Rabu, 08 September 2010  - 7 User Online  



200th Anniversary of Mgr. Louis Rutten
Majalah Komunikasi FIC
Pertenunan Santa Maria Boro
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Blognya Agus parno
Asrama Sint Louis
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC
The 21st Century Learning


16.03.2010 23:34:23 443x dibaca
NARATIF EKSPERIENSIAL ALTERNATIF INTERNALISASI NILAI
Oleh Floribertus Supriya, SPd

Pada minggu terakhir bulan Februari 2010 kita disuguhi berbagai berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa dengan masyarakat (polisi) Berita-berita kekerasan sangat jamak ditemukan pada pemberiataan di media cetak maupun elektronik. Banyak orang baik pribadi maupun kelompok dengan mudah marah-marah, mengamuk, bahkan merusak sebagai bentuk ungkapan kekecewaan atau perasaan tidak senang mereka.

 

Tindakan seperti itu tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan rendah, tetapi sangat mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memiliki latarbelakang pendidikan serta jabatan publik yang tinggi. Bila orang memiliki latar belakang pendidikan dan jabatan publik tinggi mengungkapkan kekecewaan dengan sikap destruktif seperti itu maka pantaslah kita bertanya, “adakah sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan kita?”
 
Pertanyaan tersebut pantaslah muncul sebab secara logis orang-orang yang berpendidikan memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengelola perasaan kecewa, tidak suka, maupun berbeda pendapat. Dengan demikian orang-orang terdidik diasumsikan lebih mampu mempertimbangkan bagaimana cara-cara etis yang dapat dilakukan dalam mengungkapkan perasaannya.

Pendidikan Nilai

Kemampuan seseorang mengungkapkan perasaan kecewa, tidak suka, beda pendapat dengan cara-cara etis, hanya mungkin bila dilandasi oleh kesadaran bahwa dirinya bernilai bagi orang lain. Kesadaran tersebut dibangun seseorang bermula dari keluarga, karena keluargalah yang pertama-tama dan utama mengajarkan tentang pergaulan manusia dan memperkembangkan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. (J.Drost, SJ:1999). Jika di dalam keluarga seseorang tidak mendapatkan pengalaman menginternalisasikan nilai-nilai universal termasuk bagaimana cara mengungkapkan perasaan kepada orang lain secara etis maka akan terbentuk suatu masyarakat yang hanya mementingkan keinginan pribadi.
 
Bila di dalam keluarga orang tidak mendapatkan pengalaman menginternalisasikan nilai-nilai universal bagaimana ketika ia di sekolah? Para pakar dan praktisi pendidikan pada dekade terakhir menyadari timbulnya kemerosotan moral di masyarakat karena dikesampingkannya pendidikan nilai di sekolah. Kalaupun ada pendidikan nilai itupun hanya sebatas memperkenalkan dan tidak terjadi internalisasi.(Paul Suparno, SJ:2002)
 
Begitu pentingnya membangun karakter seseorang maka perlu dicari bagaimana supaya generasi muda mampu menginternalisasikan nilai-nilai universal sehingga menjadi referensi dalam setiap perbuatannya.

 

Salah satu cara untuk memungkinkan peserta didik menginternalisasikan nilai-nilai universal adalah memanfaatkan cerita dalam proses pembelajaran. Cerita sering disebut pula narasi. Naratif merupakan kata sifat dari akar kata narasi yang berarti cerita. Sedangkan eksperiensial diartikan sebagai pengalaman (Flori: Stareview 2000). Maka naratif eksperiensial dimengerti sebagai cerita pengalaman/kehidupan.

Dalam konteks ini yang dimaksud cerita adalah laporan mengenai suatu peristiwa. Pada peristiwa tersebut terdapat tokoh-tokoh yang saling berhubungan. Peristiwa yang diceritakan dapat berupa khayalan (fiktif) dapat pula berupa cerita yang sungguh-sungguh terjadi (historis) (Komkat KWI: Naratif Eksperiensial, 1994)
Dalam proses pembelajaran cerita dapat menjadi media yang baik untuk mengenalkan peserta didik terhadap nilai-nilai universal. Sebab di dalam cerita terkandung nilai-nilai yang akan disampaikan.

Bukan Hal Baru

Pembelajaran dengan pendekatan cerita bukan hal baru. Jauh sebelum orang mengenal bahasa tulis, cerita telah digunakan dalam proses pembelajaran. Data mengenai hal ini paling tidak dapat kita temukan dalam pengajaran yang dilakukan oleh Yesus. Pewartaan Yesus dilakukan dengan bercerita.

