Oleh Br. Wensislaus Parut
Hari Jum’at malam seperti biasa saya menemani anak-anak dalam sharing kelompok untuk persiapan pleno RPK (Remaja Pecinta Kristus). Malam itu saya masih diliputi oleh suasana bahagia ulang tahunku yang ke 27, tepatnya pada tanggal 4 April 2008
Sharing kelompok malam itu tidak seperti biasanya. Anak-anak tampak tidak tenang, mondar-mandir sepertinya ingin cepat selesai. Saya merasa ada sesuatu yang aneh. Spontan suaraku menggelegar menegur mereka supaya diam dan tenang dalam kelompoknya masing-masing.
Waktunya sharing selesai. Saya mengumpulkan buku hasil sharing mereka. Tiba-tiba ada seorang anak datang menghampir dan mengajakku berbicara, pembawaan orangnya lugu, sopan dan polos. Dengan sedikit terbata-bata ia membisikkan sesuatu di telingaku. Haaah..! Tak disangka, ternyata ia melaporkan kedua temannya yang sedang bertikai di area kamar mandi, di belakang aula sekolah. Rasanya “ Bagai disambar petir” saya langsung meninggalkan buku dan berlari menuju lokasi kejadian. Rasa jengkel, marah mulai menyelimuti.
Sampai di lokasi, aku melihat dua anak sedang adu mulut. Seorang anak bertubuh besar mencoba menengahi, sebut saja Bento. Ia memang anak cukup berpengaruh di kelompok itu. Seluruh teman dalam angkatannya sangat percaya kepada kemampuan Bento dalam menyelesaikan persoalan, terutama yang menyangkut masalah kebersamaan. Bento mencoba meredam suasana, namun tak di gubrisnya, keributan makin jadi! Masing-masing memasang kuda-kuda untuk menjatuhkan lawan. Mereka saling dorong, saling sambar dan ancang-ancang untuk mementaskan laga “ yang menang jagoannya” teriaknya. Dalam keadaan ricuh Bento datang mendekatiku dan melonjorkan kepalanya ke telingaku sembari berbisik, “der…masalah kedua anak ini sudah cukup lama, bak gunung es di bawah laut. syukur Bruder datang, mungkin bisa menenangkan dan menyelesaikan persoalan ini der ”. Begitulah sepenggal kata Bento dan saya pun mengiyakan bisikan Bento. Kemudian saya mendekati kedua anak itu dan menepis kedua tangannya.
Kulihat Bento beranjak mengunci pintu di sebelah Timur dan Barat kamar mandi dengan harapan masalah ini diselesaikan. Saya mengajak kedua anak itu untuk menyelesaikan persoalannya dengan baik. Saya mengajak mereka berdialog. Selang berapa lama tiba-tiba datanglah segerombolan masa (teman-teman seangkatan) berteriak-teriak liar sambil menggedor-ngedor pintu bagian Barat. Suasana makin kacau, tak tahan rasanya maka dengan cepat kuambil pedal sepeda dan kulemparkan ke pintu bagian Barat D’BRAAAK!!. Mereka pun lari menuju pintu Timur sambil berteriak-teriak memojokan salah satu teman. Masa melontarkan caci maki kepada salah seorang anak sambil mendobrak-dobrak pintu. Mereka berusaha untuk menerobos masuk tempat kejadian.
Suasana tak bisa dikendalikan lagi, terbesit di pikiran untuk meminta bantuan bruder kepala asrama ( Br. Agus ). Namun tak mungkin, apalagi waktu itu saya belum menggunakan HP. Meminta bantuan anak untuk mencari bruder yang lain juga tak mungkin, karena semua anak diliputi emosi marah. Dalam kebingungan kututup kedua telinga dengan tangan. Suara bising...Saya sudah tak berdaya apa-apa “Apa yang akan terjadi, terjadilah!! gumanku.
Sungguh di luar dugaan, ketika perasaanku dalam keadaan kalut dan marah, tiba-tiba sekelompok bocah datang dari arah timur membawa kue ulang tahun dihiasi lilin merah sambil menyanyikan “Happy Birth Day to you”. Bento datang memeluk dan mengulurkan tangan “Happy Birthday Bruder”. Saya kaget bercampur haru, tiba-tiba badanku lemas, ku hanaya bisa diam termangu.
Semua anak-anak bersorak senang sambil bertepuk tangan karena berhasil membohongiku. Koordinator angkatan memerintahkan untuk melingkar dan mengucapkan doa syukur atas ulang tahunku yang ke 27. Sang koordinator menyerahkan secarik kain putih berukuran 1 meter persegi yang sudah dipenuhi tanda tangan 90 anak. di bagian tengah atas tertulis “Happy Birthday Bruder semoga panjang umur dan tetap sabar “.
Itulah sekelumit peristiwa yang mengesan bagi saya selama menjalankan tugas menemani anak asrama putra Van Lith. Pengalaman yang menjengkelkan, lucu dan membuat terharu. Di mata saya, anak Van Lith luar biasa dan sangat cerdas. Saya kagum dengan skenario yang dibuat. Awalnya saya merasa jengkel karena telah membuat saya marah, kesal, namun saya sadar bahwa inilah bentuk perhatian dari anak muda terhadap orang tua (pamong).
Saya mengawali karya pendampingan di asrama putra Van Lith pada tahun 2007. Perutusan ini di luar dugaan saya. Sempat terbesit rasa heran dan bertanya “siapakah aku Tuhan?” demikian muncul pertanyaan dalam benak saya waktu itu. Pertanyaan itu muncul mengingat saya tidak memiliki bekal ilmu untuk tugas perutusan ini. Boleh dikata hanya berbekal pengalaman dan pendidikan bruder selama tiga tahun. Namun ini merupakan kepercayaan Kongregasi dan saya tidak mau menyia-nyiakannya. Maka ketaatan adalah sikap yang tepat dan pantas sebagai jawabannya. Saya sadar bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Saya hanya percaya bahwa inilah jalan dan sarana Tuhan untuk membentuk pribadi saya menuju pribadi yang dewasa dalam menjawab panggilan-Nya.
“ Dengan berbagai cara Tuhan menunjukkan kehendak-Nya bagi kita yang penting; peka menangkap kehendak itu “