Dipanggil dan Diutus Bersama

Dipanggil dan Diutus Bersama

(Refleksi bagi para bruder)

Para bruder terkasih, Ada sesuatu yang sangat indah dalam panggilan hidup kita sebagai bruder: Tuhan tidak hanya memanggil kita kepada suatu tugas, tetapi kepada suatu persekutuan. Kita dipanggil untuk mengikuti Kristus, tetapi kita mengikuti Nya bersama sesama bruder. Kita melayani Kerajaan Allah, tetapi kita melayani sebagai bagian dari suatu tubuh. Kita menerima suatu tugas pribadi, tetapi tugas itu selalu mempunyai hubungan dengan perutusan bersama.

Kita diingatkan bahwa Yesus “datang untuk melayani”, “datang untuk menyelamatkan”, dan "membawa amanat yang membebaskan Kerajaan Allah dan cinta kasih ”. Maka pertanyaan bagi kita bukan pertama-tama  “Apa yang dapat saya kerjakan?” Melainkan: “Bagaimana (melalui apa yang saya kerjakan) saya ikut mengambil bagian dalam perutusan Kristus bersama komunitas?” Ini merupakan pergeseran kecil tetapi sangat penting. Sebab kita dapat saja melakukan banyak hal, tetapi tanpa sungguh-sungguh merasa sebagai bagian dari komunitas. Kita dapat bekerja dengan baik, tetapi hati kita tetap berjalan sendiri. Kita dapat menyelesaikan tugas, tetapi tidak lagi merasakan kegembiraan ataupun beban saudara. Padahal, Santo Paulus mengatakan: “Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh; ada bermacam-macam pelayanan, tetapi satu Tuhan.” Karunia kita memang berbeda. Ada yang kuat dalam mengajar. Ada yang tekun dalam pelayanan praktis. Ada yang peka terhadap kebutuhan orang lain. Ada yang mampu mengorganisasi. Ada yang memiliki kemampuan mendengarkan. Ada yang bekerja dalam keheningan tanpa banyak diketahui orang. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Yang penting adalah: semua melakukan sesuatu demi satu Tuhan dan satu perutusan. Karena itu kita tidak perlu merasa lebih penting daripada bruder yang lain. Dan kita juga tidak perlu merasa kurang berharga hanya karena karunia kita berbeda.

Di dalam tubuh Kristus, setiap anggota mempunyai tempat. Tangan tidak dapat mengatakan kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Demikian pula dalam komunitas kita. Kita membutuhkan satu sama lain. Kita bahkan Diingatkan bahwa kita semua tidak sempurna dan karena itu kita saling membutuhkan . Ini mungkin salah satu kebenaran yang paling sederhana sekaligus paling sulit untuk dihayati. Kita senang ketika dapat membantu orang lain. Tetapi terkadang kita sulit menerima bantuan. Kita ingin dianggap kuat, mandiri, dan mampu. Padahal dalam kehidupan persaudaraan, menerima bantuan juga merupakan bentuk kerendahan hati. Demikian pula ketika seorang saudara sedang mengalami kesulitan dalam tugasnya, komunitas dipanggil bukan untuk segera menghakimi, tetapi untuk hadir, memahami, menguatkan dan membantu.

Konstitusi kita mengatakan bahwa persekutuan memberikan bantuan dan perhatian yang nyata, antara lain melalui bela rasa dan pengertian , serta perhatian khusus kepada saudara yang mengalami kesulitan dalam karya mereka. Di sinilah kualitas persaudaraan kita diuji. Komunitas bukan hanya tempat di mana kita tinggal bersama.

Komunitas adalah tempat di mana kita menanggung satu sama lain. Ketika seorang bruder belajar memikul / lemah, kita tidak berkata, “Itu masalahnya.” Kita berkata: “Aku ada bersamamu.” Ketika seorang bruder mengalami kegagalan: “Mari kita mencari jalan bersama.” Ketika seorang bruder berhasil: “Aku bersyukur bersamamu.” Dan ketika seorang bruder menderita: “Penderitaanmu juga menyentuh hatiku.” Bukankah Santo Paulus mengatakan : “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut dihormati.” Mungkin inilah salah satu bentuk kerasulan kita yang paling mendasar: menjadi saudara satu bagi yang lain .

Sebelum kita berbicara tentang apa yang kita lakukan untuk orang lain, kita dipanggil untuk bertanya:  Apakah di dalam komunitas tempat saya berada setiap bruder, sungguh merasa diterima? Apakah ia merasa didengarkan? Apakah ia merasa bahwa ketika menghadapi kesulitan, ia tidak sendirian? Apakah kehadiran saya menjadi kekuatan bagi sesama bruder saya? Sebab semangat kerasulan yang diwariskan para pendiri bukan hanya menggerakkan kita keluar untuk melayani, tetapi juga mengikat kita satu sama lain dalam persekutuan . Kita diutus bersama. Dan karena kita diutus bersama, kita juga dipanggil untuk berjalan bersama.