Utusan dalam Kerasulan
Sebagai pribadi dan dalam persekutuan, kita terlibat dalam karya perutusan Gereja. Karya perutusan ini berakar pada Sabda Tuhan Yesus, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Lukas 7:22). Mgr. Ludovicus Rutten dan Br. Bernardus mendapatkan inspirasi ilahi yang kemudian sangat memperkaya Gereja, melalui berbagai macam karya kerasulan dan karisma khusus kongregasi kita, pendidikan dan pendampingan kaum muda.
Kita dipanggil dan diutus bersama untuk ikut serta dalam karya Yesus. (Konst. Art.15) Karya kita menjadi karya kerasulan jika kita sungguh menyadari dan mengalami bahwa kita adalah utusan. Kita utusan Yesus untuk berkeliling sambil berbuat baik. Kita diutus untuk memberikan kesaksian mengenai Allah yang adalah Kasih. Kita datang untuk melayani, dan bukan untuk dilayani. Kita datang untuk menyelamatkan, membawa amanat cinta kasih yang membebaskan.
Oleh karena itu, pertama-tama pelayanan kita adalah pewartaan iman dan memberikan perhatian istimewa kepada mereka yang juga mendapatkan perhatian istimewa dari Yesus. Kerasulan kita tentu saja lebih daripada kerja semata-mata, lebih kaya dan dalam, walaupun memang membutuhkan profesionalisme tertentu. Karya yang dilaksanakan dengan semangat pengabdian sebagai utusan dan kasih, dapat berubah menjadi kerasulan. Hendaknya kita mengabdikan seluruh diri kita di mana saja dibutuhkan dan dengan cara yang paling sesuai dengan zaman dan lingkungan yang membutuhkan. Dan selalu menyadari bahwa yang harus diwartakan bukan diri sendiri, namun Yesus Kristus. “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba-Mu karena kehendak Yesus”(2 Korintus 4:5).
Pembentukan karakter Yayasan Pangudi Luhur
Apapun kurikulumnya, Yayasan Pangudi Luhur selalu konsisten bahwa pendampingan dan pembinaan karakter peserta didik adalah yang paling utama (termasuk karakter guru dan karyawan). Sejarah membuktikan dan pengalaman menguatkan bahwa mayoritas orang tua memercayakan putra-putri mereka ke sekolah-sekolah Pangudi Luhur pertama-tama karena pendampingan dan pembinaan anak-anak dalam pembentukan karakter. Sebelum kita memulai pendidikan “Kepangudiluhuran” atau yang sekarang dikenal dengan pendidikan “Core-Values”, sekolah-sekolah sudah mengedepankan pendidikan karakter dengan penanaman nilai-nilai kristiani dan luhur. Pangudi Luhur berarti mengupayakan dan menanamkan hal-hal atau nilai-nilai luhur.
Pendidikan kristianitas dan penanaman nilai-nilai kristiani, nilai-nilai luhur sesuai dengan visi-misi Yayasan Pangudi Luhur dan visi-misi sekolah (termasuk nilai-nilai dari santo dan santa pelindung sekolah) terus-menerus diupayakan dan dijalankan secara konsisten. Kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler dengan segala bentuknya banyak yang diupayakan untuk menunjang pembentukan karakter peserta didik. Pramuka dan Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar/Lanjut (LKTD/L), rekoleksi dan retret menjadi kegiatan-kegiatan favorit yang dilaksanakan untuk pembentukan karakter di sekolah-sekolah Pangudi Luhur.
Sejak beberapa tahun lalu Yayasan Pangudi Luhur menerapkan pendidikan kepangudiluhuran atau yang sekarang dikenal sebagai pendidikan “Core-Values” Pangudi Luhur. Hal ini jelas sekali hendak membentuk karakter para murid (termasuk guru dan karyawan) yang menjadi ciri khas pendidikan di sekolah-sekolah Pangudi Luhur. Selain itu dan hal ini penting, sekolah-sekolah Pangudi Luhur sungguh diwarnai dengan suasana persaudaraan, kedisiplinan, kasih, kepekaan sosial, dan kegiatan-kegiatan yang berpusat pada Kristus.
Pendidikan Holistik
Pendidikan Holistik menjadi salah prinsip dalam pendidikan di Yayasan Pangudi Luhur. Karena tujuan pendidikan adalah mememanusiakan manusia muda, membantu menemukan potensi-potensi diri dan mengembangkan seoptimal mungkin, maka satu-satunya pendekatan pendidikan yang harus dilaksanakan adalah pendidikan holistik. Pendidikan holistik adalah pendekatan pendidikan menyeluruh yang bertujuan mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara seimbang, meliputi aspek intelektual, emosional, fisik, sosial, kreatif, dan spiritual. Pendekatan ini berfokus pada “pembelajaran utuh’ untuk membentuk karakter dan manusia seimbang, bukan sekedar akademik.
