Oleh Br. Michael Sidarta FIC
Setiap kali hendak kembali ke Indonesia, rasaku selalu pilu. Dan ketika kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga pelabuhan Rotterdam, serasa ada yang terpenggal dari hidupku. Pastilah air mataku meleleh membasahi pipi. Dan kutatap terus daratan Rotterdam itu hingga lenyap dari pandangan’.
Begitulah Br. Vitus Degger (almarhum) berbagi pengalamannya sebagai misionaris yang berasal dari negeri Belanda. Pergulatan rasa yang menyakitkan semacam itu terus ia alami setiap kali hendak kembali ketanah misi selepas masa cutinya.
Meski begitu ia tak pernah kapok. Tanah misi ( Indonesia) seperti telah menjadi belahan jiwanya. Ada yang mempesona jiwanya di tanah misi. Demi keterpesonaan itu ia ikhlas menuntaskan panggilan hidupnya di tanah misi dalam pilu, pedih dan perih.
Di Indonesia jiwa Br. Vitus digurat. Bersama bocah-bocah tanah misi, di Ambarawa atau Semarang yang sebagian besar berasal dari keluarga susah. Tentu kerasulan di tanah misi bukan suatu kerasulan yang nyaman dibanding kerasulan di Belanda-negeri asalnya, pada waktu yang sama. Namun, toh ia tak pernah berniat berhenti menjadi misionaris. Ada pangilan jiwa dari Indonesia yang terus menggema di jiwanya. Ia buktikan semua itu. Hingga akhir hayatnya ia tuntaskan panggilan hidupnya di tanah misi.
Pencarian Tanpa Henti
Sungguh mengagumkan kisa para misioaris semacam itu. Mereka seperti mempunyai daya hidup yang berkobar-kobar hingga mampu menatah sejarah hidupnya dengan tegas. Kenyamanan dan keamanan di negeri sendiri tak jua mampu membelenggu jiwanya.Jiwa yang seperti dibakar spirit yang berkobar-kobar hingga mereka berani menggulirkan putaran roda panggilan hidupnya. Bukan dijalan yang halus, datar, nan lembut. Mereka sadar jalan-jalan yang dipilih ditanah misi penuh onak , serta kerikil tajam, menanjak, dan seringkali keras pula.
Dalam pilihan jalan semacam itu panggilan hidupnya terus dimurnikan dan disempurnakan. Bagi kebanyakan orang, kisah semacam itu seringkali hanya menjadi suatu kisah kepahlawanan dengan warna romantis disana sini. Namun sesungguhnya tidaklah begitu bagi yang menjalaninya.
Tantangan-tantangan datang silih berganti. Mulai dari hal-hal yang biasa semacam makanan dan fasilitas hidup harian. Sampai pada tantangan-tantangan yang lebih mendalam seperti kesepian, kerinduan akan tanah air, bahkan mungkin keterasingan karena keterbatasnya kemampuan berkomunikasi. Namun itu semua tak jua melemahkan api panggilannya. Terkadang mereka justru menemukan hal-hal yang luar biasa, entah dalam karya kerasulan, entah dalam pengelolaan panggilan hidupnya. Sungguh mengagumkan ketika melihat para misionaris Eropa itu tak terlalu rewel dengan makanan ketika bertugas di pedalamanan Kalimantan. Roti penuh semut tetap nyaman, karena semut-semut itu dianggap tambahan protein. Sambal pun ak masalah sebagai ganti selainya. Buang air besar dengan jongkong di sungai model Tarzan dilakoni, meski di negerinya sendiri sejak kecil selalu menggunakan WC yang bersih dan manusiawi.
“ Di sini aku tak bisa berontak. Aku harus hidup. Menjadi misionaris memang pilihanku. Peziarahan panggilanku pun sebagian disini. Tuhan memanggilku dengan sepenggal kehidupan di tanah misi,” tutur seorang misionaris.
Menjadi misionaris akhirnya bukan sekedar tugas tarekat. Menjadi misionaris adalah pilihan lebih jauh dalam rentang sejarah dan peziarahan panggilan. Barangkali menjadi misionaris di tanah misi seperti mewujudkan sabda” Bertolak ke tempat yang dalam.”
