Kalimat sederhana itu kembali terasa nyata dalam perjalanan hidup saya. Setelah menyelesaikan perutusan di sekolah, mulai 1 Juli 2026 saya mendapat perurusan baru di Timor Leste. Bagi saya, perutusan ini bukan sekadar berpindah tempat tugas, tetapi sebuah undangan untuk kembali belajar: belajar meninggalkan kenyamanan, belajar menjadi saudara di tempat yang baru, belajar memahami budaya yang berbeda, dan terutama belajar semakin percaya pada penyelenggaraan Tuhan.
Jujur, Timor Leste bukanlah tempat yang pernah saya bayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Bahkan, saya belum pernah mengalami perjalanan ke luar negeri. Tetapi sebagai seorang Bruder, saya menyadari bahwa panggilan tidak selalu membawa kita ke tempat yang sudah kita kenal. Kadang Tuhan justru membawa kita ke tempat yang sama sekali baru agar kita mengalami bahwa Dia selalu menyertai.
Setelah menyelesaikan berbagai urusan di sekolah, saya mulai mencari waktu yang tepat untuk berangkat. Akhirnya, pada 23 Agustus 2026 pukul 15.30 WIB, saya berangkat dari Bandara Ahmad Yani Semarang menuju Bali. Karena penerbangan ke Timor Leste baru dilanjutkan keesokan harinya, malam itu saya menginap di bandara. Saya tidur di sebuah kursi kayu.
Ada perasaan yang campur aduk: senang, penasaran, tetapi juga sedikit waswas. Maklum, ini adalah pengalaman pertama saya bepergian ke luar negeri. Saya membayangkan banyak hal: bagaimana nanti di bandara internasional, bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana kehidupan di tempat baru, dan apakah saya mampu menyesuaikan diri?
Kekhawatiran itu semakin terasa ketika berada di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Saat proses pemeriksaan dan check-in, petugas imigrasi bertanya tentang tujuan, dan kegiatan saya selama berada di Timor Leste. Saya menjelaskan bahwa saya datang sebagai Bruder yang mendapat perutusan untuk tinggal dan berkarya di sana. Dalam hati saya berdoa, “Tuhan, semoga semuanya lancar.”
Puji Tuhan, pemeriksaan dapat saya lalui dengan baik. Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya tiba saatnya saya naik pesawat Citilink menuju Timor Leste. Penumpangnya cukup banyak. Walaupun sejak awal saya tidak memilih nomor kursi, ternyata Tuhan memberikan kejutan kecil: Saya mendapatkan kursi di dekat jendela. Bagi sebagian orang mungkin hal itu biasa saja. Tetapi bagi saya, kursi dekat jendela menjadi hadiah kecil dalam perjalanan pertama ke negeri yang baru. Dari balik kaca pesawat, saya dapat melihat pemandangan dari atas. Saya menikmati perjalanan sambil membayangkan seperti apa tempat yang akan menjadi rumah saya untuk beberapa waktu ke depan.
Sekitar pukul dua belas siang, saya tiba di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Dili. Setelah melewati pemeriksaan dan mengambil barang bawaan, saya keluar dari terminal. Di situlah saya benar-benar merasa, “Saya sudah sampai di Timor Leste.” Karena para Bruder tidak dapat menjemput, saya meminta bantuan Sr. Yesina, CB. Beliau bukan orang asing bagi saya. Ia pernah bertugas di Paroki Sukoharjo ketika saya masih SMP. Saya masih mengingat beliau. Beberapa waktu sebelumnya, saya berkabar kepada beliau bahwa saya ditugaskan di Timor Leste. Beliau dengan sukacita menjemput saya di bandara. Tuhan kembali menunjukkan kebaikan-Nya melalui seseorang yang sudah saya kenal sejak lama.
