09.12.2010 12:21:48 608x dibaca
AKU HARUS MEMBUKA DIRI Oleh Sr. Karina CB Panenan banyak penuai sedikit, maka aku dipanggil untuk menuai di ladang Tuhan . Ini karya Allah dan aku sebagai alatnya, pasti Tuhan akan campur tangan dalam karyaku. Inilah modal dasarku untuk berkaya di ladang Tuhan ASPI VAN LITHKU.Suasana di asrama putri Van Lith sangat sepi. Jauh berbeda dibandingkan dengan suasana ketika aku tinggal di Bendul Merisi, bising hiruk pikuk kendaraan, tenang hanya pada jam 02.00 – 03.00 saja. Aku sungguh menikmati ketenangan ini, udara sejuk segar, pemandanganya indah, banyak pepohonan, disana sana-sini terdengar kicau burang bersaut sautan, sehingga menambah ketentraman batinku. Siang hari sekitar jam 12.00 aku kedatangan tamu dari surabaya muridku yang sedang berlibur di rumah neneknya di Bantul. Belum belum genap 2 hari aku sudah kedatangan tamu, dia berjanji nanti kalau sudah lulus mau mendaftar di SMA Van Lith. Hari ke 2 aku kedatangan tamu teman guru yang kebetulan juga sedang berlibur di rumah orang tuanya. Pada hari ke 3 aku diajak ke Bruderan untuk berkenalan dengan para bruder FIC di Komunitas Jl Kartini. Sore harinya aku diperkenalkan oleh Sr Richardia dengan bapak RT/RW dan ketua lingkungan. Aku mulai mengenal para tetangga asrama, kesanku mereka ramah-ramah dan menyenangkan. Hari ke 4 tepatnya hari senin aku diajak oleh Br Sumarno dan Sr Yosefa, CB pergi mengunjungi Rm. Sapto Nugroho di Paroki Sawangan, aku diperkenalkan dengannya, ternyata beliau sering membantu misa kampus di SMA Van Lith. Hari ini kurasa sangat membahagiakan. Libur sekolah telah usai, anak-anak mulai berdatangan. Oau…... terkejut aku, suasana sunyi senyap menjadi ramai sekali, disana sini ribut, mereka senang karena bertemu kembali dengan teman-teman setelah sekian hari tidak ketemu. Aku menyambut kedatangan mereka menyalami satu persatu sambil memperkenalkan diri. Batin ku mengatakan” Ini anak-anak kader gereja, aku harus serius dalam mendampingi mereka “. Waktu berjalan tanpa sadar tak terasa. Aku sudah 6 tahun tinggal di komunitas ini, banyak hal yang aku alami hidup bersama anak-anak muda kader gereja. Perilaku mereka lucu menjengkelkan, menggemaskan mengkhawtirkan tetapi juga ada yang membuat aku terkejut , terheran-heran bahkan kagum akan tindakan mereka. Pikiran mereka susah untuk ditebak. Kalau punya kemauan harus terjadi jika dilarang mereka akan mencari alasan apapun untuk menggolkan keinginannya. Mereka bangga jika bisa menipu atau melanggar aturan asrama yang sudah disepakati bersama. Meskipun tidak semua mempunyai anggapan seperti itu. Awalnya aku merasa kesulitan dalam menghadapi mereka. Tetapi aku harus konsisten dan tidak boleh putus asa, aku harus berjuang terus, tetap bertahan dalam kejengkelan, kejenuhan dan kekesalan, aku harus bisa dan pasti bisa. Karena aku sadar bahwa pembinaan merupakan pusat sentral dalam menentukan kwalitas kader gereja. Anak-anak inilah kader gereja dan bangsa maka apapun yang terjadi aku harus berusaha bagaimana caranya supaya anak-anak mau mendengarkan dan menerima masukan yang baik dari luar dirinya termasuk dari diriku juga. Kuncinya supaya aku bisa diterima mereka “AKU HARUS MEMBUKA DIRI”. Maka aku mulai membuka diriku, belajar dengan mereka, dan mau menyelami apa kemauan mereka. Setelah mereka bisa menerima aku, maka aku tawarkan ide-ideku. Memang tidak mudah, perlu kesabaran yang luar biasa. Tetapi jutru di situlah aku dididik oleh Tuhan dalam hal kesabaran, ketabahan, kedisiplinan keuletan dan kecerdikan. Ditempat inilah aku semakin diteguhkan dalam penghayatan Tri Prasetiaku. Sebagai Suster CB aku sadar bahwa aku bagian dari pengemban rekonsiliasi. Aku sadar ditempat ini aku dipanggil untuk menjadi alat penyembuh dalam dunia yang terluka untuk membawa harapan dan kehidupan dalam asrama putri SMA Van Lith ini. Kalau boleh jujur tidak semua anak Van Lith berasal dari keluarga yang harmonis. Banyak dari mereka berasal dari keluarga yang sibuk