1. Tiba di Schipol
Kami tiba di Schipol pada tgl 24 pagi pk 05.50 waktu setempat. Perjalanan lancar hanya sedikit waktu dihabiskan di Kantor Kepolisian Imigrasi Bandara Schipol, untuk dipertegas tentang tanggungan hidup selama pertemuan di Belanda. Br. Jos Baskoro dan saya diwawancarai sekitar hal tersebut, karena surat yang kami tunjukkan dari Maastricht dan Dari Dewan Provinsi agak diragukan oleh mereka. Beberapa saat kami menunggu dan dapat menghubungi Br. Lo Koelman yang sedang menanti kami di luar. Setelah Br. Lo masuk, barulah kami dapat tersenyum lega dan seluruh proses menjadi lancar. Di luar telah menanti kami, Br. Anton Hadi, FIC dan Alfons serta isteri yang adalah adik dari Br. Jos Baskoro.
Kami disambut dengan hujan garimis dan kabut pagi di luar Bandara. Bersama Br. Lo kami: Istiyanto, Simon dan saya menuju ke DE BEYART dengan mobil,sedang 4 Bruder yang lain dengan kereta bersama Br. Anton Hadi, FIC. Kami disambut dengan sangat ramah oleh staf DE BEYART, dan dengan gembira hati kami diantar ke kamar kami masing-masing.
2. Basilika St Servatius
Tanggal 25 Februari, setelah sarapan pagi kami bersama Br. Jos Baskoro menuju ke Basilika St Servatius. Bersama Br. Sigmund kami diajak berjalan dan mengunjungi museum yang sangat indah. Banyak hal yang ada di sana diceritakan dan dibagikan kepada kami. Kami mengunjungi musium benda-benda suci, reliqui para Kudus, Gereja dan turun sampai ke makam St. Servatius. Lepas dari situ, kami jalan-jalan ke kota, sekedar mengenal kota Maastricht.
3. Keluarga Kakak Br. Jos Baskoro
Tanggal 26 Februari, setelah sarapan pagi bersama Br. Jos kami mengunjungi kakaknya yang berada di kota St. Odilienberg dengan Kereta Api dan Bus. Di rumah tersebut tinggal hanya kakaknya Br.Jos, Mrs. Mia van Rooijen Berkemeijer. Suaminya telah meninggal 2 tahun yang lalu. Ia sungguh sendirian. Beliau sangat senang menerima kunjungan kami. Setelah minum dan ngobrol secukupnya, kami pun kembalike Maastricht dengan disertai hujan gerimis. Dalam hati tentu beliau menginginkan bisa lebih lama lagi, namun kami tidak ingin kemalaman tiba kembali di Maastricht.
4. Komunitas FIC Den Haag.
Tanggal 27 Februari, bersama Br. Martin dan Br. Guido,kami mengunjungi komunitas para Bruder di Den Haag. Kami berangkat dengan kereta api pk. 06.55. Sejak berangkat hujan gerimis menemani kami, hingga sampai ke Den Haag. Disana kami diterima oleh semua Bruder: Br. Wim Bands, Br. Lex Weiler, Br. Frans Wils, Br. Willem Sondeijker, FIC. Kami sungguh merasakan persaudaraan dan keramahan yang sangat baik dari mereka. Sambil menikmati minuman, kami mulai dengan memperkenalkan diri masing-masing. Sesudah itu kami diajak untuk berkeliling mengunjungi ruang-ruang dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Mengakhiri pertemuan ini, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan rumah Den Haag.
Sepulang dari Den Haag, kami berhenti di Amsterdam untuk makan siang, mencari nasi. Malum sudah beberapa hari tidak terisi nasi. Wajah kami berbinar menemukan Chines, Indonesia Food……maka hampir semua pesan nasi goreng dan sebagian yang lain nasi ayam. Sesudah makan dengan sangat kenyang, senyum dan tertawa lebar berhamburan atas kami. Selanjutnya dengan kereta darat (trem), kami menuju rumah Mr. Alfons, adik Br. Jos di “rumahkapal”. Wah, pengalaman yang indah bisa mengunjungi keluarga Bruder di sana. Pembicaraan kami sangat hidup, bersahabat dan akrab. Selama di rumah gerimis mengguyur sehingga harus bertahan, meski waktu agak dirasa sudah cukup. Sesudah agak reda kami diajak berjalan mengunjungi sungai yang ada di sana.