Begitu keluar dari bandara, kesan pertama saya cukup mengejutkan. Dili terasa panas dan berdebu. Udara dan suasananya berbeda dengan yang biasa saya rasakan di Indonesia. Namun saya mencoba menikmatinya. Bukankah perutusan memang berarti siap mengalami sesuatu yang berbeda? Kurang lebih setengah jam perjalanan, kami tiba di Komunitas Becora, Dili. Br. Zeca menyambut kedatangan kami. Rasanya lega sekali ketika akhirnya bertemu dengan bruder. Ada perasaan seperti menemukan keluarga di tempat yang baru walaupun di Becora bukan tempat tinggal saya nantinya.
Beberapa hari saya tinggal di Komunitas Becora. Saya kemudian mengurus berbagai keperluan, termasuk surat-surat seperti visa dan SIM. Dalam proses itu, Br. Aje banyak membantu, menemani dan mengantar saya ke berbagai tempat. Lagi-lagi saya mengalami bahwa dalam perutusan, Tuhan tidak pernah membiarkan saya berjalan sendirian.
Setelah berbagai urusan selesai, tibalah saatnya saya melanjutkan perjalanan menuju Ainaro, tempat saya akan menjalani perutusan. Dan sekali lagi, Sr. Yesina berbaik hati mengantar saya dengan mobilnya.Saya melihat perjalanan menuju Ainaro bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain. Bagi saya, perjalanan itu seperti sebuah simbol: saya sedang meninggalkan satu tahap kehidupan dan memasuki tahap yang baru.
Perjalanan Dili–Ainaro memakan waktu kurang lebih lima jam. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan terus menanjak. Dibutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Jalanan tidak terlalu ramai. Di beberapa tempat suasananya begitu sepi, tetapi justru di situlah saya menemukan keindahan. Kami melewati bukit-bukit yang ditumbuhi rumput liar. Tidak semuanya tampak seperti pemandangan yang biasa saya lihat dalam foto-foto wisata, tetapi bagi saya semuanya memiliki keindahan tersendiri. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat dan mengambil foto.
Saya memandang bukit-bukit itu sambil berpikir, “Tuhan, ternyata Engkau membawa saya sejauh ini.” Dan akhirnya kami sampai di Ainaro. Ainaro ternyata memiliki suasana yang sangat berbeda dengan Dili. Daerah ini berada di kawasan perbukitan. Udara terasa sejuk, bahkan dingin walupun cuaca panas Airnya pun terasa seperti air es. Setelah merasakan panasnya Dili, udara Ainaro menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menjadi tanda bahwa saya benar-benar memasuki lingkungan yang baru.
Saya bersyukur karena sampai di tempat perutusan dengan selamat. Namun setelah rasa senang karena tiba, saya mulai menyadari bahwa perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai. Perutusan di Ainaro menjadi tantangan baru bagi saya. Bisa jadi, sebagian besar waktu saya akan lebih banyak berada di komunitas. Br. Pemimpin memberi perutusan kepada saya untuk memperkuat kehidupan komunitas, karena selama ini Br. Kuncoro menjalani kehidupan komunitas seorang diri.
Di dalam Kongregasi FIC, kita mengenal semangat bahwa persaudaraan menjadi “ratu” dalam kehidupan kongregasi. Persaudaraan tidak cukup hanya dibicarakan; persaudaraan harus dialami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kehadiran seorang Bruder lain dalam komunitas menjadi penting. Ketika hanya ada satu Bruder, tentu pengalaman hidup bersama sebagai saudara tidak dapat diwujudkan secara penuh. Maka kehadiran saya di Ainaro bukan hanya untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Saya diutus untuk hadir sebagai saudara.
Hari-hari pertama tentu membutuhkan penyesuaian. Ada banyak hal yang berbeda: bahasa, budaya, makanan, kebiasaan, lingkungan, bahkan ritme kehidupan sehari-hari. Saya juga masih perlu belajar bahasa Tetun agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik dan mendukung perutusan di tengah masyarakat. Untuk sementara, karena Br. Kun memiliki tugas di sekolah dan tidak ada Bruder lain yang secara khusus bertugas memasak, saya melakukan apa yang bisa saya lakukan: memasak, membersihkan dan merawat rumah, serta membantu kebutuhan komunitas. Sebenarnya memasak dan merawat rumah bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Tetapi melakukannya di tempat yang baru memberikan pengalaman yang berbeda. Bahan makanan berbeda, suasana berbeda, kebiasaan berbeda. Hal-hal sederhana seperti menyiapkan makanan pun menjadi kesempatan untuk belajar.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa menjadi misionaris tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar dan luar biasa. Kadang menjadi misionaris berarti memasak untuk saudara, membersihkan rumah, menyapa tetangga, belajar bahasa setempat, mendengarkan cerita orang lain, dan hadir dengan tulus.
