Berani Melayani, Siap Memimpin

Berani Melayani, Siap Memimpin

Hari itu suasana Wisma Samadi Ungaran terasa beda. Tempat yang biasanya tenang dan hening, tiba-tiba jadi penuh tawa, cerita, dan energi baru. Sekitar 80 Orang Muda Katolik dari berbagai tempat datang, bukan cuma untuk kumpul tapi untuk bertumbuh bareng. Kegiatan ini lahir dari inisiatif Prompang FIC bersama beberapa tarekat suster. Temanya simpel tapi dalam: “Dipanggil untuk Melayani, Dibekali untuk Memimpin.” Bukan sekadar slogan, tapi benar-benar dihidupi sepanjang proses. Yang bikin beda, semuanya terasa dekat. Para suster dan bruder nggak cuma “ngisi acara,” tapi hadir di tengah ngobrol, dengerin, jawab pertanyaan, bahkan ikut games. Suasananya cair, hangat, dan jauh dari kesan kaku. Ada satu momen kecil tapi kena banget: tukar kado di malam hari. Sederhana, tapi penuh makna tentang memberi, menerima, dan saling menghargai. Masuk ke sesi berikutnya, peserta diajak lebih dalam: belajar komunikasi, public speaking, dan mengenal gaya kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Bukan cuma teori langsung praktik. Dibimbing oleh Pak Jatmiko yang komunikatif, peserta diajak berani tampil, mencoba, bahkan keluar dari rasa takut.

Malam hari jadi salah satu highlight. Setelah makan bersama, suasana makin hangat lewat sesi keakraban. Lalu api unggun menyala bukan cuma sebagai simbol, tapi benar-benar terasa jadi titik temu. Di sana ada tawa, nyanyian, tarian, dan mungkin juga doa-doa yang diam-diam dipanjatkan. Malam itu bukan cuma tentang seru-seruan, tapi tentang merasa “pulang” punya komunitas, punya arah. Pagi harinya dimulai dengan jalan santai di udara segar Gedang Anak. Sederhana, tapi cukup untuk recharge energi. Lalu lanjut ke sesi praktik. Di sini, semua yang sudah dipelajari diuji. Satu per satu maju, berbicara, memimpin, mencoba. Nggak sempurna, tapi berani. Dan itu yang paling penting.

Semua akhirnya ditutup dengan Ekaristi momen hening yang merangkum semuanya. Dari tawa, proses, sampai harapan. Dilanjutkan makan siang bersama, lalu perpisahan yang terasa cepat banget. Tapi mungkin, ini bukan akhir. Justru awal. Karena dari Wisma Samadi, setiap yang pulang nggak cuma bawa kenangan—tapi juga keberanian baru. Bahwa jadi orang muda itu bukan cuma soal mencari arah, tapi juga berani melangkah. Dipanggil, dibentuk, dan diutus… untuk jadi terang, di mana pun berada.

*Artikel pernah dimuat di Majalah Komunikasi Bruder FIC