Senin, 06 Pebruari 2012  - 8 User Online  




Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC


20.05.2009 22:01:43 1069x dibaca
BELAJAR DARI ORANG-ORANG SEDERHANA
Oleh Br. Martinus Dariyo

Tahun 2007 saya pernah merasakan pengalaman hidup yang merasuk tajam ke hati.
Pada suatu waktu, saya merasa bahwa semua orang Afrika itu “begitu baik”. Pada saat berangkat ke tempat kerja atau pulang dari kerja, saya bisa melihat orang-orang Afrika yang berjalan pulang dari kerja atau berangkat kerja, nampak “begitu baik”. Dan mereka itu pada umumnya adalah pekerja kuli atau buruh harian. Hal itu terjadi dimana saya berada seperti di desa, di pasar, dan di komunitas. Di PGSD, saya merasa bahwa ratusan orang Afrika yang terdiri dari para pegawai, staff, karyawan, para siswa-siswi nampak “begitu baik”.Pengalaman tersebut berlangsung kira-kira selama seminggu, dan sejak saat itu saya merasa bahwa “kehidupan” itu begitu “bermanfaat”, “indah” dan “begitu baik”.


Untuk mengolah pengalaman tersebut saya mencoba melakukan renungan ala kadarnya gaya Ignatius yang disebut “Spiritual Exercise”, khususnya renungan imaginasi mengenai “surga”. Untuk sementara saya merasa bahwa kalau saya di surga, saya akan merasa bahagia bersama mereka dari negara-negara dunia ketiga (developing countries) yang sebagian besar adalah orang-orang “miskin”. Saya sama sekali tidak yakin apakah di surga saya bisa hidup bersama George W Bush, Tony Blair, Gordon Brown, Dick Cheney, Ramsfeld, Condoleezza Rice atau orang-orang kaya berdasi dari negara-negara maju. Kemungkinan menyapa Robert Mugabe lebih besar dari menyapa mereka.

Pada bulan September dan Oktober 2008, saya cuti di Indonesia. Saya pindah tempat (dengan kendaraan umum kelas ekonomi) dari komunitas ke komunitas, dari desa ke desa. Kutelusuri lorong-lorong kota dan desa. Pada suatu hari saya menelusuri desa-desa Wedi, Cawas, Bayat, dan Gantiwarno bersama Br.Darman, sesama bruder yang tinggal di komunitas desa.Hatiku tersentuh dan perasaan bangga muncul ketika dia menceritakan bagaimana para bruder FIC desa itu berpartisipasi penuh menolong kurban gempa bumi. Selanjutnya saya diberi kesempatan untuk menyapa para guru dari empat sekolah desa tersebut.Meresapkan kata demi kata dari sapaan para bruder desa, guru-guru desa serta murid-murid desa, ada makna yang begitu dalam.Tidak terdengar kata keluhan ataupun kesombongan atas prestasi atau kemajuan yang dicapai sekolah. Jujur, apa adanya, terus terang. Pada waktu menanti saatnya tidur malam, saya merasa begitu “happy” dan pengalaman segar Afrika mencuat kembali, mereka “begitu baik”. Oh.... dunia ini penuh dengan kebaikan Tuhan, “The earth is full of the goodness of the Lord” (Mazmur 33:5).

Saat ini saya baru saja menyeleseaikan buku Jon Sobrino berjudul “The Eye of the Needle, No Salvation outside the Poor, A Utopian prophetic Essay, ” Darton, Longman and Todd Ltd, London 2008.Buku Mata Jarum (atau barangkali lebih tepat diterjemahkan sebagi “Lubang Jarum” ini memberikan dukungan pada pengalaman saya. Membaca kalimat demi kalimat, seakan dia menceritakan pengalaman saya. Tidak ada keselamatan diluar orang-orang miskin.Menurut Jon Sobrano, kita berpihak kepada orang miskin agar kita belajar dari mereka. Kalimat ini pernah dicetuskan oleh Br. Johan Muitjens, pimpinan umum bruder FIC, dalam surat edaran Dewan Umum Bruder FIC 1988: “We opt for the poor in order for us to be enriched by them so that we can enrich them”.Kita berpihak pada orang miskin agar kita diperkaya oleh mereka dan dengan demikian kita dapat memperkaya mereka”.

