Oleh Sr. Agnes S Kadaryati, PMY
“Aku haus bahkan kehausan setelah melakukan perjalanan di padang gurun yang cukup lama dan melelahkan…aku mau istirahat…Nach! Itu dia ada Oase. Aku mau kesana pasti aku kan segar kembali untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.”
Itulah kira-kira gambaran perasaan para tamu yang mau “istirahat” sejenak di Rumah Retret Syalom Bandungan. Mereka merindukan air untuk kesegaran hidupnya. Maka ditemukan “Oase,” dan merekapun mendapat kesegaran baru. Kesegaran ditemukan dalam aliran “Oase” yang ditawarkan yakni Gladi Rohani, Rekleksi, Retret, Bina Suara Hati atau Mental Spiritual. Mereka tampak sangat menikmati dan rasanya ingin tinggal lebih lama lagi di lingkungan yang segar, asri dan alami. Setelah kesegaran dihirup maka merekapun harus segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang menyusuri liku hidup ini.
Rumah Retret Syalom yang di kelola oleh para Bruder FIC ( Fratres Immaculatae Conceptionist ) senantiasa mencoba menanggapi kebutuhan aktual zaman ini, khususnya bagi anak-anak dan kaum muda yang datang untuk mengadakan penyegaran dan pendalaman hidup rohani. Mereka sangat kehausan setelah menempuh perjalanan panjang dalam aktivitasnya dan kepenatan di sekolah, rumah dan masyarakat. “ Kehausan” mengantar mereka rasa rindu untuk menemukan kesegaran baru dari sang Sumber Air Kehidupan” yakni Tuhan sendiri ( sumber utama dan pertama ) dari aliran oase itu.
Dengan belajar dari 4T ( Tenang, Tahu waktu, Tahu tempat , taati ) anak-anak dan kaum muda akan merasakan sentuhan TUHAN dalam materi yang di sajikan oleh Tim Pendamping. Proses pendampingan tidak akan berhasil tanpa campur tangan Tuhan yang mengerti dan peduli akan kebutuhan aktual anak zaman sekarang dan “ Oase itu ada di Syalom.”
Bahagia bersama Broeder Van Maastricht
Masih terngiang di telinga saya, waktu itu ditanya oleh Zuzter Belanda mengenai keadaan dan tugasku saat ini. Pertanyaan kurang lebih demikian, “ Waar Werk U?. Wah pertanyaan bagus, maka saya coba menjawab dengan segala keterbatasan bahasa saya” Zuzter,ik werk in Bandungan, in Retret huis voor jongen, met Broeder van Maastricht.”( Suster saya bekerja di Bandungan, dirumah retret untuk anak-anak dengan para Bruder Maastricht ). Lalu tanyanya lagi ” h goed Zo! Vindt u uw werk leuk? saya coba jawab lagi.” Ya natuurlijk dat is altijd belangrijk en klopt voor mij ” ( ya tentu, itu menyenangakan dan cocok untuk saya ). Tetapi bukan berarti saya selalu dapat melakukan apa saja tanpa mengalami tantangan dan kesulitan.
Di Rumah Retret “ Syalom” Bandungan saya merasakan indahnya kebersamaan dengan para Bruder FIC, kami saling belajar mengembangkan dalam visi dan misi Rumah Retret. Kami melayani tanpa pandang latar belakang sosial, ekonomi, keluarga dan agama. Karena mereka adalah “ tamu dan majikan” kita ( kata St. Vincentius a Paulo ) yang pelu kita layani dengan sepenuh hati. Ini pula yang saya rasakan ada kesamaan semangat pelayanan seperti St. Vincentius.
Menurut saya kehangatan dan penerimaan diri sangat terasa ibarat “ kebo nyusu Gudhel.” Di Rumah Retret Syalom saya di perkaya oleh para Bruder, saya banyak belajar dari yang muda dalam pendampingan, agar misi dan visi dapat tercapai. Saya senantiasa terbuka untuk menerima kritik dan saran demi pelayanan dan terpeliharanya OASE dan OASE tidak boleh kering. Saya bersyukur kerap kali berkesempatan belajar hening…tenang untuk melihat diri, menemukan rekonsiliasi dan metamorfosis bersama retretan. Kami saling mendampingi dalam suatu proses pendampingan retret, ibaratnya “sambil menyelam minum air.”
Broeder van Maastricht, heel hartelijk dank.
( Sr. Agnes S Kadaryati, PMY-Berkarya dan tinggal di Rumah Retret “Syalom” Bandungan )