Panggilan di tanah misi terus menuntut untuk dimaknai. Realitas hidup di tanah misi tak hanya menantang, namun seringkali justru menuntun seseorang untuk terus mencari hakekat panggilannya yang unik. Kesulitan dan tantangan seperti menjadi rambu-rambu untuk terus mencari dan mencari. Dan nyatanya banyak misionaris sungguh memancarkan sinar panggilannya di tanah misi. Mungkinkah ini buah pencarian tanpa henti makna panggilan hidup nya dalam kepedihan, kegelisahan dan keterbatasannya?
Niat baik tak cukup
Kobaran jiwa para misionaris sungguh mengagumkan. Dalam kobaran jiwa semacam itu panggilan dilebur bersama alam dan budaya tanah misi. Untuk kontek zaman ini untuk menjadi misionaris cukupkah hanya dengan berbekal jiwa semacam itu?
Zaman telah berubah. Setiap peristiwa dari jengkal-ke jengkal belahan bumi ini dapat dipantai dan diketahui oleh siapa saja. Lalu peristiwa itu segera dapat disajikan dengan segar, seperti menyeruput kopi panas dipagi hari.
Sementara itu ilmu pengetahuan juga berkembang. Kehidupan tak lagi dibahas dan dipelajari dengan sederhana. Aneka sudut pandang dan logika penalaran atas peristiwa makin beragam. Hingga penafsiran atas kehidupan pun tak lagi tunggal. Situasi sosial ekonomi pun tak boleh luput dari pemahaman realitas hidup sekarang.
Panggilan misioner zaman ini hadir dalam realitas semacam itu. Menjadi misionaris tak lagi hanya bersinggungan dengan urusan keagamaan, seprti mempertobatkan dan membaptis. Semangat juang dan niat baik saja rasanya tidak cukup untuk menjadi misionaris saat ini.
Seoarng bruder pernah mengalami situasi yang sangat sulit di tanah misi. Tak terbayangkan olehnya kesulitan besar yang akan dihadapi ketika meninggalkan Indonesia menuju tanah misi di Amerika Latin. Kesulitan hidup praktis sudah diantisipasi, karena itu tidak menimbulkan gejolak. Namun ketia ia tidak dapat melakukan karya kerasulan tarekat di tanah misi, gejolak itu tak tertahankan lagi. Pemerintah tanah misi tak memperbolehkan bekerja di unit-unit karya kerasulan. Sejumlah hasil studi dan sertifikat yang diperolah di Indonesia tak diakui pemerintah negeri itu.
Pengalaman bruder itu menunjukkan bahwa niat baik dan semangat untuk menjadi misionaris tidaklah cukup. Ada kelengkapan-kelangkapan lain yang harus diupayakan agar sungguh-sungguh dapat menjadi pekerja-pekerja di ladang Tuhan, di tanah misi. Kemampuan berbahasa tentulah yang pertama-tama perlu dikuasai. Namun kelengkapan administrasi sesuai tuntutan negara misi yang bersangkutan juga harus dipertimbangakan.
Sampai disini komitmen hidup misioner menuntut kita untuk mempersiapkan diri lebih baik.Standar ketrampilan dan pendidikan perlu mulai dipertimbangkan sejak dini. Lebih dari itu pemahaman tentang budaya dan masalah sosial negeri misi adalah keniscayaan. Karya yang mengabaikan konteks sosial-budaya-politik-ekonomi di tanah misi hanya akan membuat karya itu tidak sampai pada sasaran. Hidup para misionaris pun bisa menemui kesulitan kesulitan.