Ketika Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Allah, Ia menggunakan cerita (perumpamaan). Cerita yang digunakan Yesus disesuaikan dengan para pendengarnya. Ketika para pendengar notabene para petani maka Ia menggunakan seting pertanian seperti perumpanaan tentang biji sesawi, gandum dan ilalang, pohon anggur, dll. Sedangkan ketika Yesus mengajarkan tentang cinta kasih kepada pendengarNya yang sangat paham tentang Taurat maka Yesus mengambil seting orang Samaria yang baik hati.

Demikian juga pengajaran mengenai Yesus yang dilakukan oleh murid-murid Yesus yang pertama mereka menyampaikan pengajarannya menggunakan cerita. Setelah murid-murid Yesus yang pertama (sebagai saksi mata) mulai banyak yang meninggal maka cerita Yesus dan ajarannya dituliskan (sekitar tahun 30-70 kemudian).
Di tanah Jawa, cerita mengenai kecerdikan kancil disampaikan turun-temurun tidak melalui bahasa tulis tetapi melalui cerita lisan. Wayang yang sarat akan ajaran sosial, etika pergaulan, sopan-santun, perjuangan, pengendailan hawa nafsu, disampaikan melalui penuturan lisan dalam sebuah cerita.

Digemari Orang Tanpa Batas Usia

Cerita digemari orang tidak mengenal batas usia. Sebagai misal, infotaiment yang disiarkan di media tv digemari para pemirsa sehingga hampir setiap stasiun tv dengan judul yang berbeda menayangkan berita-berita kehidupan para aktor atau aktris. Pada dekade 80-an banyak orang dari anak-anak hingga dewasa “terbius” cerita radio yang berjudul Saur Sepuh. Orang tua sangat jengkel ketika anaknya diminta untuk belajar tetapi selalu memberi alasan film yang ditoton seperti dora emon, sincan, naruto, satria baja hitam, saraz 008 belum selesai diputar.

Kekuatan Cerita

Cerita dapat “menyihir” sebagian besar orang sehingga sering orang mengidentifikasikan dirinya sebagai tokoh cerita tersebut. Ketika seorang anak sangat menggemari cerita mengenai Satria Baja Hitam, maka ia dapat mengidentifikasikan dirinya sebagai satria baja hitam. Dengan demikian ia pun dalam permainannya dengan teman-temannya bertingkah laku seperti tokoh idolanya. Tidak hanya sampai di situ, baju, kaos, dan asesoris mainannya pun harus berlambangkan Satria Baja Hitam.

Kekuatan cerita terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan nilai-nilai kepada para pendengarnya tidak dengan indoktrinasi. Pendengar cerita memiliki kebebasan untuk mengambil maknanya yang terdapat di dalamnya. Karena itulah ketika seseorang menemukan kecocokan sifat pada tokoh yang diidolakan dalam cerita dapat mempengaruhi hidupnya.
Hal inilah yang dipergunakan Yesus di dalam proses pengajaran-Nya. Yesus ingin mengubah perilaku hidup pendengar-Nya tetapi pendengar-Nya tidak merasa digurui atau diindoktrinasi.
Cerita memang menarik karena itu banyak orang ketika ingin menyampaikan pesan ia menggunakan cerita. Kekuatan cerita terletak pada kemampuannya membawa orang merasa dilibatkan, tidak merasa digurui, dan tidak merasa diindoktrinasi. Maka ketika cerita menjadi milik pendengarnya memungkinkan terjadinya transformasi cara pandang, sikap, dan tindakan hidup. Hal inilah yang patut diperhatikan dalam proses pembelajaran.


Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

Suatu kenyataan bahwa tidak semua orang mampu menjadi orator yang baik. Karena itu beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memudahkan untuk bercerita yaitu pertama pencerita mengingat terlebih dahulu tokoh-tokoh cerita tersebut. Kedua perlu dikenali bagaimana karakter tokoh-tokoh tersebut. Ketiga apa ucapan dari tokoh-tokoh tersebut, dan yang terakhir bagaimana urutan cerita dari awal hingga akhir.
Jenis Cerita

Ada banyak cerita yang terdapat di sekitar peserta didik. Di toko buku, peserta didik dengan mudah akan mendapatkan buku cerita. Dari sekian banyak cerita tersebut paling tidak dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, cerita rakyat, cerita kanonis, dan cerita pengalaman.
Cerita rakyat merupakan cerita yang dimiliki oleh masyarakat sebagai warisan turun temurun. Yang tergolong cerita rakyat misalnya cerita terjadinya Rawapening, Roro Jongrang, Malin Kundang, Rangkuban Perahu dll.