Setiap kali naik bis, saya jumpai begitu banyak para pengamen dan penjual makanan kecil, khususnya bis-bis sekitar Magelang. Jika kuamati wajah mereka, saya menjadi kagum atas perjuangan mereka untuk mempertahankan hidup. Begitu tekun, sabar, kerja keras, tidak malu-malu. Didesa, suasananya sama saja. Banyak orang-orang desa miskin hidup dari 20 kg beras jatah sembako dan uang tunai Rp.100,000,-. Dari tahun ke tahun, kemiskinan nampak semakin banyak. Hatiku tersentuh ketika menyaksikan ribuan orang miskin berebut uang zakat fitrah Rp 20,000,- dan beberapa mati terpijak-pijak, dan saya merasa jengkel mendengar pertanyaan gadis cantik penyiar TV: “Ibu tahu bahwa tempatnya sempit, berjejalan, sumpek, dan beresiko tinggi. Mengapa hanya untuk mendapatkan Rp 20,000,- ibu nekad ikut antrean?” Dia lupa bahwa Rp 20,000 sungguh berarti. Menurut Jon Sobrano, orang-orang miskin adalah saksi dari “pengharapan sejati” (real hope) akan kehidupan yang lebih baik. Dalam dunia orang kaya, “harapan” atau “expectation” itu berdasarkan atas “perhitungan untung rugi. Pengharapan dalam Kristen adalah “pengharapan” melawan “pengharapan” (In Christian terms, hope means hoping against hope), (halaman 61-62). Dalam situasi yang benar-benar “hopeloos” mereka tetap mempunyai pengharapan.

Di halaman 82-85 Jon Sobrano mengulas mengenai sikap orang-orang miskin dan kaya dengan mengambil contoh perikop dari Injil Lukas 21: 1- 4, persembahan seorang janda miskin. Dalam analisanya dia memacu pada pemikiran Kant yang membedakan antara harga dan nilai. Jesus berkata bahwa meskipun harga persembahan si janda sangat kecil, tetapi nilai persembahan tsb lebih besar sebab si kaya memberi dari kelimpahan kekayaan sedangkan si janda memberikan segala yang dia punya.

Dalam kehidupan keseharian kita melihat bagaimana negara kaya membantu negara miskian agar bisa menguras kekayaan si miskin. Australian pernah menolong pejuang Timor Timur seperti Ramos Horta. Setelah merdeka, Australialah yang mengeruk keuntungan minyak Timor Timur. Pada wawancara televisi Al Jazeera dengan presiden Timor Timur, Australia mengusulkan agar minyak dari laut lepas tersebut disalurkan melalui pipa ke Darwin dengan alasan bhw situasi keamanan dan fasilitas di Timor Timur tidak memenuhi syarat.

Pada saat Amien Rais dengan bangga berkata bahwa prosess demokrasi Indonesia lebih cepat dari Malaysia, Anwar Ibrahim, teman dekat Amin Rais itu balik bertanya: “Mengapa Indonesia membiarkan negara maju (Amerika Serikat dan Australia) mengeruk kekayaan tembaga di bumi Papua?. Berapa lama? Apa keuntungan bangsa Papua?, berapa persen Indonesia menikmati keuntungan tambang tersebut? Hal ini terjadi di Afrika, dimana perusahaan minyak Belanda “Shall” menguasai produksi minyak Nigeria. Dalam majalah The Guardian, kita tahu bagaimana perusahaan besar dari negara maju mengeruk harta kekayaan yang berlimpah di Congo!!!, bahwa mereka beruntung akan konflik besar di negara tersebut!!! Litani ini bisa diperpanjang tanpa batas.

Pada umumnya orang kaya bangga akan tingkat kehidupan mereka. Bagi pemahaman Jon Sobrano, orang kaya umumnya adalah mereka yang hidup dinegara maju yang jumlahnya kurang dari 25% penduduk dunia tetapi menikmati lebih dari separoh kekayaan dunia. Ketika India mencapai kemerdekaan, seorang jurnalist Inggris bertanya pada Mahatma Gandhi, apakah sekarang India bisa mencapai taraf kehidupan bangsa Inggris, gandhi menjawab: “Inggris memerlukan separoh kekayaan dunia (planit) untuk mencapai taraf kehidupan mereka. Berapa planit yang dibutuhkan India untuk mencapai taraf yang sama? (halaman 10-11)       

Berkarya di Provinsi Malawi




2 KOMENTAR
29.05.2009 20:57:32
Saya pernah berpikir, bagaimana kalau dalam suatu waktu, negara2 miskin benar-benar meledak dari dasar buminya. Segala kekayaannya lenyap dan orang2nya pun mati!
Nah, apakah bisa bertahan negara2 yang disebut kaya dan maju itu tanpa ada negara2 miskin yang sebenarnya kaya namun tak pernah berhasil menggali kekayaannya?

WAHYU  http://www.aku-peziarah.blogspot.com
18.10.2010 21:23:05
thanks,atas artikelnya mudah-mudahan bisa membantu kita mengenai arti kehidupan dalam kesederhanaan.
ADI SUCIPTO  http://www.adi-cs.blogspot.com

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 2 ms