Sikap kurang cermat tentulah hanya akan membuat aneka kesulitan hidup yang tidak perlu. Kesepian, perasaan ketakbergunaan dan aneka situasi hidup panggilan tidak ideal di tanah misi akan terasa semakin berat. Memang aneka macam alat komunikasi sudah sedemikian canggih. Namun pastilah itu semua tak mencukupi untuk mengurai kemelut hidup yang gersang. Belum lagi kala kita mau mempertimbangkan segi pendanaan. Perjalanan dan karya lintas negara tentulah membutuhkan dana yang begitu besar. Tidak semua tarekat memiliki pundi-pundi yang berlimpah. Seberlimpah apapun dana yang dimiliki tetap harus dipertimbangkan sisi efektifitas dan efisiensi. Perumpamaan tentang “ Gadis Bijaksana dan Gadis bodoh.” Sungguh memberi inspirasi dalam hal ini.
Sikap bijaksana akan membawa misionaris berjumpa dengan sang Pengantin yang memanggilnya. Menjadi misionaris bukan hanya bekerja di ladang Tuhan di negeri lain. Misionaris semestinya menjadi pekerja yang cerdas dan cermat di ladang Tuhan.
Terbuka sejak dini Bagi sejumlah tarekat yang bersifat internasional rasanya kesadaran untuk terlibat dalam karya misi mesti ditumbuhkan sejak dini. Setiap anggota tarekat(juga calon) mesti sadar bahwa dengan masuk sebuah tarekat internasional ia mesti terbuka untuk mengukir sejarah panggilannya di luar negerinya sendiri.
Kondisi akhir-akhir ini menunjukkan beberapa negara tempat tarekat berada
( seperti di Eropa, Amerika, bahkan beberapa negara Afrika dan Amerika Lain) telah mengalami kekurangan tenaga religius. Panggilan untuk bergabung dalam suatu tarekat religius nyaris lenyap. Ini sungguh-sungguh suat realitas yang memprihatinkan. Negeri asal misionaris seperti kelelahan setelah mengirim begitu banyak misionarisnya. Tak heran bila saat ini beberapa tarekat internasional yang berada di Indonesia kini telah menjadi tumpuan kehidupan tarekatnya. Dengan demikian lambat namun pasti peran religius Indonesia terhadap kehidupan tarekatnya semakin besar. Keterbukaan untuk terlibat dalam kehidupan tarekat secara internasional adalah keniscayaan. Tak bijak lagi untuk bersikap masa bodoh dengan realitas tarekat di provinsi-provinsi lain. Sebagai tarekat internasional, kesulitan disuatu provinsi seringkali ikut mempengaruhi kehidupan di Provinsi lain.
Kesadaran untuk terlibat dalam kehidupan tarekat di luar negeri sendiri masih belum cukup. Hidup di negeri orang tentulah menuntut keberanian dan semangat juang. Bahkan tak mungkin ia mengalami kesendirian, kejenuhan, bahkan ketakberhargaan. Sayangnya pada situasi semacam itu tidaklah mudah menemukan penolong atau situasi yang mendamaikan ketika krisis itu terjadi. Komitmen untuk menjadi religius yang memiliki visi misioner memang perlu dibangun sejak dini. Sedini mungkin setiap religius perlu menyadari bahwa warisan spirit panggilan terkadang harus dirawat dan dikembangkan di penjuru-penjuru dunia lain, di daerah yang tak terduga. Kehidupan yang dirindukan para pendiri harus ditetaskan dimana saja seorang misionaris di tempatkan. Untuk itu, sejak awal religius bervisi misioner harus sadar bahwa bisa saja pada saatnya ia akan menegaskan panggilan hidupnya dalam budaya dan konteks tanah misi. Saat itulah hidupnya seperti dilebur.
Akhirnya, komitmen menjadi misionaris (religius bervisi misioner) mengandaikan kesiap sediaan yang total. Visi misioner mengandaikan sebuah keikhlasan untuk terus dilebur dalam ruang dan waktu peziarahan panggilannya. Meski begitu ia tak pernah lenyap dan menjadi yang lain. Ia tetap utuh dalam corak spirit tarekatnya. Hingga tatahan panggilan hidup dan buah-buahnya di tanah misipun tetap mempu dicecap dalam kekhasan spirit hidupnya yang khas. Panggilan hidupnya akan menjadi unik, karena telah bersinggungan denngan realitas kehidupan di tanah misi*** (dimuat di majalah Rohani Desember 2008)