Sedangkan yang dimaksud cerita kanonis adalah suatu peristiwa yang diceritakan secara lisan dan diberi penafsiran oleh tokok-tokoh yang erat hubungannya dengan Allah. Cerita tersebut lama-kelamaan ditulis. Untuk kepentingan pengajaran agama, supaya umat dapat memilih cerita maka dibuatlah daftar mengenai cerita tersebut. Karena cerita tersebut didaftar dari cerita yang ada pada Alkitab maka daftar cerita tersebut disebut cerita kanonis (KWI: Naratif Eksperiensial, 1994). Yang dimaksud dengan cerita kehidupan adalah cerita yang mengisahkan mengenai pengalaman.

Naratif dalam Proses Pembelajaran

Pembelajaran dengan pendekatan naratif eksperiensilan telah dikembangkan dalam pelajaran agama Katolik kurikulum 1994. Kurikulum pendidikan agama Katolik 2004 dan 2006 tidak dengan jelas menempatkan naratif eksperiensial sebagai suatu pendekatan pembelajaran pembelajaran.
Meskipun dalam pembahasan ini pendekatan naratif eksperiensial banyak dikaitkan dengan pelajaran agama, tetapi bukan tidak mungkin pelajaran non agama pun dapat mengadopsi pola pembelajaran tersebut ketika guru dalam pendampingan pembelajaran selain mengembangkan aspek intelektual juga mengembangkan nilai-nilai universal.
Dalam proses pembelajaran naratif eksperiensial dapat dipergunakan sebagai apersepsi maupun pe.neguhan misalnya untuk matapelajaran matematika. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia cerita banyak dipergunakan sebagai materi bahasan

PENUTUP

Cerita merupakan bagian tidak terpisahkan dalam sejarah kehidupan manusia. Hampir setiap daerah memiliki cerita yang disebut cerita rakyat. Pada awalnya cerita tersebut berkembang dari mulut ke mulut artinya disampaikan secara lisan. Karena itu sering kali cerita rakyat tidak diketahui kapan dan siapa orang yang pertama kali memperkenalkan cerita tersebut. Namun yang pasti setiap cerita mempunyai maksud/nilai yang akan disampaikan bagi para pendengarnya.

Karena cerita disampaikan secara lisan maka nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut dapat menjadi milik, ”terinternalisasi” dalam diri pendengarnya. Dengan demikian pendengar tidak hanya dapat menceritakan cerita tersebut kepada generasi berikutnya tetapi nilai-nilai tersebut menjadi referensi hidupnya.

Seiring ditemukannya buku serta berkembangnya teknologi informasi maka cerita rakyat banyak ditinggalkan. Namun demikian tidak serta merta orang senang membaca buku, termasuk buku cerita. Dengan demikian cerita yang kaya akan nilai telah banyak ditinggalkan orang sehingga merekapun kehilangan nilai-nilai universal dalam hidupnya.

Kini guru sebagai pribadi yang berdekatan langsung dengan kaum muda dan memiliki tanggungjawab terbesar kedua setelah orang tua memiliki tanggung jawab untuk menginternalisasikan nilai-nilai universal. Harapannya kaum muda yang telah menyelesaikan pendidikannya, hidupnya dilandasi nilai-nilai universal supaya dunia menjadi tempat yang membahagiakan semua ciptaan. Pendekatan belajar dengan naratif eksperiensial merupakan salah satu langkah internalisasi nilai.


Floribertus Supriya*
Alumni Fakultas Ilmu Pendidikan Agama Katolik USD
Penulis buku Pendidikan Budi Pekerti SD,
Religiositas SD.
Kepala SD Tarakanita Ngembesan, Turi,Sleman

 

 



3 KOMENTAR
20.03.2010 06:37:03
Wah Mas Priya jadi hebat sekarang. Ketemu lagi nanti kapan-kapan tak mampir ke Turi Sleman. Mbok nek ada bukunya saya dikirimi nant bisa tak pake pembinaan ana-anak muda di Kota Semarang. Kebetulan saya juga mengelola 23 lembaga PAUD di Semarang.
PAULUS MUJIRAN  
16.06.2010 09:53:33
Wah masih suka nulis jg rupanya kawanku nih... Masih ingat to kita ikut lomba karya tls, jaman msh d puskat. He3x...
NUR  
15.07.2010 21:23:53
wah nur dimanakah kau sekarang?
FLORI  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 4 ms