Perutusan ternyata dapat dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk bertugas di tempat yang jauh. Kalau bukan karena kebaikan Tuhan, siapa sangka saya bisa sampai ke luar negeri? Dari seorang Bruder yang menjalani tugas di sekolah, Tuhan membawa saya melewati perjalanan panjang hingga akhirnya tinggal di Ainaro, Timor Leste.
Saya tidak tahu persis apa yang akan saya alami selama menjalani perutusan ini. Mungkin akan ada kesulitan. Mungkin saya akan merasa kesepian. Mungkin bahasa akan menjadi tantangan. Mungkin ada saatnya saya merindukan Indonesia, keluarga, saudara-saudara komunitas, makanan, dan kebiasaan yang selama ini akrab dengan saya.
Tetapi saya ingin belajar untuk tidak terlalu takut terhadap apa yang belum terjadi. Saya percaya, Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga mengutus. Tuhan yang mengutus adalah Tuhan yang menyertai.
Karena itu, saya ingin menjalani perutusan ini hari demi hari. Tidak perlu terlalu jauh memikirkan apa yang akan terjadi beberapa bulan atau tahun ke depan. Untuk saat ini, saya ingin belajar mengenal Ainaro, belajar bahasa Tetun, mengenal masyarakat, memahami budaya, membangun persaudaraan dengan Br. Kun dan para Bruder lainnya, serta menemukan kehadiran Tuhan dalam setiap pengalaman sederhana.
Perjalanan ini baru saja dimulai. Dari Semarang, Bali, Dili, hingga Ainaro, saya melihat jejak-jejak kebaikan Tuhan melalui begitu banyak orang. Melalui petugas yang memeriksa saya, para Bruder yang menerima saya, Br. Aje yang menemani mengurus keperluan, Br. Zeca yang menyambut kedatangan, Br. Kun yang menjadi saudara di Ainaro, dan terutama Sr. Yesina yang dua kali membantu perjalanan saya.
Semua itu membuat saya semakin yakin bahwa perutusan tidak pernah dijalani seorang diri. Saya datang ke Timor Leste dengan banyak hal yang belum saya ketahui. Tetapi saya datang dengan satu keyakinan: Tuhan sudah lebih dahulu hadir di tempat ini. Semoga saya mampu menyesuaikan diri dengan bahasa, budaya, makanan, lingkungan dan kehidupan masyarakat Timor Leste. Semoga saya tidak hanya datang sebagai orang Indonesia yang tinggal di negeri lain, tetapi sungguh-sungguh mampu menjadi saudara yang hadir, mendengarkan, belajar, melayani, dan berbagi kasih.
Saya percaya bahwa apa pun yang saya alami saat ini merupakan bagian dari kehendak Tuhan dan dalam setiap langkah perjalanan ini, saya ingin terus menggenggam satu doa:
“Tuhan, jika Engkau mengutus aku ke tempat ini, mampukanlah aku untuk setia. Jika aku belum memahami jalan-Mu, ajarlah aku untuk percaya. Dan jika suatu hari aku merasa lelah, ingatkanlah aku bahwa aku tidak pernah berjalan sendirian.”
Semoga Bunda Maria, Bunda yang selalu setia menemani perjalanan panggilan, senantiasa mendoakan dan menyertai saya dalam menjalani perutusan di Ainaro, Timur Leste. Sebuah negeri baru, sebuah rumah baru, sebuah perutusan baru dan sebuah kesempatan baru untuk mengalami betapa baiknya Tuhan.
Welcome Timor Leste.