Jumat, 03 September 2010  - 3 User Online  



200th Anniversary of Mgr. Louis Rutten
Majalah Komunikasi FIC
Pertenunan Santa Maria Boro
Blog milik Der Wahyu
YPL Jakarta
Blog milik Der Wahyu
Blognya Agus parno
Asrama Sint Louis
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
Bruder Muda FIC
The 21st Century Learning


02.05.2004 07:56:00 35730x dibaca
PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN
Oleh Br. Theo Riyanto, FIC

Pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi). Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain.

Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya). Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bahwa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”

Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi, manusia makin bersikap individualis. Mereka “gandrung teknologi”, asyik dan terpesona dengan penemuan-penemuan/barang-barang baru dalam bidang iptek yang serba canggih, sehingga cenderung melupakan kesejahteraan dirinya sendiri sebagai pribadi manusia dan semakin melupakan aspek sosialitas dirinya. Oleh karena itu, pendidikan dan pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik.

Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.

Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:”Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.

Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.

Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.

Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Semoga!

Theo Riyanto, FIC




34 KOMENTAR
01.05.2007 18:40:25
Saya terkesan dengan hidup Ki Hajar Dewantara untuk Pendidikan Bangsa Indonesia

BENEDICTA FELICIA P D  http://www.yahoo.com
19.10.2007 00:36:46
Ki Hajar Dewantara dalam pola pendidikan nasional. cukup bagus namun dalam pelaksanaan masih kurang

ADYPRIYANTO  
22.10.2007 01:16:18
saya sedang mencari kurikulum yang tepat utk bangsa indonesia. Kira2 apakah international curiculum sudah tepat? kalau ada ide mohon balas di email saya.kalau bisa cepat.
AYU N R  
15.11.2007 04:16:49
Seberapa dalam kita mempelajari sistem pendidikan yang ditawarkan beliau? Seberapa buruk sistem pendidikan yang kita adopsi dari barat??
dan seberapa sering kita mempelajari, mengkaji, dan memikirkan sebuah konsep pendidikan yang paling sesuai dengan Indonesia??
bahkan saya mempertanyakan seberapa sering, banyak, artikel ini di baca.

LUQMAN  
27.02.2008 21:19:42
bagaimana kalau UN ditiadakan,menurut pemikiran saya itu kurang efektif
ARIE NURDIANSYAH  
25.03.2008 03:39:48
terima kasih atas artikel ini..!!!!!
karena telah dapat membantu saya dalam membuat rubrik profil untuk mading kelompok saya yang akan dikompetisikan untuk tngkat provinsi..
ekali lagi terima kasih dan doakan agar kami dapat meraih juara #1 tentunya..!!=)

AULIA  
27.03.2008 03:54:13
menurut saya jika kemajuan teknologi diselaraskan/digabungkan dengan pemikiran ki hajar dewantara maka pendidikan akan berjalan cukup bagus
NEEYA  
09.04.2008 04:31:27
saya berharap bangsa indonesia sekarang terlahir kembali setelah membaca artikel ini.Mari kita menjadi kihajar dewantara yang baru yang selain berpikir untuk memajukan pendidikan di indonesia tapi juga merealisasikannya secara nyata.

RIRIS  
02.05.2008 10:00:06
Terima kasih telah menyusun artikel ini. karena sebagai generasi muda, saya merasa pendidikan terlalu mengutamakan pada teori. hal ini menciptakan manusia robot tanpa perasaan,dan kurang moralitasnya. Kami mengalami kejenuhan dalam belajar, belajar seharusnya menyenangkan, dan bisa diterapakan dimana saja. mutu pendidikan dapat dinilai dari tingkat perkembangan kepribadian pelajarnya. karena dalam pendidikan, kami juga dididik, selain diajarkan. Pendidikan sekarang menjadi sangat mahal, hanya yang mampu saja. hal Ini telah melenceng dari makna dan tujuan pendidikan itu sendiri.
LIA  
28.08.2008 08:12:02
ahahhahahah makasih ya setidaknya mempermudah untuk nyelesain tugas ku ^0^
ELZ  
05.12.2008 01:26:00
hehehehehehehheheheh, mksih ya tlah mmpermudah tgas2 q
TIYA  
10.03.2009 21:44:41
huhuhu..
ada g ya, ki hajar dewantara milenium..

CANTIK  
02.04.2009 08:09:43
gw rasa ada benernya juga tapi yang namanya manusia memang selalu ingin tahu dan ingin tahu jadi wajar lah ......
yaa yang pasti tori lebih banyak dari pada praktek ^__^

THREELION  http://www.yahoo.com
08.04.2009 09:22:19
Saya bangga terhadap Ki Hajar Dewantara tapi apakah telah di buktikan dalam pendidikan?
RENI  
20.05.2009 00:13:47
setelah membaca artikel di atas, saya pikir memang benar, proses pendidikan kita sudah melenceng jauh dari cita cita KHD.. pendidikan kita sudah carut marut, sarat kepentingan, dan sangat mekanistik dan tidak INDONESIAWI..

saya pikir ada satu model pembelajaran yang bisa menggantikan proses pendidikan kita saat ini.

kami sudah menerapkannya di tempat kami..
Qaryah Thayyibah

di sini kami mengusung kurikulum KBK (Kurikulam Berbasis Kebutuhan)

anak2 di bebaskan untuk berekspresi. tidak ada aturan aturan yang membelenggu. komunitas kami sangat memerdekaan otak. kembali ke KBK kami..