Dari rumah Mr. Alfons, kami kembali ke Amsterdam untuk berputar-putar sejenak, untuk foto-foto dilingkungan kota yang “monumental”, dan mencari beberapa souveneer. Sesudah dirasa cukup, kamipun kembali ke Maastricht, dan tibalah di sana pukul 23.00. Makan kentang goreng pun kami lakukan sambil berjalan mengingat waktu yang sudah larut.
5. OASIS di Wahlwiller – Netherland
Hari Minggu, 1 Maret 2010, sesudah makan siang, pada pukul 12.45 kami siap berangkat dari DE BEYART ke Wahlwiller dengan semua peserta baik dari Ghana, Malawi, Netherland sendiri. Semua peserta ada 18 terdiri dari: 7 bruder dari Provinsi Indonesia, 3 dari Malawi, 6 dari Ghana dan 2 dari Netherlands. Pada pk 16.15 waktu setempat kami tiba di Wahlwiller. Sesudah pencarian kamar dan makam malam pada pk 18.00, OASIS pun dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Br. Nico Coolen, FIC yang ditutup dengan sambutan Br. Martin T. Handoko, FIC selaku Dewan Umum ,yang sekaligus membuka pelaksanaan OASIS. Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan acara perkenalan singkat, informasi beberapa hal praktis, dan informasi tentang Emmaus Companionship.
MINGGU I: RECALLING OWN LIFE STORY
Pada minggu pertama, kami diajak untuk mengenang kembali Kisah Panggilan dan Perjalanan Hidup berikut simbol diri. Semua sharing “LIFE STORY” diakhiri dengan tanggapan dari peserta yang lain dengan aneka ekspresi. Ekspresi dapat berupa tulisan, gambar, atau doa yang kemudian disampaikan kepada peserta yang baru saja berbagi pengalaman hidup.
Pada bagian ini banyak hal yang sangat mengharukan kami, ketika dan setelah mendengarkan kisah hidup para peserta. Hal yang lebih mengharukan dan membuat kami sungguh diteguhkan adalah ketika para peserta menyampaikan apresiasi terhadap bruder yang baru saja selesai dengan sharingnya. Hal ini selalu diakhiri dengan acara jabat tangan dan saling memeluk.
Pengalaman ini sungguh meneguhkan kami satu terhadap yang lain. Kami merasa diterima, diakui, didukung, dimengerti dan dipahami oleh sesama bruder kami. Pelukan dan rangkulan tulus dari semua yang hadir sangat menopang kuat hidup kami. Kami merasa satu dalam panggilan, satu dalam kongregasi, satu dalam perutusan dan satu keluarga.
Sampai disini agaknya persoalan bahasa belumlah muncul. Karena dari Indonesia, semua sudah mempersiapkan dengan baik dan bagus, dalam bentuk powerpoint, sehingga tinggal membacakan saja. Meski diakui bahwa beberapa dari Indonesia belumlah benar cara membacanya, namun maksud yang akan disampaikan bisa dipamahi karena ada bahasa tulisnya. Selanjutnya, komunikasi di ruang makan dan waktu-waktu senggangpun sampai di sini belumlah menjadi masalah, karena masih sebatas “say hello”, perkenalan dan masih hal-hal yang umum dan sederhana. Everything is ok. Dan terdengarlah tertawa sana sini yang sangat akrab.
MINGGU II : IN THE SPIRIT OF OUR FOUNDERS AND IN THE LIGHT OF FIC LIFE
Beberapa materi pada minggu ini, antara lain: FIC Founders, FIC Apostolic Mission, Congregational Walk, Community of FIC Brothers, dan Spiritual Life of FIC Brothers.
