoba berkonsentrasi dengan
Delapan tahun terakhir saya sangat kecewa dan boleh dikatakan marah atas ulah presiden Bush.
Dalam masa tersebut pendukung Bush, kaum fundamentalis Kristen berbuat dengan leluasa, menentang opini dunia dan PBB, menyerang dan memporak porandakan Iraq tanpa alasan yang jelas. Akibatnya, Jutaan rakyat Iraq menjadi kurban. Timur Tengah yang relatif aman pada jaman Clinton, menjadi ajang pertumpahan darah. Semangat anti Amerika serta serangan terroris bermunculan dimana-mana, termasuk Indonesia.
Di Afrika, Amerika Serikat dan negara Barat, menggunakan Bank Dunia serta IMF untuk memeras Afrika.Mereka mau membantu Afrika dengan syarat melakukan privatisasi terhadap lembaga-lembaga yang dikelola oleh pemerintah. Dalam bidang pertanian, negara donor memaksa pemerintah untuk mencabut subsidi pada petani. Sebagai contoh, tahun 2007 Amerika Serikat dan negara Barat memberikan subsidi 365 milyar dollar untuk para petani yang terdiri dari 4 % penduduk sedangkan negara berkembang tidak boleh memberi subsidi kepada para petani yang terdiri dari 80% penduduk. Akibatnya, pangan melimpah di negara kaya dan negara miskin kelaparan. Saat ini harga sekarung pupuk (50 kg) di Malawi mencapai K 10.000 atau sekiatar 70 dollar atau sekitar Rp 630.000,=). Ini berarti lebih dari separoh gaji guru SD negeri. Akibatnya para petani putus asa, mereka hanya mengandalkan subsidi 10 kg pupuk dari pemerintah!!!
Perang Iraq menyebabkan Amerika Serikat bangkrut dan jutaan penduduk merasakan akibatnya, khususnya mereka yang berada di negara berkembang. Dengan latar belakang ini, saya ikut menangis bahagia bahwa Republikan hengkang dari gedung Putih dan Demokrat kembali memegang tampuk pimpinan.
Afrika, 2 December 2008.
Br. Martinus Dariyo FIC - misionaris Bruder FIC yang tinggal di Malawi, Afrika, sejak 1985.