Sabtu, 19 Mei 2012  - 11 User Online  




Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Blog milik Der Wahyu
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Brother FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC
Facebook FIC


20.10.2010 22:54:12 667x dibaca
NESTAPA SEKOLAH SWASTA
Oleh Br.Michael Sidharta Susila

Dulu, sekolah swasta pernah jadi idola. Banyak calon guru berusaha. Waktu itu gaji guru di sejumlah sekolah swasta lebih tinggi ketimbang sekolah negeri. Situasi hari-hari ini tak lagi begitu. Gaji guru sekolah negeri jauh lebih tinggi. Menjadi guru sekolah negeri lebih dirindukan.
Apa dampaknya bagi sekolah swasta? Siapa yang pada akhirnya paling dirugikan? Apa yang harus kita sikapi dan lakukan?

Waspadai gajimu
Penulis tak pernah lupa dengan pesan saat menerima honor menulis dari suatu majalah. Pada surat wesel tertulis,”Kontrakreasi artikel Anda pada edisi… .” Hari-hari ini penulis makin sadar makna pernyataan itu. Honor atau gaji ternyata memang bisa menjadi kontra kreativitas. Ketika gaji menjadi pertimbangan utama seseorang bisa menjadi pengabdi uang (gaji atau honor). Pola ini berbalikan dengan prinsip hidup efektif yang mengedepankan kerja serta kreativitas.
Ketika gaji menjadi target utama, kreasi dan kualitas kerja cenderung dikemudiankan. Dalam dunia pendidikan, kualitas mengajar menjadi setengah hati. Paling tidak guru selalu mempunyai alasan untuk tidak optimal dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.
Tentang ini kita ingat kisah angsa emas dalam buku Seven Habits-nya Steven Coecey. Guru yang begitu terpusat pada gaji dan honor adalah petani miskin yang lebih memilih telur emas ketimbang merawat si angsa yang menghasilkan telur emas. Guru semacam itu terancam pertumbuhan karakternya. Itulah guru yang miskin sejati.
Kalau demikian gaji atau honor memang bisa menghambat kerja, kreativitas, dan kualitas. Gaji dan honor bisa mengaburkan pergulatan jati diri guru sebagai sang pendidik. Tak heran kalau kita memang semestinya mewaspadai gaji kita.

Kepayahan sekolah swasta
Ketika gaji guru sekolah negeri kian melambung, banyak sekolah swasta mulai kepayahan. Pundi-pundi sekolah swasta yang salah satunya bergantung pada kesanggupan uang sekolah tak seagung pundi-pundi sekolah negeri yang mengalir dari pajak rakyat. Setiap kali pemerintah mengisyaratkan kenaikan gaji dan tunjangan guru, sesungguhnya itu menjadi genta sekarat sekolah swasta.
Genta itu terus bergaung. Gaungnya menyusupi kesadaran para guru sekolah swasta. Akibatnya tidak sedikit guru sekolah swasta yang harus berjuang untuk bertahan “mengabdi” di sekolahnya. Sebulan yang lalu, seorang sahabat di Pekanbaru Riau kebingungan gara-gara sebagian besar guru di sekolah swasta tempat anaknya belajar memutuskan berhenti mengajar dengan tiba-tiba. Beberapa hari yang lalu beberapa teman kepala sekolah geram bukan kepalang karena beberapa guru muda di sekolahnya tiba-tiba memutuskan berhenti karena tergiur gaji tinggi di sekolah lain. Sekolah swasta praktis telah menjadi batu loncatan sejumlah calon guru.
Pengalaman di atas terjadi di sekolah swasta dengan gaji yang lumayan baik. Murid-murid yang diajarpun tergolong baik, bahkan menyenangkan. Yayasan yang menaungi sekolah swasta itupun memberi perhatian dan jaminan bagi masa depan guru. Tapi semua itu tak mampu menahan guru-guru itu untuk hengkang.
Dari semua itu, pada akhirnya para muridlah yang menjadi korbannya. Para guru yang “semaunya” hengkang dengan alasan gaji dan janji-janji manis telah mencampakkan proses membangun masa depan sejumlah orang muda di negeri ini. Guru semacam ini tak lagi mampu meloloskan roh pengabdian dan kepedulian demi kehidupan para siswa dari ruang jiwanya.
Pada akhirnya, para guru, khususnya guru swasta mesti kian sadar akan kondisi ini. Rasanya beban pengelolaan sekolah swasta kian berat. Menaikkan uang sekolah jelas kian mustahil. Belum lagi sejumlah sekolah swasta mulai kekurangan peminat. Dampak akhirnya sumber daya pengelolaan sekolah kian rawan. Bagaimanapun kebermaknaan hidup para guru swasta sebagian digurat dengan menjadi guru.
Pemerintahpun semestinya kian cermat lagi bijak dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun tidak sedikit anak bangsa ini yang belajar di sekolah swasta. Ketika kebijakan itu membuat kritis proses penyelenggaraan dan pembelajaran di sekolah swasta, sesungguhnya Negara telah mencampakkan masa depan sejumlah warganya.




4 KOMENTAR
10.11.2010 18:57:17
Emang sulit bila suatu pengabdian diukur dengan uang karena disitu terjadi ketidak tulusan, tetapi kebutuhan hidup juga menjadi pertimbangan utama , tidak sedikit orang yang masih mau setia pada pengabdian tapi tidak dilirik/tidak diperhatikan, seingat saya waktu ssya masih kecil dulu saya sekolah di sekolah katolik yang sebagian dari guru saya adalah guru dengan status pegawai negri yang diperbantukan disekolah saya ( sekolah bersubsidi- kalau istilah ini tidak salah), Bruder, apakah progranm ini sudah ditiadakan oleh pemerintah ? padahal sebab program ini dapat membantu kegelisahan/masalah yang dihadapi sekolah swsta pada umumnya saat ini.

YANTHI3  
11.11.2010 15:17:04
Bagaimana dengan nasib anak/istri dari guru-2 tsb?
HARYA SETYAKA  
22.12.2010 09:45:06
ketika bekerja orang jarang yang menyadari bahwa "uang yang mencari saya" bukan "saya yang mencari uang" ketika orang memiliki visi dalam bekerja bahwa uang yang mencari saya, maka ketika bekerja ia berorientasi pada mutu pekerjaan,pelayanan,pengabdian. dengan demikian uang akan mencarinya karena akan ada banyak tawaran yang menghasilkan uang atas dasar profesionalisme kerjanya. Jika guru mengubah oreientasi bekerja dari mencari uang menjadi uang yang mencari dirinya maka sekolah-sekolah katolik akan tetap banyak peminat dan tidak dikelas duakan.
FLORI  
15.10.2011 22:56:17
Pengabdian ? di lain pihak tuntutan hidup semakin mahal, Maka jangan heran banyak guru sekolah katolik yang kerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup sudah pasti akan berpengaruh pada kwalitas PBM

TRI RAHARJANTA  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 2 ms