Kami diajak untuk mengenal, mendalami dan menginternalisasi semangat pendiri Mgr. Rutten dan Br. Bernardus Hoecken secara lebih mendalam.Selanjutnya kami memperdalam tentang kerasulan FIC, Hidup Berkomunitas Bruder FIC dan Spiritualitas Hidup sebagai Bruder. Pendalaman ini di lengkapi dengan berziarah ke tempat-tempat monumental dimana dahulu Mgr. Rutten memulai karyanya di serambi Servatius, hidup pada masa kecil dan tugas sebagai pastor paroki, rumah tempat beliau tinggal dan komunitas pertamanya dimana kongregasi kita dimulai yang disebut sebagai rumah “Red Lion”. Sesudah itu kami mengunjungi musium FIC di De Beyart yang sangat mengagumkan. Peziarahan ini berakhir di makam Mgr. Rutten dan Br. Bernardus. Di sana kami mengadakan doa bersama, dengan satu persatu menaruh bunga di depan batu nisan beliau berdua. Sungguh perasaan yang agak tidak mudah kami jelaskan.
Sampai disini, banyak hal yang kami pelajari dan kami refleksikan. Pertama, kami menyadari bahwa Tuhan memang sungguh memberkati apa yang telah dimulai oleh pendiri kita. Pendiri kita adalah sosok yang kuat dan teguh dalam iman dan harapan. Karya yang dimulainya dengan susah payah, akhirnya sungguh berkembang hingga di luar kota Maastricht bahkan di luar Netherlands. Sungguh karya Tuhan yang indah. Kedua, kami merasa lebih dekat dan dekat dengan Mgr. Rutten dan Br. Bernardus. Hal sangat mengharukan hati kami adalah ketika diserambi St Servatius kami membuat lingkaran dan menyanyikan WE HONOUR BOTH THEIR NAME, bahwa kami saat itu berdiri di tempat dimana dahulu Mgr Rutten memulai karyanya. Hati kami berseru, “Terima kasih Tuhan, boleh mengalami berdiri dan bersimpuh di tempat Mgr Rutten pertam kalinya mengumpulkan anak-anak terlantar dalam pendidikan (iman).” Kedekatan ini menjadi nilai yang berharga bagi hidup panggilan kami sebagai bruder. Ketiga, ada dua perasaan berlawanan yang hidup ketika itu. Di satu sisi, kami bersyukur, bangga dan berterima kasih kepada para pendahulu FIC baik di Belanda sendiri maupun yang ada di Indonesia dan provinsi yang lain. Berkat kerja keras merekalah Kongregasi FIC dapat berkembang hingga saat ini. Namun pada sisi yang kedua, kami sangat sedih, lebih tepatnya prihatin, karena para bruder di Belanda sendiri justru semakin sedikit dan nyaris habis. Tidak ada lagi karya milik para bruder, tidak ada lagi para calon dan yang sekarang ini ada tinggallah mereka yang usianya telah lanjut. Hal ini semakin menjadi terasa ketika kami mengunjungi komunitas di Den Haag dan Komunitas Nijmegen yang adalah komunitas paling dekat dengan penutupan rumah tersebut. Keempat, sejak memasuki minggu kedua ini, kesulitan bahasa sungguh kami rasakan. Dalam minggu-minggu ini, presentasi, diskusi dan sharing sudah harus terjadi. Maka dapat dipahami jika para bruder dari Indonesia sedikit saja bisa menyerap. Namun hal ini tidak berarti tidak ada yang dipelajari. Bersyukur bahwa Br. Guido selalu menjelaskan ulang ketika ada tugas-tugas yang harus dikerjakan dan atau direfleksikan. Sebagian besar dari kami menyatakan “menyesal” bahwa ada waktu 2 tahun kurang dipakai untuk mempersiapkan bahasa dengan baik. Dalam situasi yang seperti ini, kami merasa sangat bodoh, karena tidak bisa memberikan tanggapan-tanggapan dalam diskusi atau sharing pleno. Padahal kami mempunyai feeling bahwa soal ide mungkin kami tidak jauh lebih buruk dari Ghana dan Malawi yang memdominasi pembicaraan karena tidak ada masalah dengan bahasa Inggris. Kami menyadari hal ini sungguh sebagai suatu keterbatasan kami, namun kami tidak lalu patah semangat. Kami tetap tampil percaya diri, karena dalam beberapa hal, seperti: kreatifitas, spontanitas, kepekaan, kedisiplinan waktu dan persiapan—masih dapat dibilang lebih baik.
