Oleh Rm. Servasius Samuel, Pr
Rasanya saya bukan orang yang paling tahu tentang para bruder dari kongregasi Fratres Immaculatae Conceptionis (FIC). Keberadaan saya di antara para bruder baru berjalan dua tahun. Padahal kongregasi ini sudah 90 tahun hadir dan berkarya di Indonesia. Jauh sebelum saya tinggal bersama para Bruder bahkan sebelum dilahirkan, kongregasi ini sudah ada.
Kata-kata apapun yang saya uraikan untuk para Bruder, bisa saja bias karena minimnya pengetahuan dan singkatnya waktu kebersamaan. Meskipun demikian, saya merasa terdorong untuk menyampaikan sesuatu pada hari istimewa para Bruder ini. Bagi saya, kesempatan-kesempatan istimewa selalu datang pada saat tertentu bahkan tidak pernah terulang. Sayang, kalau moment istimewa ini akhirnya terlewatkan tanpa dimaknai bersama. Oleh karena itu pengetahuan dan pengalaman yang sedikit ini pun ingin saya sampaikan untuk para Bruder.
Saya mengawali kebersamaan saya dengan para Bruder dua tahun yang lalu dalam ketidakyakinan. Secara pribadi, saya belum mempunyai pengalaman hidup bersama para Bruder. Saya baru mengenal para Bruder FIC ketika saya berada di Semarang. Itupun secara kebetulan karena saya membutuhkan tampat mondok untuk kuliah. Saya sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan dan hidup di dalam biara. Sebagai seorang imam praja, saya menyadari bahwa saya memiliki kebiasaan hidup yang cenderung berbeda dengan para Bruder. Oleh karena itu, saya berpikir bahwa saya pasti tidak bertahan lama. Namun ketika menjalani hari demi hari bersama para bruder, ketidakyakinan saya akhirnya terkikis habis. Bergaul dengan para Bruder mulai dari bruder-bruder muda sampai dengan bruder-bruder sepuh selalu menyenangkan. Semakin hari saya semakin merasa bahwa saya adalah juga bagian dari hidup para Bruder. Kami mengalami kebahagiaan dan kegembiraan bersama ketika ada bruder yang merayakan hari lahir. Kami juga bersama-sama merasa terharu dan sedih bersama ketika ada bruder yang sakit atau meninggal. Bagi saya, situasi inilah yang sesungguhnya disebut sebagai situasi persaudaraan. Saat dimana setiap anggota kelompok mampu merasakan dan mengalami keadaan apapun yang terjadi dalam diri orang lain. Saat dimana duka dan kecemasan satu orang menjadi duka dan kecemasan bersama serta kegembiraan dan harapan satu orang juga dapat menjadi kegembiraan dan harapan orang lain.
Kondisi ini saya rasakan sungguh terjadi hanya karena saya bersama para Bruder bersedia hadir dalam setiap peristiwa hidup kami dan saling menerima tanpa syarat. Kegiatan-kegiatan dari yang paling kecil dan sederhana sampai dengan kegiatan besar dan istimewa selalu dijalankan bersama. Belanja bersama, makan dari dapur dan periuk yang sama, rekreasi bersama, berdoa bersama, sharing pengalaman dan pendalaman iman bersama, pertemuan komunitas bersama dan perayaan ekaristi bersama merupakan bagian dari kegiatan-kegiatan yang memupuk persaudaraan di antara para Bruder, termasuk saya.
Kegiatan-kegiatan bersama di atas bisa saja dianggap sepele dan sederhana. Namun, demikianlah bahwa membangun persaudaraan yang sejatipun seharus tidaklah terlalu rumit dan berbelit-belit. Asal saja, orang bersedia hadir dalam kebersamaan dengan yang lain dan mau menerima orang lain tanpa syarat. Saya yakin, semangat ini juga yang antara lain menjadi resep bagi para Bruder untuk bertahan sampai usia 90 tahun ini. Selamat untuk para bruder! Semoga jiwa persaudaraan yang diretas dalam aneka kegiatan bersama, sekalipun kecil dan sederhana tetap terpelihara dalam kongregasi ini seturut kehendak Tuhan dan nasehat serta teladan Mgr Louis Rutten dan Br Bernardus Hoecken.
PROFESIAT! HUT 90 Tahun FIC semoga memberkati.
Rm. Servasius Samuel, Pr - Keuskupan Pangkalpinang
Tinggal di komunitas FIC “Don Bosco” Semarang