Senin, 06 Pebruari 2012  - 8 User Online  




Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC


01.01.2010 21:18:27 824x dibaca
NATAL, MELAHIRKAN SOLIDARITAS
Oleh Br.Michael Sidarta FIC

Natal adalah kenangan akan kelahiran Yesus di dunia. Natal ingin kembali merenungkan Allah yang terlibat dalam realitas hidup manusia. Mestinya pada setiap perayaan Natal kita bertanya,”Mengapa Allah harus hadir, hidup, dan terlibat dalam keringkihan dan kerapuhan realitas manusia?”
Lebih jauh kita juga mesti bertanya, mengapa para pengikut Yesus Kristus akhirnya juga memilih terlibat dalam realitas kehidupan sesama yang miskin, lemah, dan tertindas dalam menetaskan imannya? Sebutlah Ibu Theresa dari Calcuta, Jon Sobrino dan kawan-kawan di El Salvador, hingga Romo Mangun di Indonesia yang ikhlas tinggal di kolong jembatan Gondolayu kali Code Yogyakarta.

Kelahiran Yesus sebuah pilihan
Data yang kita punya tentang kelahiran Yesus dari Kitab Suci adalah Ia lahir dari rahim seorang perawan sederhana. Namanya Maria. Maria adalah representasi dari kelompok masyarakat yang hidup sederhana – bahkan miskin, tekun berharap akan keberpihakan Allah atas hidup kesehariannya, dan percaya bahwa Allah tak pernah ingkar janji untuk menyelamatkan bangsa pilihanNya. Maria adalah representasi manusia yang hidupnya mengandalkan Allah.
Karakter Maria (juga kelompok sosial dimana Maria tinggal) terbaca dari kidung Magnificatnya (Luk 1:46-55). Maria sadar, keputusan menerima kehendak Allah untuk mengandung Yesus saat ia masih perawan, menuntut konsekuensi yang amat berat. Hukuman dirajam siap menghadang Maria, karena ia akan dituduh berzinah.
Keputusan Maria itu adalah sebuah pilihan yang lahir dalam rentang sejarah keselamatan Allah. Maria menegakkan salah satu tonggak sejarah keselamatan Allah itu. Maka sikap Maria itu mewajahkan karakter Allah yang konsisten akan karya keselamatanNya. Maria membadankan spirit Allah, yang hatiNya senantiasa terluka oleh derita hidup manusia.
Natal, kenangan akan kelahiran Yesus, sesunguhnya adalah sebuah kenangan solidaritas Allah atas penderitaan manusia. Natal mengenangkan Allah yang setia pada janjiNya. Karenanya, meski sadar bahwa pilihan melahirkan Yesus itu mengandung konsekuensi yang mempertaruhkan nasibnya, namun Maria menerimanya dalam sukacita. Maria bersukacita karena Allah yang solider, Allah yang terus berjuang menegakkan KerajaanNya (baca: kehidupan yang bergantung pada Allah, damai, kasih, sukacita). Itulah alasan Maria bersukacita penuh syukur pada Kidung Magnificatnya.

Bahasa perubahan
Namun mengapa Allah memilih hadir dalam hidup orang yang miskin dan sederhana? Kegiatan memilih mengandaikan sebuah pra-paham yang akan mewarnai pilihan tindakan selanjutnya, termasuk pilihan bahasa untuk mengekspresikan spirit kehidupan.
Kelahiran Yesus adalah representasi keterkoyakan Allah yang tak bisa diam melihat penderitaan manusia. Spirit Allah lahir dari keterkoyakan hati semacam itu. Meminjam pemikiran Emmanuel Levinas (1906-1995), penderitaan manusia adalah penampakan wajah (baca: realitas) manusia yang membuat Allah tak bisa tidak untuk bersikap menyelematkannya, memperjuangkan kehidupan, dan menegakkan keadilan.
Konsili Vatican II (Dei Verbum 4), merefleksikan: Setelah berulang kali dan dengan pelbagai cara Allah bersabda dengan perantaraan para nabi, “akhirnya pada zaman sekarang Ia bersabda kepada kita dalam Putera” (Ibr 1:1-2). Allah tetap konsisten untuk solider dengan nasib manusia yang diciptakan dalam kesempurnaan dan kebahagiaan (bdk. Kej 1-2). Solidaritas adalah bahasa yang dipilih Allah untuk menyelamatkan manusia. Demi solidaritas itu Allah dalam kelimpahan kasihNya memilih hadir dan tinggal bersama manusia yang hendak diselamatkanNya (bdk. Dokumen Konsili Vatican II – Ad Gentes 2).
Keterlibatan Allah dalam hidup manusia yang melahirkan solidaritas itu juga ikut menginspirasikan Jon Sobrino, SJ – pejuang solidaritas bagi kaum miskin di El Salvador. Bagi Sobrino konsep solidaritas adalah bahasa perjuangan untuk memperjuangkan kaum tertindas.
Solidaritas akan lahir kalau orang memiliki keterlibatan fisik dan mental dengan realitas hidup kaum tertindas. Namun terlibat saja tidaklah cukup. Realitas kehidupan yang penuh dengan penderitaan, kehancuran martabat manusia, ketidakadilan, serta aneka penindasan, tak akan pernah melahirkan solidaritas selama tidak melukai nurani manusia. Dalam dinamika solidaritas semacam itu, kaum lemah-miskin-tertindas bukan hanya obyek solidaritas. Sesungguhnya mereka juga subyek solidaritas.
Solidarirtas bagi Sobrino akhirnya menjadi proses saling memberi dan menerima. Mereka yang bersolider dan kaum tertindas, saling menyumbang dan memberdayakan kehidupan masing-masing. Lebih jauh Sobrino menambahkan, dinamika semacam itu hanya akan menjadi solidaritas ketika mampu diangkat dalam pengalaman iman bersama Allah. Karenanya, solidaritas sebagai pilihan bahasa perubahan semestinya melahirkan sebuah komunitas yang saling memberdayakan dan menumbuhkan, bukan hanya demi kesejahteraan duniawi tetapi juga dalam hal iman.

Solidaritas menyadarkan kita bahwa orang lain adalah liyan yang merepresentasikan wajah Allah di hadapan kita. Mereka membawa pesan, atau bahkan wahyu kehidupan dari Allah. Orang lain bukanlah musuh yang mengancam dan harus ditundukkan, atau bahkan dihancurkan.
Karena itu, sebagai bahasa perubahan, solidaritas membantu kita mewujudkan ajakan Rasul Paulus supaya kita mampu memberkati (baca: memohonkan rahmat dari Allah) siapa saja yang menganiaya kita, ketimbang mengutuknya. Akhirnya kitapun mampu bersukacita dengan orang yang bersukacita dan menangis dengan orang yang menangis (bdk. Rm. 12:14-15).
Solidaritas adalah bahasa perubahan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Seperti kata Rasul Paulus Kerajaan Allah mewujud dalam tatanan kehidupan yang diwarnai kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom 14:17).
Marilah kita lahirkan solidaritas sebagai bahasa kehidupan pada Natal tahun ini.




1 KOMENTAR
28.11.2011 22:14:46
saloom ............... bagus memang seperti itu seharusnya kita bisa meneladani Sang Penyelamat kita, Tuhan kita, Yesus Krisus
THOMAS . S  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 2 ms