Br. Paskalis Baylon Puryoko, FIC Menghadap Bapa

Br. Paskalis Baylon Puryoko, FIC Menghadap Bapa

Br. Paskalis Baylon Puryoko, FIC, yang akrab kita panggil Br. Yoko, dalam kesederhanaan hidupnya, dalam karya dan pelayanannya, ia menghadirkan kasih Allah yang nyata, kasih yang tidak banyak diucapkan, tetapi setia diwujudkan dalam tindakan dan pengabdian. Dengan hati yang masih terkejut dan penuh duka, kita menyadari bahwa Br. Yoko dipanggil Tuhan pada Minggu, 26 April 2026, ia menjalani perawatan di RS Elisabeth karena kondisi kesehatan yang menurun akibat diabetes dan gangguan jantung.

Br Yoko dilahirkan di Kudus, 17 Mei 1967, dari pasangan Bapak Paulus Hartono (alm.) dan Ibu Suzana Titik Sugiarti (alm.). Ia adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Ia bertumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai iman, kerja keras, dan kebersamaan, nilai-nilai yang kemudian ia hidupi dengan setia sepanjang hidupnya. Panggilan hidup membiara mulai ia jalani ketika masuk Postulat pada 2 Juli 1995, dilanjutkan dengan Novisiat pada 1 Juli 1996. Dengan kesungguhan hati, ia mengikrarkan profesi pertama pada 2 Juli 1998, dan akhirnya menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan melalui profesi seumur hidup pada 2 Juli 2005 dalam Kongregasi Bruder FIC.

Perjalanan pendidikannya ditempuh dengan tekun: SD Negeri Pegulon I Kendal (1980), SMP Negeri Ngunut Tulungagung (1983), SMA St. Thomas Aquino Tulungagung (1986) jurusan IPA, hingga meraih gelar Sarjana Informatika di Universitas Budi Luhur (2005). Ia juga memperkaya diri dengan berbagai keterampilan melalui kursus mesin perkakas, pengelolaan yayasan, dan sablon, yang semuanya ia gunakan dalam pelayanan.

Br. Yoko dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tekun, dan setia dalam tugas. Ia pernah mengajar olahraga, mengajar agama, teknik komputer, serta keterampilan praktis seperti sablon dan peternakan. Semua itu ia gunakan sebagai sarana untuk melayani, bukan untuk dirinya sendiri. Dalam Kongregasi FIC, ia menjalani berbagai perutusan dengan setia.

Dalam setiap tugasnya, ia tidak pernah mencari perhatian. Ia menjalani setiap perutusan tanpa memilih-milih, menerima apa pun yang dipercayakan kepadanya dengan hati terbuka. Semua dijalani dengan setia, sesuai dengan kemampuan yang ia miliki, dan dipikul dengan tanggung jawab yang tulus. Ia menghidupi sabda Tuhan bukan melalui kata-kata besar, melainkan melalui kesetiaan dalam hal-hal kecil yang dikerjakan dengan penuh cinta.

Selama berada di Wisma Bernardus, tampak pula sisi kemanusiaannya yang hangat dan sederhana. Br. Yoko dengan setia mengantar Br. Niko untuk berenang, dan sepulangnya, ia kerap mengajak mampir sejenak di warung, menikmati makanan sederhana sebagai ungkapan kebersamaan dan kegembiraan kecil dalam hidup sehari-hari. Dalam hal-hal sederhana itulah, ia menghadirkan kehangatan persaudaraan.

Hidup Br. Yoko mengajarkan kita bahwa mewartakan kasih Allah bukan terutama melalui kata-kata, tetapi melalui hidup yang setia, sederhana, dan tulus. Ia telah menjalani panggilannya dengan penuh kesetiaan, ia telah menyelesaikan perjalanannya, dan kini ia kembali kepada Allah yang adalah Kasih.

Selamat jalan, Br. Yoko, terima kasih atas kesetiaan dan pengabdianmu. Beristirahatlah dalam damai Tuhan, doakan kami yang masih berziarah ini.