MINGGU III: ENHANCING THE FULLNESS OF LOVING AND LIVING
Seluruh acara pada minggu ketiga ini dipandu dan diisi oleh Br. Johan Muijtjens dan Sr. Claudia. Yang kami pelajari dan refleksikan antara lain: God’s dream about us, Human Sexuality, Stages of psychosexual and social spiritual growth, Imprisonment and Liberation sexual feelings, Addiction, co-dependency and attachment, Intimacy and Friendship, Calibate and Friendship, Sexuality and Pprayer, dan Liberating each other. Dan pada bagian akhir minggu ini, kami mengunjungi komunitas FIC di Rotterdam.
Beberapa hal yang dapat kami refleksikan sebagai bentuk pembelajaran antara lain: Pertama, kami di ajak untuk menyadari dan merefleksikan seluruh pengalaman seksualitas saya, pemahaman yang benar tentang seksualitas, perasaan-perasaan seksual dan upaya menjadi makhuk seksual yang dewasa dan seimbang. Kami juga menimba keberimbangan antara spiritualitas, seksualitas dan kepribadian. Pada sessi ini saya semakin menyadari dan dibentuk untuk menjadi makhluk seksual yang selaras dengan spiritualitas hidup, khususnya sebagai religius. Tidak ada spiritualitas yang sehat, tanpa seksualitas yang sehat, dan tidak ada seksualitas yang sehat, tanpa personalitas yang sehat pula. Kedua, kami diperkaya dengan refleksi tentang keakraban dan persahabatan, baik yang umum maupun yang secara khusus pada keakraban dan persahabatan sebagai seorang selibater. Kami bergulat pada persahabatan dan keakraban yang membebaskan, menyembuhkan,meneguhkan dan memahami satu terhadap yang lain. Akhirnya, sampailah pada persahabatan yang saling membebaskan, dan tidak saling mengikat. Ketiga, kami diajak untuk memperdalam hubungan antara doa dan seksualitas. Dan pada terakhir kami diajak untuk menimba lebih jauh tentang kesucian diri melalui seksualitas dan spiritualitas kita. Kesucian adalah penggilan hidup semua orang dengan caranya masing-masing.
Persoalan yang sama masih membungkus kami hingga hari ini, yakni soal bahasa. Maka pada minggu ini, kelompok yang semula mau dibagi dengan anggota campuran, kemudian dibagi berdasarkan bahasa. Kelompok Indonesia menjadi satu kelompok dan kelompok yang lain adalah kelompok Ghana, Malawi dan Netherlands yang tidak ada masalah dalam hal bahasa Inggris.
Pada akhir minggu ini kami berkunjung ke komunitas FIC di Rotterdam. Di sana kami diterima dengan sangat baik dan ramah. Kami sempat bertemu juga bruder Gerald, sebagai bruder yang relatif masih muda, dan sempat bertemu pada saat ECAA di Syalom Bandungan, tahun 2002. Dari komunitas Roterdam, kami dengan rombongan kemudian rekreasi ke Kapal Pesiar di Rotterdam untuk menambah kekaguman kami atas kemegahan Netherlands.
Sesudah itu kami kembali ke Wahlwiller dan baru tiba pada pk 21.38 uur. Selanjutnya, istirahat yang baik menghantar kami hingga pagi hari berikutnya. *)