KBK adalah kurikulum yang sangat fleksibel. belajar berbasis pada kebutuhan masing masing.

bagaimana agar yang dipelajari bisa bermanfaat seraca langsung terhadap lingkungan..

komunitas kami bukan jasa persekolahan, melainkan tempat dimana orang2 yang ingin belajar berkumpul.

---------------------
rasih_hilmi@yahoo.com

HILMIY  
27.05.2009 22:35:16
thanks for ki hajar dewantara,tas prjuangan ma pengorbanaanmu mu
UMI   
18.06.2009 23:21:01
inilah tujuan pendidikan yang sebenarnya yaitu menjadikan manusia sebagai mahkluk merdeka bukannya menjadikan manusia sebagai robot atau budak seperti yang terjadi dewasa ini.
ONI  
06.08.2009 07:43:06
Pendidikan Indonesia terlalu kaya teorinya namun miskin dalam praktek. Gimana pendidikan mau bersaing dengan negara- negara asing ?Majulah pendidikan Indonesia.
OFAN  
30.09.2009 05:28:56
thanx ya profilnya bantu aku ngerjain tugas.
masi adkah pendidik seperti ki hajar dewantara saat ini?

NURHAYATUN  
30.09.2009 05:29:07
thanx ya profilnya bantu aku ngerjain tugas.
masi adkah pendidik seperti ki hajar dewantara saat ini?

NURHAYATUN  
25.10.2009 20:23:16
pendidikan memanusiakan manusia akan melahirkan manusia yang sadar akan diri sebagai hamba pengabdi Tuhan, maka damailah dunia bila dihuni para pengabdi Sang Penciptanya.
HARTO  
16.11.2009 00:19:40
Bertanya: Buku apa yang menjelaskan dengan terperinci tentang konsep manajemen peserta didik menurut Ki Hajar Dewantara?
NURY FIRDAUSIA  
14.12.2009 23:08:59
Konsep pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan dan sikap among akan bisa membawa bentuk budaya pendidikan yang baik di negara ini jika ..........
SUWARNO  
02.02.2010 08:05:45
setiap konsep dalam pendidikan itu hampir tidak ada yang tidak ideal; termsuk didalamnya, pendidikan humanis sperti yang ditawarkan dalam artikel diatas, pendidikan kritis yang terus mencari kekeliruan yang dialami pendidikan kemudian mengahadirkan format yang ideal, setidaknya menurut penganutnya..
ada yang menarik dari kondisi pendidikan kita (indonesia), dari tahun ketahun terjadi pergantian kurikulum, mgkn sebagai wujud dari terbaharuinya pengetahuan tentang format pendidikan yang lebih ideal lagi walau masih terkesan trial and error...
akan tetapi, ada satu pertanyaan yang mungkin tidak membutuhkan jawaban dari siapa-siapa..;\" taukah kita hakikat masalah yang di hadapi oleh dunia pendidikan saat ini?..
lagi-lagi katanya; makanya itu!!!

KEZSAKRAL  http://yahoo.com
17.02.2010 09:17:05
nice. jadi inspirasi wa nulis soal pendidikan
YOGA  http://www.blogyoga.wordpress.com
28.02.2010 08:30:07
jd apakah perbedaan pendidikan jaman dulu dan modern.????
TIONO  
21.04.2010 10:09:05
Kenapa kita semakin melupakan falsafah Ki Hajar Dewantara kok ga dipake ya padahal lebih bagus daripada falsafah pendidikan sekarang yang smakin caruk maruk....
DYAH PUTRI ARDINI  
09.05.2010 00:33:01
MAKA a jangan cuma Bicara,, KIta semua Sudah dipaku dengan cara yang halus oLeh, pemerintah sehingga masyarakat tak bisa Berkutik, dan smakin sdikit orang yang enggan Mengungkap, HUb IKPNI, bka aja web a kluarga bsar kami, kmi sngat btuh dukungan untuk bangsa ini,,,
RAKA PRAIPTA  
31.05.2010 23:13:40
saya setuju dengan tulisan Bruder yang terakhir dan sebelumnya yaitu Guru yang efektif .... dst dan Akhirnya....dst
LIA  
12.06.2010 21:45:00
Der,

Kemerdekaan pribadi !!!, bukankah itu juga emrpuakan cita-cita Kristus?

Bila demikian, itu merupakan nilai universal,

Bagaimana dengan nilai nasionalnya ?

salam

AS  http://fe.uajy.net/fs/as
20.06.2010 12:21:09
yang bagaimna kalo begini kalo begitu...
terlalu byk diskusi!

LOLA  
20.06.2010 21:28:38
terima kasih atas infonya! berguna sekali untuk tugas ospek saya :)
IEDO  http://iedoradityo.blogspot.com
23.07.2010 07:25:51
hidup bapak pendidikan
JUAN PERDANA  http://juan.blogspot.com
17.08.2010 22:26:53
Ki Hadjar Dewantara memang bapak kita, yang jauh lebih hebat dari Paolo Freire.
Bila kita maoe meneruskan adjarannja saja jakin sejakin-jakinnja bahwa bangsa Indonesia akan mendjadi Bangsa jang paling hebat di Doenia.

CAHYO  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 10 ms