Semangat pendidikan di Yayasan Pangudi Luhur adalah “tidak hanya transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan tetapi transfer nilai-nilai kehidupan”. Tidak hanya mengembangkan “hard-skill” tetapi “soft-skill” juga. Bahkan sekolah-sekolah Pangudi Luhur sangat memperhatikan perkembangan iman kristiani dan juga semangat moderasi keberagamaan secara konsisten (untuk sekolah-sekolah yang mayoritas peserta didik non-kristiani dan yang lingkungannya non-kristiani). Pelajaran calon baptis, calon penerima komuni pertama dan pelajaran calon penerima krisma, dilaksanakan di banyak sekolah Pangudi Luhur.
Semangat FIC Meresapi Karya
Semangat FIC sungguh meresapi karya pendidikan di Pangudi Luhur. Hal ini terwujud dalam pendidikan nilai-nilai inti Pangudi Luhur dan juga 4 nilai tata kelola Yayasan Pangudi Luhur. Nilai-nilai itu antara lain adalah Kasih, Persaudaraan, Pemihakan kepada mereka yang berkekurangan dan Profesionalitas. Sesanti “Allah adalah Kasih, mari kita wartakan kasih Allah” telah menjadi kebiasaan bagi warga Yayasan Pangudi Luhur untuk diucapkan dalam doa dan juga dalam pertemuan-pertemuan. Di dalam retret sesanti ini juga diperdalam bersama, sehingga tidak sekedar menjadi sesanti tetapi menemukan isinya yang menginspirasi untuk menghayatinya dalam hidup dan karya sehari-hari.
Semangat FIC yang antara lain ditandai oleh persaudaraan sejati, kasih, berpusat pada Kristus, berpihak kepada mereka yang berkekurangan, semangat pelayanan (totalitas dan dedikasi), sungguh telah meresap di antara para guru dan karyawan. Mayoritas guru dan karyawan sungguh terlibat dan ikut menjadi “pemilik” karya kerasulan FIC. Sesanti “mendidik dengan hati dan mengajar dengan cinta, melayani dengan hati dan bekerja dengan cinta” dikobarkan agar semangat totalitas dalam berkarya sungguh semakin menjadi perwujudan “panggilan” guru dan karyawan, yang akhirnya pekerjaan mereka menjadi kerasulan dengan profesionalitas yang memadai. Mereka sungguh menjadi mitra karya, bukan “pegawainya” Yayasan Pangudi Luhur.
Keterlibatan awam dalam karya Bruder FIC
Karya kita khususnya di Yayasan Pangudi Luhur, sudah sejak awal melibatkan awam. Tanpa peran dan keterlibatan awam, kita tidak dapat secara optimal melaksanakan karya. Guru dan karyawan kita, sebagian besar adalah awam. Dari tahun ke tahun keterlibatan mereka semakin merambah dalam bidang kepemimpinan atau pembinaan-pembinaan yang sebelumnya masih didominasi oleh para bruder. Pada umumnya mereka melibatkan diri dan berkarya dengan penuh pelayanan dan totalitas. Kita bangga dan patut bersyukur kepada mereka. Wajah Yayasan Pangudi Luhur bagaimanapun juga dibentuk oleh keterlibatan dan peran rekan-rekan awam.
Pada dekade terakhir, peran dan keterlibatan awam semakin meningkat. Banyak kepala sekolah awam, banyak supervisor guru dan karyawan awam, banyak anggota-anggota tim pengembang dan tim-tim yang lain di lingkungan Yayasan Pangudi Luhur adalah awam. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan awam dalam karya para Bruder FIC khususnya di Yayasan Pangudi Luhur semakin meningkat dan mengambil peran yang penting. Hal ini menuntut upaya terus-menerus agar awam sungguh-sungguh memahami dan menghayati semangat FIC dan keterbukaan kita para bruder untuk berkolaborasi dengan mereka dalam melaksanakan karya kerasulan. Keterbukaan tersebut juga menyangkut kerendahhatian untuk tidak memimpin tetapi dipimpin oleh awam. Tugas kita justru lebih bagaimana dapat menjaga api semangat FIC dan kehadiran kita lebih sebagai pendukung (ngemong) rekan awam agar mereka dapat optimal melaksanakan peran mereka dalam koridor visi-misi, nilai-nilai dan semangat FIC.
Br. Theodurus Suwariyanto, FIC
Penulis,
Kepala Kantor Yayasan Pangudi Luhur Perwakilan Semarang
Anggota Tim Spiritualitas Karya Kerasulan FIC
Tinggal di Komunitas St. Josef Pekerja, Candi Semarang
*Artikel pernah dimuat di majalah Komunikasi Edisi II tahun 2026