Pada tanggal 23 – 24 Juli 2011 para bruder yang berkarya di Yayasan Pangudi Luhur mengadakan pertemuan di RR Syalom, Bandungan. Ada 59 bruder yang hadir. Pertemuan ini untuk mengaktualisasikan Konstitusi FIC artikel 26 : Semua bruder dengan cara bagaimana pun terlibat dalam tugas kerasulan kita bersama, dan dalam memenuhi tugas kita, kita perlu mengandalkan dukungan persekutuan. Pilihan jenis kegiatan kerasulan serta bagaimana cara melaksanakannya, memerlukan pertimbangan terus-menerus di dalam persekutuan kita.
Pertemuan ini dimaksudkan untuk menyadari kembali bahwa karya kerasulan YPL adalah karya kita bersama. Unit karya YPL di mana pun berada tanggung jawab kita bersama. Kita diharapkan senantiasa memikirkan karya ini secara keseluruhan, tidak hanya memikirkan unit karya tempat kita bekerja. Keberhasilan dan kegagalan unit karya adalah tanggung jawab kita bersama. Kita dipanggil dan diutus bersama.
Dalam pertemuan week end ini ada ulasan singkat buku Kepangudiluhuran dari Br. Frans Sugi. Br. Theo Suwariyanto menyampaikan serba-serbi dinamika karya Pangudi Luhur. Dalam rangkaian ini ada informasi singkat dari unit PHPL oleh Br. Simon Andrus, unit produksi kayu Muntilan oleh Br. Triharyadi dan unit produksi logam oleh Br. Zakarias Puji Lestariyo. Br. Herman Yosef Kuat menginformasikan data siswa-siswi dari SMP PL yang meneruskan ke SMA PL. Semua informasi itu memberikan inspirasi, dan ajakan untuk kita lebih terlibat menanggung karya bersama. Kita juga mendapat input dari Vikjen Keuskupan Agung Semarang, Rm. Pius Riana Prapdi, tentang Refleksi Kualitas Pendidikan, Pendampingan Kaum Muda dan Kerasulan Prima. Beberapa hal pokok yang disampaikan antara lain bahwa pastoral pendidikan kaum muda sebagai entry point terwujudnya Gereja yang relevan dan signifikan. Kaum muda dapat menghadirkan Kerajaan Allah yang relevan dan signifikan dalam Gereja dan masyarakat.
Lembaga pendidikan Katolik hendaknya sebagai tempat untuk pembinaan kaum muda, sebagai media pewartaan kabar gembira, sebagai suatu komunitas yang hidup, keluarga kedua setelah keluarga di rumah, sebagai sanggar kreatif anak dan penanaman tata nilai kemanusiaan universal. Diharapkan pula melalui lembaga pendidikan Katolik, kaum muda unggul dalam komitmen, inklusif, disiplin, loyal dan utuh, memelihara jiwa, komunikatif, integral, eksploratif dan kreatif, dan menjadi penggerak pembaruan. Lebih berpihak kepada yang miskin sesuai dengan amanat Kristus, berkeadilan sosial, yang berciri khas cinta kasih, menjadi ragi keselamatan dan keluhuran martabat manusia.
Kemudian para bruder juga diajak untuk menyadari aspek hukum di dunia pendidikan dan permasalahan kepegawaian, yang disampaikan oleh Bapak V. Suroto, Dekan Fakultas Hukum Unika Soegijapranata, Semarang. Bapak Suroto, seorang dosen dan advokat itu menjelaskan kategori-kategori hukum, subyek hukum, hak, kewajiban dan tanggung jawab. Perlindungan hukum malpraktik guru, guru sebagai profesional, kualifikasi, kewajiban guru, kekerasan terhadap peserta didik sebagai malpraktik, pertanggungjawaban malpraktik. Hukum untuk Guru Yayasan dalam kaitannya dengan berlakunya undang-undang ketenagakerjaan, kaitannya dengan pemberhentian guru, kode etik guru dan karyawan.
Sebagai kesimpulan penutup, Br. Frans Sugi mengajak para bruder untuk bersyukur bahwa masyarakat masih berminat menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Pangudi Luhur. Walaupun ada beberapa sekolah yang kesulitan mencari murid baru. Kita bersyukur bahwa situasi guru dan karyawan kondusif dan loyal terhadap YPL. Dengan jumlah murid kita yang naik turun, yang secara umum juga dialami oleh lembaga pendidikan Katolik lainnya, perlu menjadi bahan refleksi bagi kita. Sejauh mana mutu pelayanan yang kita berikan kepada peserta didik? Sejauh mana karya pelayanan kita menghadirkan Kerajaan Allah?
Keberadaan jumlah peserta didik sangat erat berkaitan dengan tercukupinya kebutuhan finansial secara keseluruhan. Jumlah peserta didik yang makin kurang akan mempengarui income yang diperlukan untuk memberi subsidi pada unit karya yang membutuhkan dukungan finansial. Maka hal ini menantang kita untuk berusaha mendapatkan murid yang stabil jumlahnya. Dengan demikian sistem sentralisasi pengelolaan keuangan dan prinsip subsidi silang dapat berjalan dengan baik. Hal ini juga menantang kita untuk meningkatkan unit-unit usaha yang masih dapat diupayakan untuk dikelola secara optimal sehingga dapat memperingan finansial yayasan. YPL telah mengusahakan kontrol keuangan secara intensif dengan mengirimkan tim untuk supervisi, namun masih terjadi kebocoran, sehingga perlu menjadikan perhatian kita bersama. Ungkapan “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, mengingatkan kita untuk belajar dan menghargai mereka yang telah berkarya mendahului kita dalam unit karya tertentu. Pada umumnya kita datang di unit karya sudah ada sesuatu yang telah diusahakan oleh bruder yang sebelumnya bertugas di tempat itu. Kita hendaknya menghargai hal-hal yang telah diusahakan oleh para bruder pendahulu. Sebagai orang yang baru datang di unit karya, hendaknya kita tidak dengan mudah merombak dan mengganti sesuatu tanpa meminta pertimbangan lebih dahulu kepada berbagai pihak. Meskipun demikian kita tetap perlu kreatif, inisiatif, inovatif untuk pengembangan karya kita. Sikap hati-hati dan rendah hati dalam melayani peserta didik, orang tua murid, mitra kerja kita sangat diperlukan dalam era masyarakat semakin melek hukum sekarang ini.
Kaum muda yang kita jumpai dewasa ini adalah kaum muda yang mudah goyah daya juangnya. Pengaruh perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi yang demikian pesat, kaum muda menjadi cemas akan masa depan, takut menhadapi persoalan hidup. Mereka kurang berakar pada nilai keutamaan manusiawi dan rohani. Idialisme kita adalah membantu peserta didik agar memahami, mendalami dan menghayati nilai-nilai keutamaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mampu melihat kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama dan lingkungannya. Kita berharap mereka mempunyai kepedulian sosial yang tinggi dalam hidup bermasyarakat.