karena ke dua orang tuanya bekerja. Belum lagi dengan pengaruh lingkungan yang kejam berselubung kecanggihan tehnologi. Situasi dunia yang tidak bersahabat akan membawa dampak tingkat kesetresan yang tinggi bagi anak-anak remaja oleh karena itu perkembangan arus jaman tadi perlu disingkapi dengan cermat. Perkembangan intelektual perlu diimbangi dengan perkembangan mental yang dapat di lihat dalam hidup sosial dan sikap praktek hidup sehari-hari. Mereka tidak hanya belajar spiritual saja tetapi juga kegiatan praktis sehari-hari dari bangun tidur, cara makan, cara berpakaian yang bersih dan cara membersihkan tempat tinggal, hidup bersosial, saling memperhatikan satu sama lain, kesetian, memelihara barang pribadi maupun inventaris, cara mengatur waktu yang baik dan memprioritaskan yang penting. Pengalaman yang paling menyedihkan yaitu di saat aku harus kehilangan Lian angkatan 14 yang meninggal karena kecelakaan saat mau mengajar sekolah minggu. Lian berjalan bersama ke dua temannya menuju tempat PIA. Mereka mencari jalan pintas dengan menyeberang sungai di daerah Talun. Rupanya naas terjadi saat berjalan ada truk yang melorot karena remnya blong, kedua temannya bisa panjat tebing dengan cepat sehingga selamat sedang Lian saat menepi ke tebing mau naik tebing seperti temannya tepelanting dan merosot sehingga “ Kunduran” truk akibatnya luka di bagian perut dalam. Saat mendapat berita tersebut aku terkejut lalu aku pergi menuju ke UGD Rumah Sakit Umum Muntilan. Kutemui dia di ruang UGD setelah melihat kondisinya dan dia mengeluh panas sakit sekali perutnya maka aku ambil tindakan untuk merujuk ke Rumah Sakit Panti Rapih. Dia sempat dioperasi tetapi akhirnya Tuhan menghendaki yang terbaik Lian meninggalkan kita semua, termasuk ibu dan kakak kandungnya untuk selama-lamanya menuju ke rumah Bapa. Selain pengalaman tersebut di atas ada juga pengalaman yang menantang, dan membuat jantung berdebar debar. Biasanya pengalaman ini kualami saat Tahun ajaran baru dan saat ada kegiatan naik gunung. Setiap tahun ajaran baru aku disibukkan dengan anak-anak yang belum kerasan tinggal di asrama , setiap hari mereka “ rewel “ pingin pulang bahkan adakalanya disertai dengan sakit panas tinggi. Semua suster disibukkan untuk selalu berjaga-jaga. Kami sibuk bolak-balik ke RS Panti Rapih, padahal kalau diperiksa ternyata hanya kangen rumah “Home Sick”. Dalam situasi seperti ini kami harus aku harus berhati-hati berbicara, salah ucap atau bicara kasar sedikit mereka bisa minta pulang. Belum lagi ada orang tua yang ikut-ikutan rewel juga, telpon setiap hari menanyakan anaknya, bahkan ada yang coba-coba ngintip mau lihat anaknya. Puji Tuhan dua tahun ini sudah berkurang mungkin karena sebelum masuk OASE (Orientasi Asrama dan Sekolah) sudah ‘ditanting’ kalau mau masuk, ya masuk jangan rewel dan kalau merasa berat secepatnya memberi tahu orang tua mumpung mereka masih disini. Yang menggembirakan dari murid baru, di beri makanan selalu habis karena mereka belum boleh jajan. Rasa kekuatiran di saat anak-anak naik gunung, aku takut kalau mereka terjadi apa-apa di sana. Mungkin karena pengaruh pernah kehilangan anak yang kecelakaan dan meninggal. Aku merasa bersalah, dipercaya untuk mengasuh anak kok tidak bisa menjaga, padahal anak adalah harapan penerus orang tua. 2 KOMENTAR
09.04.2011 09:30:36
Selamat berkarya Suster, saya percaya perjuangan dan pengorbanan Suster dalam karya pelayanan pendampingan anak-anak muda berharga di mata Tuhan. Teruslah berkarya, berikan yang terbaik. Tolong doakan juga saya sekeluarga Salam ... kardiwanto (ornag tua Risma angkatan 15 SUKARDIWANTA http://kardiwanto.blogspot.com 09.08.2011 16:01:53
Sr. Karina adalah salah satu suster yang mendampingi saya sewaktu saya tinggal di ASPI Vanlith. Beliau bahkan menjadi pembimbing Karya Tulis yang saya susun di kelas 3. Terimakasih sr. Karina. Tanpa suster, tentu ASPI Vanlith akan berbeda.. ELLEN NATASIA http://www.ellennatasia.wordpress.com |