Oleh Br. Michael Sidharta Susila
Kalau kerbau pun akhirnya bisa berhitung, pastilah luar biasa guru itu. Begitulah julukan yang pernah diberikan kepada seorang guru berhitung di tahun 1950-an. Namanya Bruder Landoald FIC. Julukannya: guru berhitung kerbau. Mula-mula Landoald mengajar di SGB Muntilan (kini SMA Pangudi Luhur Van Lith). Terakhir ia mengajar di Boro, sebuah pedesaan di lereng pegunungan Menoreh yang waktu itu masih sangat sederhana.
Anak-anak yang didampingi Landoald adalah anak-anak desa yang sederhana. Entah itu di Muntilan, apalagi di Boro. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga sederhana, bahkan miskin. Dari kondisi ini saja, kita bisa membayangkan nyali anak-anak itu untuk belajar. Rasa minder dan sulit bertahan dalam ketekunan serta ketelatenan sangat mewarnai dinamika belajar anak-anak itu.
Kondisi ini sangat disadari Landoald. Mereka adalah anak-anak yang oleh almarhum Romo Mangunwijaya disebut pewaris mental orang terjajah. Mental anak-anak terjajah (baca: belum merdeka) adalah cenderung sulit bertekun, tidak kreatif, mudah menyerah, serta minder. Kalau berhadapan dengan orang asing, mereka cepat merasa tidak percaya diri, bahkan meyakini bahwa mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Landoald menyiasati kondisi anak-anak pewaris mental kaum terjajah ini dengan cara mengajar yang sangat sederhana. Tidak banyak kata-kata ia gunakan. Dengan telaten dan konsisten, ia mengajarkan alur tahap demi tahap dalam mengerjakan soal berhitung. Cara demikian dilakukan berulang kali; tanpa kata-kata mencela dan ekspresi kecewa yang bisa membuat ciut nyali dan mencipta aura negatif pada anak didiknya.
Di Boro, Landoald melakukan hal yang sama. Tingkat percaya diri anak-anak Boro lebih buruk. Landoald berjuang memompa rasa percaya diri anak-anak yang mengalami rasa minder kronis itu. Cara Landoald unik. Landoald berjuang meyakinkan anak didiknya bahwa mereka bisa membuat yang terbaik, meski tidak sempurna.
Pertama-tama, ia berusaha membuat banyak latihan. Pengulangan adalah metode pengajaran yang terbukti jitu. Ketika ulangan, Landoald membuat formasi soal yang unik. Soal dengan tingkat kesulitan mudah sebanyak 75 persen. Sisanya dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Hasilnya semua anak mendapat nilai baik. Lalu Landoald akan mengatakan dengan tegas, "amu bisa, kan. Meskipun tidak semua."
Terbukti, anak didiknya pandai berhitung. Mereka juga percaya diri dan nyaman dengan dirinya. Hasil ujian negara pun meraih yang terbaik di wilayahnya waktu itu. Nilai ujian negara berhitung 8 atau 9 adalah lumrah bagi murid Landoald yang orang desa kluthuk waktu itu.
Memerdekakan anak
Kisah Landoald pasti membuat iri para guru saat ini. Betapa tidak, matematika dan mata pelajaran lain yang menjadi mata ujian negara menjadi momok anak-anak kita. Tingkat ketidaklulusan yang begitu tinggi seperti hantu yang terus membayang sejak awal tahun ajaran. Perilaku sekolah juga sering membuat anak kian tercekam. Nyali anak-anak kita menciut.
Di rumah, kisah anak-anak kita tak jauh berbeda. Orangtua juga disergap ketakutan akan kegagalan di ujian negara. Maka aneka les dipaksakan kepada anak-anaknya. Lihat saja, lembaga-lembaga bantuan belajar hari-hari ini telah dipadati anak-anak SMP-SMA kelas akhir. Keramaian di tempat itu adalah ekspresi ketercekaman anak-anak kita.
Maka sesungguhnya, hari-hari ini pun kita sedang mendidik anak- anak yang dirasuki mental anak terjajah. Mereka adalah anak-anak yang belum merdeka. Situasi lebih buruk sering dialami anak-anak di sekolah bukan favorit. Banyak dari mereka yang merasa sebagai pelajar yang tersisih, atau kaum pinggiran komunitas pelajar.
Rasanya para guru dan pengelola sekolah perlu mengusahakan seperti yang diperjuangkan Landoald. Pertama-tama para guru harus menjadikan diri mereka merdeka, meski ini tak mudah. Sering kali tuntutan administrasi sekolah dan aneka tuntutan pemerintah menghabiskan energi para guru. Akan tetapi, bagaimanapun juga seorang guru tidak boleh melibatkan para murid dalam kesesakan hidupnya.
Kedua, para guru perlu mencari cara untuk membangkitkan rasa percaya diri para murid. Murid yang percaya diri berpotensi menjadi pribadi berkarakter jujur, tekun, telaten, kreatif, dan bertahan dalam kesulitan. Guru yang mampu membangkitkan rasa percaya diri pada muridnya telah menjadikan sekolah sebagai saat dan tempat yang tepat bagi sejarah hidup muridnya (Malcolm Gladwell, 2004).
Pertanyaan masygulnya, masihkah para guru mampu mencipta ruang untuk memerdekan dirinya sendiri? Ataukah para guru sendiri justru hidup sebagai kaum terjajah? Guru swasta dan guru bantu digelisahkan pendapatan dan kelangsungan hidup dirinya sendiri serta sekolahnya. Guru negeri disibukkan oleh pencapaian prestise sekolahnya.
Peran pemerintah sungguh sangat diharapkan. Kecerobohan sikap pemerintah dalam membuat kebijakan akan membuat para guru terjajah. Korban akhirnya, para murid pun tak punya ruang belajar yang merdeka. Ataukah kita, para guru juga pemerintah, tak lagi peduli dengan dinamika pendidikan yang mengerdilkan karakter anak-anak didik kita?